Majalah Berita Indonesia

Friday, Jul 30th

Last update04:15:44 PM GMT

Majalah Berita Indonesia RSS Feed
You are here Edisi Cetak Buku Risalah Takdir

Risalah Takdir

E-mail Print PDF
User Rating: / 0
PoorBest 

Black Swan menggarisbawahi peristiwa dalam konteks “tragedi” bisa diamati dan dapat dikalkulasikanKetika sebuah peristiwa tak lagi cukup…

Ketika peristiwa September Hitam terjadi tujuh tahun silam, tak pelak dunia mengalami perubahan cara pandang. Sesuatu yang di luar takaran logika dunia telah terjadi. Mengingat peristiwa besar itu terjadi di negara adikuasa macam Amerika. Akhirnya dunia menerima kejadian runtuhnya WTC itu sebagai kejadian yang rasional. Lalu Nassim Nicholas Taleb, seorang pialang merumuskannya sebagai salah satu pendukung teori Black Swan - hasil amatannya selama bertahun-tahun.

Buku setebal 479 halaman ini seperti ingin memaparkan bahwa setiap peristiwa, prahara, tragedi, insiden, atau tren yang terjadi di dunia bukanlah semata-mata “takdir”. Taleb sebagai penulis bukunya seperti ingin melempar cara pandangan lain bahwa peristiwa yang “sudah” terjadi bukanlah sesederhana saat kita merasionalisasikannya di kemudian hari.

Salah satu contoh lain yang sempat dijadikan pendukung teorinya itu adalah saat melesunya bursa saham dunia pada tahun 2007. Taleb sempat mencium gelagat melemahnya keuangan dunia dan memprediksi awal kejatuhan finansial global. (Buku aslinya ini terbit pertama kali awal tahun 2007). Lalu bagaimana kita dapat menyangkal bahwa keruntuhan finansial dunia itu terjadi bahkan sampai kwartal pertama tahun ini?

Seperti tragedi runtuhnya WTC yang tadi sempat disinggung, terdapat juga sejumlah “peristiwa” lain yang menjadi acuan bagi Taleb untuk melancarkan teorinya. Misalnya Perang Dunia I, pesona Google di jalur maya, terjangan bencana tsunami, efek Microsoft yang telah membuat Bill Gates yang menjadi orang terkaya di dunia, tenggelamnya kapal Titanic, fenomena novel Harry Potter. Inti dari Black Swan adalah apakah yang terjadi di balik peristiwa-peristiwa besar yang merubah cara pandang dunia itu?

Sebagai seorang Lebanon, Taleb kecil hidup berkarib dengan berbagai pergolakan di tanah kelahirannya. Mulai dari peristiwa kesehariannya di rumah, sampai perang saudara yang menurutnya absurd, dan terutama pergolakan antara Israel-Palestina yang tiada usai. Semua yang terjadi, menurutnya, selalu disertai sebab dan akibat yang tak sesederhana kejadian kasat mata. Menurutnya, sebuah “kejadian” tidak lagi cukup, karena peristiwa satu dan yang lainnya selalu terkait, seperti pola yang sekaligus acak dan membutuhkan daya paham.

Sederhananya, Black Swan bisa disarikan sebagai relativitas dari kesimpulan metode yang akurat. Tanpa mengesampingkan jalan Tuhan, dan semua kejadian diamati secara eksak dalam tataran pragmatis.

Taleb menyebut kalkulasi angka dapat diartikan sebagai gejala Black Swan yang mempunyai “kaidah” seperti tiga hal; peristiwa yang tidak bisa diramal, memberi dampak yang masif dan ketika peristiwa itu telah terjadi, mendorong kita memberi penjelasan bahwa kejadian itu bukan sebuah kebetulan dan lebih bisa diramalkan daripada yang sesungguhnya. Sekilas, seperti ada titik singgung antara gejala Black Swan dan teori relativitas milik Einstein.

