Majalah Berita Indonesia

Sunday, May 28th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Ekonomi Keroyokan Membangun Pembangkit Listrik
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Keroyokan Membangun Pembangkit Listrik

E-mail Print PDF

Ancaman Indonesia akan mengalami krisis energi listrik di tahun 2008 karena ketidakmampuan mengimbangi pertumbuhan konsumsi listrik bukan isapan jempol belaka. Bahkan, belakangan inipun pemadaman bergilir sudah terjadi dimana-mana hingga mendekati kawasan pemukiman ring-satu.

Bencana pembangunan pembangkit tenaga listrik harus dikeroyok rame-rame. Wakil Presiden Jusuf Kalla memimpin sendiri rapat percepatan program pembangunan pembangkit tenaga listrik, rencananya sebesar 10.000 megawat (MW) selama tahun 2007-2009. Rapat berlangsung di Kantor Wakil Presiden, Jakarta Senin (11/12). Pembangunan pembangkit tenaga listrik sebesar itu terbagi 6.900 MW untuk kawasan interkoneksi pulau Jawa-Bali, sisanya 3.100 MW di luar pulau Jawa-Bali.

Salah satu hasil rapat adalah, menunjuk BNI sebagai koordinator pendanaan pembangunan proyek pembangkit listrik di luar Jawa-Bali sebesar 3.100 MW senilai 2,5 miliar dollar AS. Koordinasi pendanaan oleh BNI mencakup pula terhadap pendanaan yang dikoordinasikan sendiri oleh PT (Persero) Perusahaan Listrik Negara (PLN).

“Arahan Wapres supaya dikaji kemungkinan menggunakan dana yang dikoordinasikan oleh PLN untuk proyek di luar Jawa-Bali,” ujar Dirut PLN Eddie Widiono. “Jadi, oleh Wapres sudah dibuka wacana agar kalau perlu pembangunan pembangkit ini didanai oleh PLN dengan dukungan dari bank pemerintah,” tulis Media Indonesia (12/12).

Selain BNI, PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) rupanya berminat pula mendanai. Dirut BRI Sofyan Basir sudah mengirimkan surat kepada Eddie, yang menyatakan minat untuk mendanai pembangunan proyek pembangkit listrik berbahan batu bara di luar Jawa-Bali.

“Saya baru buka dan baca surat BRI Senin pagi ini. PLN akan membentuk tim untuk menindaklanjutinya kembali. Untuk mendanai proyek pembangkit ini, PLN menjadi koordinator dalam pendanaan proyek listrik. Memang, untuk mendanai itu BNI telah ditunjuk untuk menopang dananya. Namun, kami terbuka kepada perbankan lainnya,” tutur Eddie kepada Kompas (12/11).

Di tempat yang sama seusai rapat, Ketua Pelaksana Harian Tim Koordinasi Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik, Yogo Pratomo, memberi saran agar dana-dana yang mangkrak di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dimanfaatkan untuk pelaksanaan proyek.

“Dana di SBI itu kan sangat banyak. Kalau dimanfaatkan untuk proyek yang sebesar 2,5 miliar dollar AS itu cukup. Kita memprioritaskan dari dalam negeri,” kata Yogo dikutip Investor Daily.

Mulai Bergerak
Ambisi mewujudkan pembangunan pembangkit tenaga listrik sebesar 10.000 MW mulai digerakkan. Ikut pula dikaji kemungkinan mendirikan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) berkapasitas 1.000 MW, terletak di Semenanjung Tanjung Muria, Jepara, Jawa Tengah kendati ditentang keras oleh aktivis lingkungan hidup Greenpeace.

Khusus pembangunan pembangkit di luar pulau Jawa-Bali, Yogo Pratomo mengatakan pemerintah telah meminta pendanaan bank-bank nasional di dalam negeri seperti Bank Mandiri, BRI dan BNI. “Untuk yang luar Jawa, karena kapasitasnya kecil, sedapat mungkin diupayakan menggunakan pendanaan dalam negeri. Daripada kita pinjam, dengan skala 10 MW, kan sebenarnya kita tidak perlu pinjam uang. Cukup dengan dana mereka. Karena kalau hanya 10 juta dollar AS, itu kan hanya sekitar Rp 100 miliar,” ujar Yogo kepada Kompas (1/12).

Selain mendirikan pembangkit baru, untuk memenuhi kebutuhan energi listrik juga ditempuh cara praktis seperti perluasan pembangkit yang sudah ada, atau penambahan daya pembangkit (repowering) terutama di pulau Jawa-Bali.

Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tanjung Jati B di Jepara, Jawa Tengah misalnya, sudah disepakati penambahan dua unit pembangkit baru. Tanjung Jati B total akan berkapasitas 4x660 MW, dan penambahan ini ditargetkan siap beroperasi tahun 2010.

