Majalah Berita Indonesia

Friday, Sep 30th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Daerah Mencari Jejak Dana Bansos Fiktif
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Mencari Jejak Dana Bansos Fiktif

E-mail Print PDF

SyamsudinPenahanan dua orang pejabat Pemkot Batam terkait kasus Bansos yang merugikan negara sekitar 23 miliar periode 2006 -2009, merupakan langkah yang positif untuk menemukan tersangka baru.

Pemko Batam harus bersih dari koruptor, Kajari Batam harus berani menjerat orang-orang yang terlibat dalam kasus ini,tak terkecuali Ahmad Dahlan sebagai Walikota Batam yang merupakan pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah. Ketika ada kesalahan atau penyimpangan dilakukan oknum maka Walikota tetap bertanggung jawab. Untuk mengetahui bersalah atau tidak, Walikota sebaiknya diperika. Dengan adanya pemeriksaan terhadap Walikota dan pejabat lainnya, selain membantu penuntasan kasus Bansos, juga membersihkan nama baiknya sebagai Walikota,” demikian Firdaus, salah seorang pemilik yayasan yang namanya dicatut sebagai penerima Bansos fiktif, mengatakan kepada Berita Indonesia.

Firdaus juga salah seorang yang diundang Walikota bertemu di Hotel Sarifan Pasific Jakarta untuk membicarakan kasus Bansos dan pada saat itu mengaku ditawari uang puluhan juta oleh Walikota agar tidak membeberkan kasus Bansos ke publik. Tentang uang dimaksud, Firdaus mengaku masih utuh di rekeningnya sampai sekarang.

Dikonfirmasi ke Kejaksaan Negeri Batam, kenapa pemeriksaan terhadap Walikota ini terkesan lamban, Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus ) Kejaksaan Negeri Batam, Faried (19/04/2011) mengatakan, penyelidikan dan penyidikan terhadap kepala daerah ataupun wakil kepala daerah dilaksanakan setelah ada persetujuan tertulis dari Presiden atas permintaan penyidik. Tentang permohonan dimaksud, Faried mengatakan Kejari Batam akan segera mengirimkan. “dan kami juga tidak bekerja sendirian pak, selain surat dari Presiden, kami juga masih menunggu hasil audit dari BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan). Kami belum bisa mengatakan berkas lengkap sebelum diterimanya hasil audit dari BPKP,” lanjut Faried.

Mencoba menyelusuri penerima dana Bansos fiktif ini, wartawan Berita Indonesia di Batam, Ridwan Marbun menemui Pemilik Yayasan Mama Syamsury Foundation yang juga pemilik Panti Asuhan Aljabar, Prof Dr.K.H. Syamsudin Msc, DBA di kediamannya di Bengkong Aljabar (27/04). Syamsudin adalah salah seorang yang namanya disebut sebagai penerima dana Bansos fiktif, dimana pada 21 Januari 2009 tercatat telah menerima uang bantuan sebesar Rp10 juta dan tanggal 31 Januari 2009 sebesar Rp5juta.

“Saya merasa sedih waktu itu karena dalam laporan keuangan, saya tercatat sebagai penerima uang itu. Saya bisa pastikan saat itu tidak menerima uang sebab pada tanggal 21 saya berulang tahun dan waktu itu saya ke luar kota. Ketika BPK ( Badan Pemeriksaan Keuangan) melakukan pemeriksaan, secara administrasi tidak ada masalah karena tanda tangan dan stempel sangat mirip dengan yang saya miliki. Namun secara hakiki menjadi masalah sebab saya tidak pernah menerima bantuan itu. Akhirnya saya adukan ke Kejaksaan Negeri Batam,,” kata Syamsudin.

Syamsudin menyebutkan, sebelum dirinya melapor ke kejaksaan, ia sebelumnya lebih dulu menyurati Walikota atas nama panti asuhan untuk menindak bawahannya yang melakukan penyelewengan. Surat yang sama bahkan ia kirim empat kali, tapi sekali pun tidak ada tanggapan. Setelah itulah menurutnya ia akhirnya mengadu.

“Pada saat saya lapor, waktu itu Tatang Sutarna (Kajari saat itu) datang menemui saya. Pak Tatang menanyakan, apakah saya betul tidak menerima bantuan dari Pemko Batam karena bukti kwitansi yang di stempel katanya sama dengan tanda tangan saya. Selanjutnya saya menunjukkan stempel aslinya, setelah dicocokkan kwitansi pencairan itu berbeda. Memang sangat jagolah orang Pemkot ini mulai dari tanda tangan dan stempelnya sangat mirip jika tidak diamati secara hati-hati sulit di bedakan,” kata Syamsudin.

Tidak lama setelah melapor, menurut Syamsudin, pengurus Asosiasi Panti Asuhan (ASPAN) sepakat untuk menggelar unjuk rasa ke kantor Walikota Batam, tapi ternyata rencana itu telah lebih dulu sampai ke telinga Pemkot Batam.

Setelah muncul persoalan itu, menurut Syamsudin, pada hari Kamis 15 april 2010, Walikota Ahmad Dahlan mengundang seluruh panti asuhan yang tergabung dalam ASPAN untuk menggelar pertemuan dengan pengurus ASPAN Kota Batam. Dalam pertemuan itu, Ahmad Dahlan berkali-kali mengucapkan istighfar. Mohon maaf dan berjanji akan membenahi masalah tersebut. “Saya mohon maaf, saya berjanji untuk membenahi masalah-masalah yang terjadi,” kata Syamsudin meniru ucapan Walikota.

Dalam pertemuan itu, Ahmad Dahlan katanya berjanji akan segera mencairkan dana bantuan sebesar 2,5 miliar khusus untuk panti asuhan pada tahun 2010, dan akan disalurkan dengan benar dan berjalan dengan baik. Tetapi syaratnya, ASPAN harus membatalkan rencana unjuk rasa menuntut penuntasan kasus Bansos.

Namun, sejak Januari hingga April 2011, Syamsudin mengaku tidak pernah mendapatkan bantuan lagi. Hal itu pun telah ia tanyakan kepada Walikota melalui sms. Menjawab pertanyaannya, Walikota mengatakan masih dibuat mekanismenya, sementara pencairannya untuk semua kriteria bantuan dan dikonsultasikan dengan Kejari dan Kemendagri. Antara lain, semua bantuan akan ditransfer via rekening.

Menanggapi lamanya penangangan kasus ini, Syamsudin mengatakan penegak hukum terkesan terlalu hati-hati. RID (Berita Indonesia 84)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com