Hanya saja Black Swan menggarisbawahi peristiwa dalam konteks “tragedi” bisa diamati dan dapat dikalkulasikan. Black Swan mengajak pembacanya untuk melihat kembali segala peristiwa yang terjadi “di belakang” dan tetap memelihara keseimbangan imajinasi yang mungkin akan terjadi “ke depan”.

Buku bergenre ekonomi-bisnis ini sebenarnya mencampur kaidah filsafat dan perhitungan matematis hitung peluang. Namun Taleb mengemasnya dalam kemasan bahasa yang indah, bahkan seindah prosa liris yang penuh metafora. Kita diajak beranjangsana ke sejumlah peristiwa (fenomenal) dunia tanpa perlu merasa takut berjumpa penjelasan filsafati yang angkuh atau uraian teori matematis yang pelik.

Misalnya, pada penjelasan mengenai fenomena “Kurva Lonceng” yang terjabar pada bab 15 (halaman 310-341) dan Bab 17 (hal 367-385). Taleb memberi saran, “Pembaca yang tidak menyukai matematika (atau pembaca yang intuitif) boleh melompati bab ini…” (hal. 310). Atau “Apabila Anda tidak mempercayai penerapan ilmu lonceng untuk variabel-variabel sosial dan jika, seperti banyak profesional, Anda sudah yakin bahwa teori keuangan “modern” adalah ilmu sampah yang berbahaya. Anda dapat dengan aman melewati bab ini.” (hal. 367).

Taleb yang pialang cum penulis esai sastra menyebabkan buku ini bisa melumatkan banyak hal-hal sulit (dan tentu sangat sistematis). Penjelasannya sering muter-muter dan tidak langsung melandas pada sasaran.

Semisal contoh saat menjelaskan sisi lain kehidupan Giacomo Casanova. Untuk memberikan bukti bahwa Casanova bukanlah manusia super-sempurna, ia menggambarkan fakta asli sang Casanova dengan cara bertele-tele. Tapi cara itu membuktikan sebuah “rasa” bahasa mampu menyembulkan empati dari sisi lain dari sang Casanova. (hal. 136-165).

Buku ini menjadi magnet baru bagi para pialang dan pebisnis praktis. Ide yang Taleb paparkan begitu menjanjikan, dan memicu pembacaan sampai tuntas. Bagi yang ingin bermain-main dengan “takdir”, bukalah buku ini, karena tersedia tempat terindah untuk Anda. Percayalah, buku ini justru mengajak kita mengimani bahwa manusia sejatinya adalah segala sumber kelemahan. Manusia yang tak cukup pandai untuk menarik benang simpul “fenomena”, mana yang berkah dari “bencana”. Gallus (Berita Indonesia 65)

Judul: The Black Swan
Pengarang: Nassim Nicholas Taleb
Penerjemah: Alex Tri KantjonoWidodo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Februari 2009
Tebal: 479 halaman.

Add comment


Security code
Refresh

Berita Utama

utama_5_20.jpg
Dalam pandangan publik, DPR masih stempel karet pemerintah. Mereka jinak, menurut dan tidak banyak mennyalurkan aspirasi rakyat.
utama_13_71.jpg
Setelah gempa Padang 30 September 2009, Indonesia harus bersiap menghadapi bencana-bencana lain yang sedang mengintip ingin

Visi Berita

visi_42.jpg
Terorisme bukan jihad! Teroris bukan pahlawan! Dua kalimat pendek ini perlu dikedepankan untuk meluruskan makna jihad
visi_76.jpg
Capaian besar biasanya berawal dari ‘mimpi’ besar. Tapi untuk meraihnya diperlukan upaya yang kuat dan tidak mudah

Lentera

lentera_2_66.jpg
Al-Zaytun Sumber Inspirasi (4)Syaykh al-Zaytun: Indonesia harus masuk dalam zone of peace and democracy kalau ingin
lentera_1_53.jpg
Kampus Al-Zaytun selalu menempatkan dirinya sebagai bagian dari komunitas global. Hal ini juga terlihat dari semangat
Share/Save/Bookmark