Sebagai induk daerah pemekaran di Wilayah Utara Kaltim, Bulungan berupaya meningkatkan pendidikan. SMU Negeri 1 Tanjungselor memenuhi syarat Sekolah Berstandar Internasional. Target tahun 2012 sudah dimulai.
Wajah Sukirno, S.Pd MAppling begitu bersemangat ketika Berita Indonesia menemuinya di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Tanjungselor, Kabupaten Bulungan Provinsi Kalimantan Timur, belum lama ini. Padahal, Kepala Sekolah ini baru saja menerima tamu, orangtua murid dan guru wali kelas. “Kami selalu membina hubungan yang baik dengan orangtua murid,” jelasnya di tengah kesibukan.
Itulah salah satu cara yang dilakukan SMAN 1 Tanjungselor, yang telah ditetapkan sebagai sekolah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dalam menerapkan sistem pendidikan. Dimulai tahun 2007 sebagai rintisan kategori mandiri, dan pada Desember 2008 sekolah ini mendapat tawaran untuk ditingkatkan menjadi Sekolah Berstandar Internasional (SBI). “Tim dari Jakarta sudah turun melakukan verifikasi, dan sejak Mei 2009 lalu, SMAN 1 Tanjungselor dinyatakan memenuhi syarat,” kata Sukirno kepada SL Pohan dari Berita Indonesia Biro Tarakan.
Sudah barang tentu, para siswa di sekolah ini tidak langsung dihadapkan pada pendidikan bertaraf internasional. “Masih banyak yang harus kita benahi,” ujar Kepala Sekolah yang mengambil Pasca Sarjana (S2) di Australia ini. Jalan menuju sekolah bertaraf internasional masih panjang. Makanya diharapkan bantuan dari semua pihak.
Standar murid maksimal 32 orang per kelas. Tahun ini untuk kelas 10 hanya 6 lokal, sementara kelas 11 dan 12 masing-masing 7 lokal, yang terdiri dari program Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) 2 kelas dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) 5 kelas. “Kami bekerjasama dengan Lembaga Pengembangan Bahasa Australia di Bidang Perhotelan dan Parawisata - Indonesia Australia Language di Bali. Makanya, target kami tahun 2012 diharapkan kelas 10 yang ada sekarang bisa bersaing dengan SMA Internasional,” kata Sukirno.
Bagaimana dengan tenaga pengajar, dan hambatan lainnya? Jumlah guru yang ada sekarang baru 43 orang. Dan salah satu persyaratan untuk menjadi SBI, tenaga pendidik minimal 30 persen S2 (Strata 2), sementara sekolah ini baru memiliki 3 orang S2. Sedang untuk 7 orang guru yang mendapat bantuan dari Pemda Bulungan mengambil S2, mereka sekarang lagi menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi, ada yang di Pulau Jawa, Sulawesi, Samarinda, dan Bali.
Memang, keberadaan SMAN 1 yang berdiri persis di jantung Kota Tanjungselor ini belum ditunjang sarana fisik. Padahal, sebagai persyaratan utama di sekolah Rintisan Bertaraf Internasional (RSBI) tidak boleh double shift artinya sekolah pagi sore. Pemda Bulungan nampaknya kurang memberi perhatian. Ini dilihat dari lambatnya pekerjaan bangunan yang sedang berjalan sekarang. Anak-anak butuh ruang belajar. Untuk lokal SBI minimal 24 lokal tidak termasuk ruang laboratorium, perpustakaan, galeri, taman, dan kantin. “Belajar sore kurang efektif karena guru-guru lebih produktif jika pagi,” keluh beberapa orangtua siswa.
Drs H Masjkur Masa, MM, anggota DPRD Kabupaten Bulungan, bahkan sependapat jika dikatakan Pemda Bulungan kurang memberi perhatian terhadap sekolah tersebut. “APBD Tahun 2009 Bulungan sebesar Rp 1,6 triliun - untuk pendidikan hanya Rp 130 milyar, artinya tidak sampai mencapai 10 persen,” ujar Masjkur. Jadi? “Tidak masuk akal sekolah seperti itu bisa menjadi bertaraf internasional,” kata wakil rakyat pensiunan Kadis Pendidikan Bulungan ini.
Lebih dari itu, menurut Masjkur Massa, yang juga dosen di sebuah perguruan tinggi di Tanjungselor, untuk merampungkan sarana fisiknya saja membutuhkan biaya Rp 50-60 milyar. Masih banyak yang perlu dibenahi. Makanya, sebagai seorang pendidik dan juga sebagai Panggar (Panitia Anggaran) DPRD Bulungan akan mendukung anggaran yang diajukan oleh Disdik. “Silakan buat anggarannya, kita akan mendukung,” ujarnya.
Kendati demikian, Masjkur tidak sependapat adanya tudingan bahwa Pemda Bulungan kurang memberi perhatian kepada pendidikan. “Istilah itu kurang tepat. Buktinya, mulai dari Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) bebas biaya sekolah,” katanya. Ia hanya sependapat, pembangunan gedung SMAN 1 Tanjungselor terlambat.
Tentu, keterlambatan itu ada penyebabnya yang harus dicari. Sebab itu, Ketua Panggar di DPRD Bulungan ini berharap kepada Kepala Dinas Pendidikan yang menggantikannya dapat mengusulkan dalam anggaran yang akan datang. “Harapan saya, sebagai induk daerah pemekaran di Wilayah Utara Kaltim, Bulungan memiliki Sekolah Berstandar Internasional. Sesuai motto Tanjungselor sebagai kota pendidikan,” katanya. SLP (Berita Indonesia 73)
| < Prev | Next > |
|---|



