Majalah Berita Indonesia

Thursday, Apr 27th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Daerah Keberadaan PT Adindo Dipertanyakan
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Keberadaan PT Adindo Dipertanyakan

E-mail Print PDF

Keberadaan PT AHL yang beroperasi di Kabupaten Nunukan mendapat perlawanan dari masyarakat. Mereka meminta perusahaan ini segera angkat kaki. Serta memohon kepada Menteri Kehutanan untuk meninjau ulang ijin perusahaan itu.

Unjuk Rasa: Rombongan masyarakat ketika berdemo ke kantor PT AHL SembakungIbarat makan buah si malakama, dimakan mati ayah, tidak dimakan mati ibu. Itulah yang menimpa Pangasilan, Kepala Adat Sembakung, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur. Lelaki berusia 60 tahun ini, akhirnya memilih menarik diri dari aksi demo yang dilakukan bersama Kepala Adat Sebuku dan Kepala Adat Lumbis dengan ratusan warganya - terhadap PT Adindo Hutani Lestari (AHL) yang selama ini dianggap tidak menghargai keberadaan masyarakat adat.

Mundurnya Kepala Adat Sembakung bersama warganya dari aksi unjuk rasa gabungan, bukan karena ada suatu tekanan. Tapi, atas beberapa pertimbangan terhadap untung rugi melakukan demo. Memang, sebelumnya ketiga Lembaga Adat ini sepakat dalam melakukan demo untuk tidak membawa senjata tajam. Tidak mengonsumsi minuman keras. Tidak melakukan tindakan anarkis atau hal-hal yang melanggar hukum. Serta, aksi demo dilakukan secara damai. “Namun, kenyataanya semua terbalik. Ini, justru akan mencemarkan nama kampung kami,” kata Pengasilan kepada Bambang, dari Berita Indonesia di Malinau.

Memang, dari pantauan media ini, selain warga dari sepuluh desa di Kecamatan Sembakung yang mengundurkan diri, terdapat empat desa dari Kecamatan Sebuku yang menolak ikut berdemo pada aksi unjuk rasa di Base Camp PT AHL di Sembakung yang terus dilakukan sejumlah masyarakat. Apa karena takut? Sebab perusahaan yang bergerak di bidang Hutan Tanaman Industri (HTI) ini mengerahkan pasukan Polisi Brimob. Beberapa tokoh adat Sembakung dan Sebuku yang diminta komentarnya, menolak anggapan itu.

Jadi, apa? Masyarakat nampaknya tidak ingin menyoal keberadaan aparat keamanan yang didatangkan PT AHL. Apalagi untuk tugas-tugas keamanan di dalam perusahaan. Yang jadi persoalan adalah tindakan sejumlah anggota Brimob yang dinilai kasar dan arogan menghadapi masyarakat. Mereka (Brimob, Red) adalah aparat keamanan, tidak hanya milik perusahaan. Mereka juga orang-orang berpendidikan, berbadan sehat, masih muda. “Kenapa, dalam menghadapi warga desa yang rata-rata tidak pernah sekolah, lemah dan kurang gizi, harus menggunakan kekerasan dengan todongan senjata? Apa dengan cara seperti itu kami takut?” kata Petrus, pemuda dari Desa Lubok Buat, Sembakung.

Kendati membenarkan, truk pasukan Brimob telah menabrak portal (palang kayu, Red) yang dipasang masyarakat menutup ruas jalan dari Desa Kunyit Sebuku menuju Lumbis. Namun, terhadap ancaman dengan todongan senjata api dan kekerasan yang dilakukan anggota Brimob, dibantah. “Truk, memang menabrak balok yang dibentangkan di ruas jalan karena pasukan saya harus secepatnya tiba di Desa Mambulu Kecamatan Lumbis. Tapi, soal menodongkan senjata kepada masyarakat, itu tidak benar. Yang benar adalah; anggota saya dilengkapi senjata api. Mungkin, ketika masyarakat berunjuk rasa, berdesak-desakan dengan petugas, boleh jadi moncong senjata anggota menyentuh warga,” terang RRR Parapat, Komandan Pasukan Brimob, kepada wartawan yang naik meliput kejadian itu.

Kekerasan, memang bukan cara yang diinginkan masyarakat untuk mempertahankan hak ulayat mereka. Itu sebabnya, beberapa Lembaga Masyarakat Adat, menarik diri dari unjuk rasa yang semula diikuti seluruh warga desa di tiga kecamatan yang dihuni oleh Dayak Agabak, Murut, dan Berusu ini. Karena, kehadiran perusahaan, dinilai memberi kontribusi kepada penduduk setempat. “Jika terjadi demo, aktivitas perusahaan akan terganggu, akibatnya karyawan pun tidak bisa kerja. Dan, kalau ini terjadi, yang rugi kami juga. Karena, sebagian besar karyawan PT AJL adalah warga kami,” kata Pengasilan, memberi alasan.

Namun, tidak berarti tuntutan masyarakat adat terhadap PT AHL yang memiliki Surat Ijin HTI yang dikeluarkan Departemen Kehutanan Republik Indonesia: SK Menhut No 88/KPTS-II/1996 Tanggal 12 Maret 1996 tersebut, berakhir sampai di situ. “PT AHL harus menghormati hutan adat kami. Tanah, hutan, dan sungai merupakan landasan hidup kami. Perusahaan itu telah merusak ekosistem kawasan hutan tanah ulayat kami dengan mengganti satu jenis tanaman. Tak ada pilihan lain, kecuali mengeluarkan hutan adat kami dari lahan yang dikuasai. Pemerintah, dalam hal ini Menteri Kehutanan RI harus turun tangan, karena merekalah yang memberi ijin,” katanya kepada Berita Indonesia.

Apa tanggapan pihak perusahaan yang telah melakukan kegiatannya sebelum ijin Rencana Kerja Tahunan (RKT) Nomor: 2029/KPTS/DK-V/2007 tanggal 29 Maret 2007 ini diberlakukan? “Batas-batas hak adat secara turun temurun, memang diakui warga. Namun, secara hukum, hak-hak batas tersebut tidak ada, dan tidak sah. Bahkan, mereka juga tidak punya surat kepemilikan tanah di HTI tersebut,” kata Anton Silalahi, Estate Mgr. PT AHL Sembakung.

Sejumlah pemerhati hutan di Wilayah Utara Kaltim, menyayangkan pernyataan pimpinan PT AHL yang tidak berpihak kepada rakyat. Apakah mereka tidak tahu sejarah perusahaan ini, atau sengaja agar bentrok dengan masyarakat. Sebab, untuk mendapatkan ijin eksplorasi hutan atau pemanfaatan sumber daya hutan, sudah tentu mereka pasti tahu.

Seandainya proses itu sudah benar, baik di lapangan maupun dalam administrasi, pasti tidak akan timbul kericuhan-kericuhan dengan masyarakat, mengingat salah satu proses mendapatkan perijinan usaha pemanfaatan hasil hutan adalah AMDAL (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan). “Kalau proses Amdal ini benar dilakukan di lapangan, tidak akan ada konflik,” kata Asran Nasution, Sekretaris LSM Bintang Persada Kaltara yang siap mendampingi masyarakat. SLP,BAM (Berita Indonesia 39)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com