Majalah Berita Indonesia

Monday, May 02nd

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Ekonomi Negara Banyak Dirugikan Kontraktor Migas
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Negara Banyak Dirugikan Kontraktor Migas

E-mail Print PDF

Besarnya cost recovery membuat biaya produksi minyak Indonesia tergolong termahal di dunia.Hasil audit BPK menyebutkan lima dari 43 perusahaan kontraktor migas berpotensi merugikan negara Rp 13,3 triliun.  Padahal, cost recovery kendati setiap tahun terus saja naik, kontribusi pendapatan dari migas terhadap  keuangan negara justru menurun. BPK memperkirakan kerugian negara ini akan semakin besar di masa-masa mendatang apabila model kontrak kerjasama migas tak diubah secara total. Karena itu BPK merencanakan BP Migas termasuk  institusi yang turut akan diaudit.

Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) menganggarkan, selama tahun 2007 Pemerintah harus mengeluarkan biaya sebesar 9 miliar dollar AS sebagai biaya pemulihan atas setiap produksi minyak dan gas (migas), yang biasa dikenal sebagai cost recovery.

 

Akan tetapi hasil audit terbaru Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) justru menghasilkan temuan yang mencengangkan. Berdasarkan Surat Ketua BPK Anwar Nasution kepada Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Nomor 69/S/I-XV/08-2006, tentang hasil pemeriksaan atas lifting dan cost recovery kepada lima dari 43 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) selama periode tahun 2004 hingga semester pertama 2005, di situ disebutkan negara berpotensi mengalami kerugian keuangan sebesar 1,473 miliar dollar AS, atau setara Rp 13,3 triliun.

Kelima perusahaan yang berpotensi merugikan keuangan negara itu adalah PT Chevron Pacific Indonesia (CPI), Conoco-Philips-Grissik (COPI-Grissik), PetroChina International Jabung Ltd (PIJL), PT Medco E&P Rimau, dan BOB Pertamina Hulu-PT Bumi Siak Pusako (PSP). BPK masih berencana melakukan audit terhadap sebelas KKKS lainnya, diperkirakan selesai Maret 2007, yaitu Total, Impact, Unocal East Kaltim, Cenoc, Vico, Exxon-Mobile, dan Conoco South Natuna. Dan yang tak kalah penting, BPK juga akan melakukan audit atas BP Migas.

Pemeriksaan dilakukan untuk menilai kewajaran jumlah produksi migas atau lifting, dan biaya-biaya operasional yang dapat dibebankan kepada pemerintah atau cost recovery. BPK memperoleh kesimpulan, sebagaimana dilaporkan harian Kompas (21/10), potensi kerugian negara itu berupa kontrak pertukaran gas antara COPI dan CPI sebesar 5,467 juta dollar AS, dan penyediaan listrik antara BSP dan CPI senilai 20,04 juta dollar AS. Kemudian, kontrak penyediaan listrik antara CPI dan PT Mandau Cipta Tenaga Nusantara (MCTN) sebesar 210 juta dollar AS dan 1,233 miliar dollar AS, serta pertukaran minyak Duri dengan gas antara CPI dan COPI-Grissik senilai 4,22 juta dollar AS.

Biaya Produksi Minyak Termahal
Cost recovery merupakan pengeluaran negara untuk membiayai investasi pengembangan lapangan migas. Bila diperinci cost recovery tahun 2007, untuk minyak diperkirakan mencapai 5,4 miliar dollar AS, dan untuk gas 3,6 miliar dollar AS.

Anwar NasutionSetelah angka ini diamati dari tahun ke tahun terus melonjak tajam. Pada tahun 2004 cost recovery minyak bumi dan gas (migas) masih sangat rendah, hanya 4,99 miliar dollar AS, tetapi tingkat produksinya justru tinggi, menghasilkan hingga 1,096 juta barel perhari.

Memasuki tahun 2005 total cost recovery migas mendadak naik tajam, menjadi 7,53 miliar. Bila diperinci untuk minyak bumi saja mencapai 4,19 miliar dollar AS, atau membengkak 30,8% dari sebelumnya tahun 2004 hanya 2,90 miliar dollar AS. Tetapi pada tahun 2005 jumlah produksi minyak justru turun tajam, menjadi hanya 1,060 juta barel per hari. Pada tahun 2006 cost recovery diperkirakan tetap naik menjadi 8 miliar dollar AS.

