Majalah Berita Indonesia

Saturday, Apr 29th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Ekonomi Bankir Pelat Merah Tak Usah Takut
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Bankir Pelat Merah Tak Usah Takut

E-mail Print PDF

E. C. W. NeloeSektor perbankan mendominasi pemberitaan rubrik ekonomi di sejumlah media massa selama Mei 2006.

Hal itu dipicu oleh dua hal. Pertama, terkait pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di hadapan para bankir yang sedang berkumpul dalam Kongres XVI Perbanas, di Jakarta. Dan kedua, penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI rate) 25 basis poin menjadi 12,50% yang menimbulkan optimisme menuju ke arah single digit.

Presiden, pada Selasa (9/5/2006) tegas-tegas berpesan agar para bankir membebaskan diri dari intervensi serta tidak mendengarkan pihak-pihak lain yang ingin  mencampuri keputusan yang keluar dari logika bisnis.

Kata Presiden, sebagaimana ditulis Bisnis Indonesia (10/5/2006), pengambilan keputusan dalam bisnis yang diawali dengan penilaian bisnis adalah bagian dari kewajiban profesional bankir. Apabila meleset jangan serta merta dianggap sebagai korupsi yang harus diadili. Presiden juga memastikan tidak semua kredit macet terindikasi korupsi.

Pernyataan bernada pembelaan terhadap sepakterjang para bankir kontan disambut tepuk tangan meriah oleh para praktisi perbankan yang hadir. Sebab, sangat melegakan terutama bagi bankir pelat merah milik pemerintah. Mengingat kasus yang pernah menimpa mantan Dirut Bank Mandiri, E. C. W. neloe. Mereka menilai kredit macet adalah sebuah risiko bisnis yang pasti dialami semua bank.

Dirut Bank Mandiri, Agus Martowardoyo, misalnya, menyebutkan ada beberapa faktor yang menyebabkan sebuah kredit macet. Salah satunya kondisi makro ekonomi yang menyebabkan sektor usaha secara keseluruhan mandek. Akibatnya kemampuan membayar cicilan kredit tersendat.

“Pernyataan Presiden ini melegakan kami dari ketakutan karena generalisasi tindakan  korupsi dalam pencairan kredit. Saya rasa pernyataan ini juga penting untuk memberi kepastian perbankan dalam menjalankan fungsi intermediasinya,” kata Agus kepada Media Indonesia.

Ditanggapi Beragam
Bank Indonesia lima bulan lalu menerapkan suku bunga tinggi 12,75% sebelum akhirnya turun sedikit 25 basis poin. Penurunan ditanggapi beragam oleh sejumlah pihak.
Menteri Perindustrian, Fahmi Idris, menyebut penurunan ini bukan sesuatu yang  luar biasa. Ia mengidealkan suku bunga BI pada kisaran satu digit supaya sektor riil bisa bergairah dan perbankan bisa mengucurkan kredit.

Gottfried Tampubolon“Penurunan ini tidak signifikan sebab bunga perbankan masih tetap tinggi. Idealnya suku bunga cukup satu digit agar sektor riil bisa bergairah kembali,” kata Fahmi, kepada Bisnis Indonesia (11/5/2006).

Sejumlah praktisi perbankan yang dihubungi Investor Daily (11/5/2006) sepakat BI rate masih bisa diselonjorkan turun lagi 2,5-3,5 persen hingga tiba di level ideal 9-10%. Mereka beralasan selisih suku bunga antara bank sentral AS (The Fed) dengan BI rate yang saat ini 7,5%, bisa dikurangi hingga 4-5% tanpa perlu khawatir terjadi pelarian modal.

Para narasumber yang dihubungi, Kepala Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa, Head of Preferred Banking Bank Permata Fendi Susiyanto, Chief Economist Bank International Indonesia (BII) Ferry Latuhilin, Kepala Riset Bank BNI Mangasa Sipahutar, serta Direktur Treasury Bank Lippo Tbk Gottfried Tampubolon.

Mereka memastikan dana-dana asing yang masuk Indonesia tidak lagi sensitif terhadap penurunan suku bunga. Bahkan, komposisi dana-dana asing dalam portofolio investasi di Indonesia sangat bagus banyak yang diarahkan ke instrumen jangka panjang.
Terkait penurunan BI rate Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) mengisyaratkan pula menurunkan suku bunga penjaminan 50 basis poin, menjadi 12%. Suku bunga LPS adalah acuan bagi perbankan dalam menentukan suku bunga simpanan.

Saat ini bunga penjaminan dalam rupiah 12,5%, dalam dollar AS 4,75%. Para bankir papan atas memastikan jika suku bunga penjaminan turun ke level 12%, mereka akan segera me-review suku bunga simpanan maupun kreditnya. Mereka, antara lain Kepala Eksekutif LPS Krisna Wijaya, Direktur Penjaminan dan Manajemen Risiko LPS Firdaus Djaelani, Dirut Bank Lippo Jos Luhukay, Presdir  Bank Mega Yungki Setiawan, Direktur BCA Jahja Setiaatmadja, dan Presdir Bank Niaga Peter B Stok mengungkapkan kepada Investor Daily. Saat ini bunga deposito bank-bank besar berkisar 8-10% sementara bunga kredit berkisar 17-19%. HT/AM (Berita Indonesia 15)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com