Majalah Berita Indonesia

Sunday, Feb 07th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Daerah Purwakarta Berkarakter
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Purwakarta Berkarakter

E-mail Print PDF

Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, kini dipimpin seorang pemimpin muda usia berkarakter, Dedi Mulyadi, SH. Bupati Dedi yang masih berusia 37 tahun didampingi Dudung Bachdar Supardi sebagai Wakil Bupati, periode 2008-2013.

Pasangan ini memenangkan Pilkada dengan meraih suara terbanyak 155.682 suara (37,54 persen). Sebelumnya, Dedi, dalam usia 32 tahun sudah menjabat Wakil Bupati Purwakarta (2003-2008). Selama lima tahun menjabat Wakil Bupati, ia banyak mengunjungi berbagai pelosok Purwakarta serta mendalami tata kelola pemerintahan daerahnya. Pengalaman selama lima tahun itu telah menginspirasinya menetapkan visi pembangunan Purwakarta Berkarakter.SEHAT: Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi mengajak masyarakat bersepeda. Sosialisasi dilakukan setiap hari Jumat

Visi Purwakarta Berkarakter itu dijabarkannya dalam misi: (1) Mengembangkan pembangunan berbasis religi dan kearifan lokal, yang berorientasi pada keunggulan pendidikan, kesehatan, pertanian, industri, perdagangan dan jasa; (2) Mengembangkan infrastruktur wilayah yang berbasis nilai-nilai kearifan lokal dan berorientasi pada semangat perubahan kompetisi global; (3) Meningkatkan keutuhan lingkungan baik hulu maupun hilir, fisik maupun sosial; dan (4) Mengembangkan struktur pemerintahan yang efektif, yang berorientasi kepada kepuasan pelayanan publik, mengembangkan potensi kewirausahaan birokrasi yang berorientasi kemakmuran rakyat.

Dengan visi dan misi itu, Bupati Dedi Mulyadi, berkeyakinan akan mengantarkan Kabupaten Purwakarta menuju kedigjayaan dengan berbasis kearifan lokal. Untuk mewujudkan keyakinan itu, ia menetapkan kebijakan strategis yang dirumuskannya dalam Sembilan Langkah Menuju Digjaya Purwakarta.

Dalam percakapan dengan Wartawan Berita Indonesia (10/08), Dedi pria kelahiran Subang, 12 April 1971, itu menegaskan prinsipnya selalu mengembangkan sesuatu itu berdasarkan potensi yang dimiliki atau berdasarkan karakter yang dimiliki. Menurutnya, Purwakarta punya beragam karakter. Dari mulai karakter masyarakat industri, karakter sebagai masyarakat pertanian, baik dalam arti sempit maupun dalam arti luas. Termasuk di dalamnya adalah perikanan, perkebunan, kehutanan dan berbagai potensi yang dimiliki.

Termasuk potensi-potensi yang bersifat identitas lokal masyarakat. Misalnya, kemampuan untuk membuat gerabah atau keramik, kemampuan untuk membuat makanan yang punya citra rasa Purwakarta. Kerangka itulah yang ingin ia kembangkan. Karena, menurutnya, tidak ada kekuatan untuk membangun sebuah bangsa kecuali berasal dari kekuatan bangsa itu sendiri. Sementara, kekuatan bangsa ini sebenarnya adalah kekuatan kultur wilayahnya. Kekuatan kultur wilayah yang ditopang oleh kekuatan manusianya.

“Sehingga menurut saya, setiap orang harus terintegrasi dengan potensi di sekitarnya,” jelas Dedi. Walaupun dia menyadari dari sisi idealisme, hal yang dikemukakannya itu sebenarnya sebuah kerangka berpikir jangka panjang yang tidak mungkin dicapai dalam waktu lima tahun. Tetapi, paling tidak, obsesinya adalah meletakkan kerangka dasar yang kuat.

KERAJINAN: Identitas lokal masyarakat PurwakartaDalam kerangka berpikir seperti ini, Dedi Mulyadi, tidak mau terjebak dalam kebiasaan selama ini, ketika memimpin sebuah daerah, kebanyakan ingin membuat yang instan saja dengan berpikir dalam parameter lima tahun atau sepuluh tahun. “Saya tidak. Saya ingin membangun parameter jauh lebih ke depan dengan memanfaatkan waktu yang lima tahun ini membuat fondasi yang kuat tentang Purwakarta. Karena dengan kekuatan itulah kita akan mempunyai daya tahan,” tegasnya.

Lebih jauh Dedi menjelaskan, dalam hidup ini, setiap manusia yang punya integrasi dengan lingkungannya, punya integrasi dengan alamnya, maka dia sangat kebal terhadap penyakit. “Ini yang ada dalam frame berpikir saya tentang pembangunan,” katanya. Jadi, menurutnya, kalau pembangunan bisa mengintegrasikan diri dengan seluruh potensi dirinya maka akan sangat kuat daya tahannya terhadap krisis global.