PLTU Tanjung Jati B diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 14 Oktober lalu. Kesepakatan perluasan dicapai antara PLN dengan Sumitomo Corporation saat Presiden mengadakan kunjungan kenegaraan ke Jepang akhir November lalu.

Direktur SDM PT PLN Djuanda Nugraha Ibrahim kepada Kompas (1/12) menjelaskan, Sumitomo Corporation bersama Japan Bank for International Cooperation (JBIC) mendanai perluasan ini. “Tanjung Jati B akan diperluas menjadi 4x660 MW. PLN menargetkan Januari 2007 sudah bisa negosiasi harga jual listriknya,” kata Djuanda.

PLTU Tanjung Jati B saat ini memiliki kapasitas terpasang 2x660 MW, dengan biaya sewa (leasing) 2,2 sen dollar AS per kWh, dan harga jual listrik mendekati 5 sen dollar AS per kWh. Pengoperasian dan pemeliharaan pembangkit diserahkan PLN kepada pihak ketiga.

Sementara itu sudah disepakati pemenang tender pembangunan pembangkit PLTU 1 Suralaya Banten berkapasitas 625 MW, yakni China National Technical Import & Export Corporation (CNTIC). Demikian pula pembangunan pembangkit PLTU Paiton 2 di Jawa Timur, pemenang tender sudah jatuh ke perusahaan Harbin Power Engineering.

Menurut Chairuddin Matondang Ketua Panitia Lelang PLTU 10.000 MW, CNTIC sebuah perusahaan asing asal China berhasil memenangkan tender pembangunan pembangkit PLTU 1 Suralaya dengan memberikan harga penawaran pembangkitan Rp 378,26 atau 4,124 sen dollar AS per kWh, dengan kemampuan menghasilkan daya kotor (gross output) 625 MW.

CNTIC menang dengan menggandeng China National Machinery Import & Export Corporation (CNMIC), Zhejiang Electric Power Design Institute (Zepdi), PT Waskita Karya dan PT Rekayasa Mandiri. Pada saat pembukaan tender, yang berlangsung November lalu, CNTIC menawarkan harga pembangkitan 473.736.839 dollar AS dengan asumsi kurs Rp 9.125 per dollar AS.

Di PLTU 2 Paiton Harbin Power memenangkan tender dengan memberikan harga pembangkitan Rp 385,76 atau 4,206 sen dollar AS per KWh, dengan gross output daya 660 MW. Harbin Power yang menggandeng PT Mitra Selaras Hutama Energi, saat pembukaan tender mengajukan penawaran pembangkitan sebesar 522.813.849 dollar AS. “Kedua pemenang akan membangun pembangkit dengan pendanaan dari China Exim Bank,” kata Chairuddin Matondang.

Penambahan Daya
Model penambahan daya pembangkit atau repowering direncanakan akan ditempuh tiga pembangkit besar, yaitu PLTGU Muara Tawar, PLTGU Muara Karang, dan di PLTGU Tanjung Priok.
Repowering ketiga pembangkit listrik berbahan bakar gas milik PLN ini dimulai tahun 2007, dan akan menambah pasokan listrik di sistem interkoneksi Jawa-Bali sebesar 900 MW. Repowering dimaksudkan untuk menutupi kekurangan daya listrik mengingat belum ada tambahan pembangkit baru.

Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi, J Purwono menjelaskan repowering sesungguhnya sudah memperoleh pendanaan sebesar 73,9 miliar yen dari JBIC pada tahun 2005. Namun prosesnya tertunda karena ketiadaan pasokan gas.

Repowering pembangkit Muara Tawar ditargetkan selesai 2008-2009, sisanya Tanjung Priok (720 MW) dan Muara Karang (720 MW) selesai 2009-2010. “Kalau repowering tertunda, tahun 2008 Jawa akan terkena krisis listrik sebab tidak ada tambahan pasokan listrik untuk mengimbangi pertumbuhan konsumsi,” kata Purwono. HT (Berita Indonesia 28)


Daftar 10 Pembangkit Baru di Pulau Jawa Total 6.900 MW

1. PLTU Suralaya Ext  1x600 MW      Banten
2.   PLTU Labuan      2x300 MW        Banten
 
3.   PLTU Teluk Naga   3x300 MW  Banten
4.   PLTU Jabar Selatan   3x300 MW
 Jawa Barat
 
5.   PLTU Jabar Utara   3x300 MW   Jawa Barat
6.   PLTU Tanjung Jati Baru   1x600 MW  Jawa Tengah
7.   PLTU Rembang           2x300 MW  Jawa Tengah
8.   PLTU Tanjung Awar-awar   2x300 MW  Jawa Tengah
9.   PLTU Jatim Selatan   2x300 MW  Jawa Timur
10.   PLTU Paiton Baru
  1x600 MW
 Jawa Timur

Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com