Majalah Berita Indonesia

Sunday, May 28th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Ekonomi Proses Pemiskinan di Antara Momentum yang Tidak Termanfaatkan
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Proses Pemiskinan di Antara Momentum yang Tidak Termanfaatkan

E-mail Print PDF

“Menunggu merupakan pekerjaan yang paling membosankan”. Peribahasa ini, tampaknya mulai menyeruak dalam pemikiran banyak masyarakat, setelah menyadari apa yang terjadi di Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) selama 2,5 tahun.

Ketidaksabaran masyarakat terhadap proses pemiskinan mulai terlihat seperti pemajangan baliho ini.Masyarakat tidak merasakan peningkatan kesejahteraan yang signifikan, sebagaimana yang dijanjikan Presiden Yudhoyono pada masa kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres) pertengahan 2004 silam.

Bahkan menurut guru besar antropologi sosial Universitas Indonesia Achmad Fedyani Saifuddin, seperti dilaporkan Harian Kompas, Senin (9/3), hingga hari ini kemiskinan dan proses pemiskinan terus terjadi, ditandai dengan makin menurunnya kualitas hidup.

Menurutnya, proses pemiskinan yang terus terjadi dalam masyarakat, dapat dilihat dengan kasat mata. Ia menengarai, semakin banyaknya anak-anak yang berkeliaran atau bekerja di jalanan, merupakan salah satu pertanda dari proses pemiskinan yang terus terjadi. Hal itu juga dapat dilihat dari masih tingginya angka putus sekolah, serta semakin banyaknya kendaraan roda dua di jalan, yang biasanya dimiliki penarik ojek.

Semakin Tidak Sabar
Masyarakat pun tampak semakin tidak sabar melihat kondisi perekonomian yang tidak kunjung membaik. Janji-janji pemerintah perbaikan berbagai aspek kehidupan masyarakat, khususnya bidang perekonomian dan kesejahteraan, ternyata masih belum dapat direalisasikan pemerintah.

Aktualisasi ketidaksabaran masyarakat dapat terlihat dari kian seringnya muncul aksi-aksi demontrasi, baik yang bertujuan menentang kebijakan pemerintah maupun sebagai reaksi terhadap ketidakadilan dalam masyarakat. Bahkan di berbagai tempat mulai terlihat kegusaran-kegusaran masyarakat berupa letupan-letupan sosial yang berakhir dengan kekerasan.

Harian Kompas, dalam Tajuk Rencananya, Senin (2/4), juga menengarai unjuk rasa yang hampir merupakan peristiwa sehari-hari, sebagian besar berlatar belakang kesulitan hidup rakyat banyak, seperti kemiskinan dan langkanya lapangan kerja.

Ketidaksabaran masyarakat, harus diakui sebagai fenomena yang tidak terlepas dari janji kampanye Yudhoyono yang sangat pesimis, yang mungkin tanpa disadarinya telah membuat masyarakat mempersepsikannya sebagai Satrio Piningit, yang akan mengubah segala hal dalam waktu singkat.

Tidak mengherankan jika kemudian masyarakat sudah menagih janjinya pada 100 hari pemerintahannya. Kenyataannya, 100 hari, 200 hari, 1 tahun, 2 tahun, hingga 2,5 tahun saat ini, janji masih tetap janji.

Memang benar, “janji adalah utang”. Tidak terkecuali, pepatah lama itu juga berlaku terhadap Presiden Yudhoyono yang berhutang atas janji-janji kampanyenya. Janji itu pula yang membuat masyarakat, tak ubahnya debt collector kartu kredit yang terus menagih pelunasan utang Yudhoyono. Pepatah lain yang menyebut “penagih utang tidak pernah sabar” semakin mendramatisir harapan-harapan masyarakat untuk melihat realisasi janji itu secepat mungkin.

Masih Ada Kesempatan?
Masyarakat tentu masih terus menunggu langkah-langkah pemerintah memperbaiki kinerja perekonomian. Pertanyaannya, masih adakah kesempatan? Dari sisi waktu, masa kerja pemerintah yang separuh periode, masih memberi kesempatan besar untuk memperbaiki kinerja perekonomian nasional. Harapan ini juga didukung dengan kondisi makro ekonomi yang justru berada pada posisi yang sangat baik.

Laju inflasi, walau mengalami sedikit kenaikan, dari 6,26% bulan Januari menjadi 6,30% bulan Februari, namun masih berada pada toleransi ekspektasi. Demikian juga dengan nilai tukar rupiah yang berada pada kisaran Rp 9.100 per dollar AS. Sementara BI Rate masih berkesempatan turun 50 basis poin selama Januari-Maret 2007. Kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) juga tetap berada pada kisaran 1.800. Bahkan, cadangan devisa mengalami peningkatan sebesar 3 miliar dolar AS sejak awal tahun hingga akhir Februari.

Sayangnya, momentum kecemerlangan kinerja makro ekonomi justru tidak termanfaatkan dengan baik. Hal ini terlihat dari kinerja sektor riil yang justru terus terpuruk. Volume ekspor yang menolong pertumbuhan ekonomi 2006 pun diperkirakan tidak lagi memberi keberpihakannya dalam perekonomian 2007. Indikator penurunan ini mulai terlihat dari nilai ekpor Januari 2007 yang menurun dibanding Desember 2006. Demikian juga dengan kinerja investasi, juga belum akan membaik, walaupun UU Penanaman Modal sudah disahkan.

Kesulitan-kesulitan perekonomian 2007 lainnya, juga datang dari sisi politik. Kinerja perpolitikan nasional akan relatif semakin tidak kondusif terhadap perekonomian. Perhatian partai-partai politik, anggota kabinet yang berasal dari partai politik, serta anggota parlemen–baik yang berada di pusat maupun di daerah akan semakin terfokus pada Pemilihan Umum Legislatif maupun Pemilihan Umum Presiden 2009. MH (Berita Indonesia 36)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com