Majalah Berita Indonesia

Sunday, May 28th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Ekonomi Usulan Baru APBN-P 2006
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Usulan Baru APBN-P 2006

E-mail Print PDF

Menkeu Sri Mulyani: Dalam APBN-P akan banyak sekali yang berubahSebagai peristiwa rutin tahunan, sidang ke-15 Consultative Group on Indonesia (CGI) yang berlangsung di Jakarta Rabu (14/6) tetap mendapatkan perhatian penuh dari pers Indonesia. CGI adalah sebuah kelompok pemberi pinjaman kepada Indonesia.

Hasilnya, sebagaimana sudah dikutip hampir oleh semua media massa, CGI sepakat menambahkan hutang kepada    Indonesia selama tahun 2006 ini sebesar 5,4 miliar dollar AS. Dana itu, 3,9 miliar dollar AS akan masuk melalui jalur APBN, sisanya 1,3-1,5 milliar dollar AS non-APBN atau didonasikan langsung ke masyarakat.

Berbeda dengan sidang sebelumnya ketika masih bernama IGGI, dimana pers biasanya kritis terhadap lembaga yang dipimpin oleh Belanda itu, pada sidang CGI kali ini pers terlihat kurang peduli bahwa kesepakatan baru ini tak lebih dari permufakatan bersama untuk semakin menjerumuskan Indonesia ke lembah negeri hutang yang semakin dalam.

Karenanya, tak mengherankan kalau pemerintah melalui Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati baru menyampaikan perubahan asumsi APBN-Perubahan (P) 2006 setelah Indonesia berhasil meminta-minta hutang kepada CGI. Sri memastikan ada banyak perubahan pada asumsi makroekonomi, serta pada besaran penerimaan, belanja, dan pembiayaan pada UU No. 13 Tahun 2005 tentang APBN 2006.

“Dalam  APBN-P akan banyak sekali yang berubah. Nanti akan saya ajukan ke DPR pada bulan Juli 2006,” ini, adalah pernyataan Sri kepada Kompas (10/6), atau beberapa hari sebelum sidang CGI. Sri berbicara tanpa merinci detil apa perubahan dimaksud. Saat itu ia hanya berjanji akan menyampaikan usulan APBN-P 2006 ke DPR pada hari Sabtu, 8 Juli.

Akan tetapi jauh sebelum waktu pemenuhan janji menyampaikan nota perubahan APBN 2006 tiba, beberapa hari usai sidang CGI, atau tepatnya pada hari Rabu (21/6) Sri  sudah berbicara kepada anggota Panitia Anggaran DPR. Di gedung rakyat ini ia membeberkan asumsi makro usulan pemerintah APBN-P 2006, bersama RAPBN 2007.

Sri yang didampingi Gubernur BI Burhanuddin Abdullah, dan Menneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta, saat itu memiliki agenda bertemu DPR untuk membahas laporan dan pengesahan hasil tiga panitia kerja dalam rangka pembahasan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2007.

Revisi Versi CGI
Asumsi makro usulan baru pemerintah adalah, pertumbuhan ekonomi 5,9%, inflasi  8%, SBI tiga bulan 12%, nilai tukar rupiah Rp 9.300/dollar AS, harga minyak per barrel 62 dollar AS, produksi minyak 1 juta barrel/hari, dan defisit 1,4% dari PDB atau total Rp 42,4 triliun.
Sebelumnya, dalam APBN 2006 asumsi pertumbuhan ekonomi dipatok 6,2%, inflasi 8%, SBI tiga bulan 9,5%, nilai tukar rupiah Rp 9.000 per satu dollar AS, harga minyak per barrel 57 dollar AS, produksi minyak per tahun  1,05 juta barrel, dan defisit 0,7% dari PDB.

Sri menambahkan, pendapatan negara ikut berubah dari Rp 625,2 triliun (APBN) menjadi Rp 647,4 triliun (APBN-P), serta belanja negara dari Rp 647,7 triliun menjadi Rp 689,8 triliun. Kenaikan pendapatan ini antara lain dipasok oleh meningkatnya pendapatan perpajakan, dari Rp 416 triliun menjadi Rp 423,35 triliun. Pemerintah juga akan menarik pinjaman luar negeri Rp 35,1 triliun, atau setara 3,5 miliar dollar AS (kurs Rp 9.900), terdiri pinjaman program Rp 9,9 triliun dan pinjaman proyek Rp 25,5 triliun.

Jauhi atau Dekati Realitas?
Perubahan pada asumsi makroekonomi berusaha menuju realitas lapangan.
Harga minyak mentah dunia, misalnya, terus saja bergerak naik, dan pada minggu kedua Juni 2006 sudah sampai pada angka 72 dollar AS per barel. Dampak fluktuasi dan tingginya harga energi, serta ketimpangan global masih terasa dan semakin melebar.

Demikian pula dengan suku-bunga Bank Indonesia (SBI), yang diharapkan semakin turun, nyata-nya tetap saja bertengger pada angka 12,50% paling tidak sampai Juni 2006 lalu. Posisi bertahan SBI ini terkait fenomena kenaikan suku bunga di hampir semua negara maju, serta tekanan inflasi di dalam negeri yang belum bisa terkendali sepenuhnya.  Pada bulan Juli 2005 SBI pernah berada di level 8,5%.

Pemerintah mematok harus ada peningkatan pendapatan perpajak-an tahun ini. Padahal untuk me-menuhi target penerimaan pajak dalam APBN 2006 saja dikhawatirkan tak terpenuhi. Pasalnya, beberapa korporasi pembayar pajak yang besar mengalami kemunduran usaha terutama di sektor manufaktur, yang belakangan ini per-tumbuhannya sangat rendah.

Rupiah yang cenderung bergerak di atas Rp 9.900 per satu dollar AS turut mem-berikan tekanan yang kuat terhadap APBN 2006. Nilai tukar rupiah terus berfluktuasi dan belum beranjak dari angka yang sempat anjlok tajam dalam beberapa bulan terakhir. Demikian pula indeks harga saham gabungan (IHSG), terpangkas hingga 20 persen hanya dalam sebulan.

Inflasi tahun 2006 yang semula di-harapkan satu digit nyatanya mencapai 0,36% pada bulan Mei, atau naik 0,05% dibanding bulan sebelumnya April 2006, atau dibanding periode sama Mei tahun 2005 yang hanya 0,21%. Salah satu pemicu kenaikan inflasi adalah peristiwa gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah 27 Mei 2006. HT/AM (Berita Indonesia 17)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com