Besarnya cost recovery membuat biaya produksi minyak Indonesia tergolong termahal di dunia, untuk tahun 2007 diperkirakan menjadi rata-rata 14,8 dollar AS per barel. Padahal rata-rata biaya produksi minyak negara lain hanya 6 dollar AS per barel. Bersamaan itu, selama 2007 lifting minyak mentah Indonesia tetap saja rendah hanya 1 juta barel per hari, atau total hanya 365 juta barel per tahun.

Tingginya cost recovery pada 43 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Migas menjadi persoalan yang sangat krusial sekali. Selain tak sebanding dengan jumlah produksi minyak dan gas yang terus menurun, kenaikan cost recovery juga tak memberikan tambahan kontribusi yang signifikan terhadap pendapatan kotor dari produksi miyak dan gas.

Pendapatan kotor dari produksi minyak dan gas selama tahun 2007 diperkirakan hanya mencapai 32,9 miliar dolar AS, atau Rp 305 triliun terdiri dari minyak 23 miliar dollar AS dan dari gas 9,9 miliar dollar AS. Selama 2007 penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor migas hanya Rp 147,2 triliun. Demikian pula pendapatan pajak penghasilan (PPh) selama tahun 2007 diperkirakan mencapai Rp 41,2 triliun saja, sudah termasuk didalamnya PPh Migas Pertamina Rp 3,4 triliun.

KKKS yang cost recovery-nya tergolong sangat tinggi terdapat pada joint operation body (JOB) Amerada Hess, berlokasi di lapangan Jambi Merang, Jambi yang mencapai 54,35 dollar AS per barel produksi minyak. Disusul pada JOB Golden Spike di lapangan Raja Pendopo, sebesar 50,47 dollar AS per barel, JOB CIGL di lapangan Gebang 48,77 dollar AS per barel, PetroChina Bangko di lapangan Bangko 46,25 dollar AS per barel, dan Cevron Makassar di Selat Makassar 45,44 dollar AS per barel.

Dianggap Fenomena Global
Kepala BP Migas Kardaya Warnika kepada Bisnis Indonesia (13/6) menjelaskan, cost recovery mengalami pembengkakan karena di dunia termasuk Indonesia terjadi peningkatan biaya dalam kegiatan perminyakan dunia. Tingginya harga migas di dunia mengakibatkan perusahaan minyak berlomba-lomba meningkatkan kegiatan agar dapat menambah produksi, atau mencari sumber cadangan baru.

Kardaya Warnika“Hal itu menyebabkan permintaan akan peralatan, jasa dan tenaga kerja di industri perminyakan meningkat tajam. Sebagai contoh, tarif sewa rig pengeboran lepas pantai mengalami kenaikan lebih dari 300% dalam dua tahun terakhir, dan ongkos pabrikasi naik lebih dari 100%,” urai Kardaya Warnika.

Berdasarkan Undang-Undang No. 22/2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, BP Migas adalah badan yang dibentuk untuk melakukan pengendalian kegiatan usaha hulu di bidang minyak dan gas bumi. Kepala BP Migas diangkat dan diberhentikan oleh Presiden, dalam melaksanakan tugas ia bertanggungjawab langsung kepada Presiden. Kardaya Warnika kelahiran Cirebon 17 Agustus 1952, dilantik menjadi Kepala BP Migas oleh Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro atas nama Presiden RI pada hari Selasa, 12 April 2005.

Auditor Utama BPK, J Widodo H Mumpuni mengatakan, seluruh potensi kerugian negara ini sebenarnya sudah terealisasi. Tetapi pemerintah tak bisa berbuat banyak sebab seluruh klaim cost recovery KKKS dibenarkan dalam kontrak. Sebagai solusi, menurut Widodo, dalam rekomendasinya BPK meminta agar BP Migas mengubah seluruh kontrak dengan KKKS.

“Jika pemerintah tetap menggunakan model kontrak yang sudah digunakan puluhan tahun ini, kerugian negara akan terus berlanjut,” kata Widodo kepada Kompas. HT (Berita Indonesia 25)

Tabel Cost Recovery dan Produksi Minyak


Tahun

Cost Recovery

(miliar dollar AS)

Produksi Minyak
(juta bph)
2004 4,99 1,96
2005 7,53 1,06
2006 8,00 1
2007 9,00 1

Keterangan: Tahun 2006 dan 2007 merupakan perkiraan
Sumber: Bisnis Indonesia, Kamis 28/9


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com