Dalam kerangka berpikir dan kebijakan strategis seperti itu, Dedi bertekad ingin mengembalikan Purwakarta pada habitatnya, pada karakteristik wilayahnya. Menurutnya, karakteristik wilayah ini yang harus senantiasa dijaga. Jadi pembangunan itu harus berbasis kearifan lokal, berbasis wilayah pedesaan. Menurutnya, memelihara kampung (desa) itu sebenarnya membangun kejayaan bangsa. “Kita hari ini selalu bicara tentang Indonesia, bicara tentang kebangsaan, tetapi kita tidak bicara tentang desa. Sehingga menjadi rapuh. Nah, saya ingin mengembangkan Purwakarta itu berdasarkan potensi dan kearifan lokal itu,” katanya.

Dedi memberi contoh tentang masalah pendidikan yang menjadi salah satu dari sembilan langkah kebijakan yang akan ditempuhnya. Ia ingin memulai dengan membangun sistem pendidikan yang berbasis kearifan lokal. “Sistem pendidikan berbasis kearifan lokal ini diharapkan mampu membangun keunggulan global, karena dengan kearifan lokal itulah keunggulan global itu bisa diwujudkan,” jelasnya.

Ia menyatakan sangat kagum terhadap China yang dalam pergulatan ekonomi, politik dunia dan aspek global yang begitu kuat, mereka muncul dengan integritas dirinya, sehingga China menjadi sebuah negara yang sangat diperhitungkan dengan integritas ke-China-annya. Juga kagum terhadap Iran. Di tengah tekanan dunia internasional yang begitu kuat pada dirinya, dia tumbuh menjadi negara yang mempunyai integritas diri, sehingga menjadi negara yang diperhitungkan.

Walaupun Dedi juga menyadari, tidak selalu mudah untuk menerapkan strategi pembangunan berbasis pedesaan itu. Terkadang idealisme atau kerangka berpikir kebijakan bisa berbanding terbalik dengan realita. Contohnya, ketika jalan-jalan ke desa dibangun hotmix dan aliran listrik masuk, harga tanah di sekitarnya naik, dan rakyat cenderung menjual tanahnya. Sehingga orientasi jalan membangun kekuatan ekonomi rakyat, berbanding terbalik dengan realita. Ketika ada jalan hotmix dan listrik, rakyat sudah tidak punya tanah lagi. Jadi, katanya, pengembangan jalan pedesaan ini, harus diimbangi oleh kesadaran publik, rakyat, terutama soal kepemilikan tanah. Rakyat jangan cepat-cepat menjual tanahnya.

Perihal peningkatan pelayanan kesehatan, selain ia ingin mendekatkan pelayanan dengan membangun Puskesmas di beberapa desa atau wilayah, ia berpikir lebih strategis melakukan pelayanan untuk mencegah orang sakit. “Sehingga dalam prospek kesehatan, ukurannya bukan semakin banyaknya rumah sakit, dan semakin banyak dokter spesialis. Ukuran keberhasilan kesehatan itu adalah semakin kosongnya rumah sakit karena tidak ada orang sakit,” katanya. “Tapi kalau jumlah orang sakit semakin banyak, penyakitnya semakin bertingkat, dokter spesialisnya semakin banyak, kemudian kadar obatnya semakin tinggi. Berarti gagal dunia kesehatan. Makanya menjadi dunia kesakitan,” jelasnya.

Jadi bicara tentang kesehatan, menurutnya, itu bukan bicara tentang Puskesmas atau rumah sakit saja. Rumah sakit itu bengkel, pengobatan. Puskesmas masih ada pencegahan. “Bicara tentang kesehatan adalah bicara tentang sistem pembangunan yang sehat. Dari mulai sistem tata ruang, sistem tata wilayah, sistem pertanian, sistem peternakan, perikanan, perhubungan, kemudian kebinamargaan, keciptakaryaan, pendidikan, semuanya harus melahirkan sistem yang masyarakatnya di situ sehat,” tegasnya.

Menjawab pertanyaan berkaitan dengan programnya berbasis desa, membangun bangsa dari kampung, seperti apa bangsa ini dalam pikirannya? Mantan Ketua Umum HMI Cabang Purwakarta, ini menjawab: “Dalam pikiran saya, bangsa Indonesia itu dalam kebhinekatunggalikaan, dalam keragaman, dalam perbedaan. Kampung-kampung harus tumbuh menjadi kekuatan kampung. Punya integritas kebudayaan, punya integritas ekonomi, punya integritas politik, punya integritas pertahanan. Ini yang saya inginkan.”
Ia sendiri ingin meneropong tentang Purwakarta, tentang Jawa Barat, dalam karakter kesundaannya.

Karena menurutnya, kalau setiap orang mempertahankan lingkup kampungnya maka Indonesia akan kuat. Kampung kita tidak lagi tercabik-cabik. “Dan kalau saya, ingin melihat keanekaragaman itu, perbedaan itu, orang toleran satu sama lain, saling menghormati dan saling menghargai. Kultur itulah yang ada dalam diri saya,” katanya.

Dalam pemahaman Dedi, kebhinekatunggalikaan itu adalah bagian dari sunatullah yang tidak bisa terbantahkan. “Memang kita diciptakan berbeda. Karena kita diciptakan berbeda, maka kita harus menghormati perbedaan itu,” katanya. CRS-BS (Berita Indonesia 62)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com