Majalah Berita Indonesia

Friday, Jul 30th

Last update04:15:44 PM GMT

Majalah Berita Indonesia RSS Feed
You are here Edisi Cetak Buku Perempuan Cendrawasih

Perempuan Cendrawasih

E-mail Print PDF
User Rating: / 2
PoorBest 

Judul: Tanah Tabu (Pemenang Pertama Sayembara Novel DKJ 2008),Pengarang: Anindita S. Thayf, Tebal: 237 halaman, Terbitan: GPU, Juni 2009.Kisah tiga perempuan zaman pascakolonial yang menabukan tanah leluhur.

Setelah novel Saman karya Ayu Utami (1997), Sayembara Novel DKJ seperti menempuh jalan sunyi. Saman lahir tepat di zaman melek keterbukaan, reformasi, krisis moneter (krismon) sekaligus krisis multidimensi, dan gelombang terbaru era kesadaran perempuan dalam menulis yang kelak disebut sebagai “sastra wangi”. Setelah itu Saman menjadi fenomena yang sepertinya sulit digeser dari rahim sebuah sayembara mengarang novel DKJ dan sejenisnya.

Entah karena suatu hal, Sayembara Novel DKJ jadi kehilangan gregetnya. Kesepian pembaca mewarnai lahirnya novel peraih juara pertama Sayembara Novel DKJ 2003, Dadaisme karya Dewi Sartika. Novel Hubu karya Masruri yang masuk sebagai pemenang pertama Sayembara Novel DKJ 2007 juga melenggang tanpa sambutan pembaca yang berarti, nyaris tanpa kritisi, seperti menandakan perayaan pembacaan yang sepi dan sekadar rutinitas belaka. Padahal, sayembara mengarang novel DKJ termasuk salah satu momen bersejarah yang kerap melahirkan karya sastra Indonesia bermutu.

Melangkah di tahun 2008, kelahiran Tanah Tabu yang terpilih sebagai satu-satunya pemenang (tidak ada juara 2 dan 3 - Red) dari 244 naskah, menjadi catatan yang perlu digarisbawahi. Dalam Tabu, isu perempuan penulis sudah menyublim, meski Anindita S. Thayf adalah perempuan yang menulis tentang dunia perempuan. Begitupun dari sisi tema, novel Tabu tidak lagi berfokus dengan tema ketubuhan.

Etnografis Filantropis
Novel Tanah Tabu menjadi istimewa bukan hanya karena ia telah menjadi satu-satunya pemenang dari sayembara novel sastra bergengsi tahun ini, melainkan kehadirannya menjadi tongkat estafet tema keberpihakan terhadap wong cilik. Tema ini sudah duluan dilecutkan lewat Laskar Pelangi (karya Andrea Hirata) sekitar lima tahun silam. Dan menjadi lebih istimewa lagi karena secara teknis penceritaan, Tanah Tabu memberikan bentukan baru dengan mengambil tema pascakolonial dengan nuansa filantropis yang pekat. Aroma keindonesiaan tidak dilancarkan secara verbal. Tapi jelas, Tanah Tabu menjadi pembuktian tema “lama” - soal keindonesiaan – dalam perspektif kekinian.

Terbagi dalam tiga pencerita, Tanah Tabu menawarkan tiga sudut pandang penceritaan yang berbeda; antara aku (manusia), Pum (seekor anjing), dan Kwee (seekor babi). Dari ketiga penceritaan inilah kisah perempuan-perempuan “perkasa” di tanah Papua teriwayatkan.

Irian, Papua, pulau Kepala Burung, atau entah apalah namanya, kita mengingatnya sebagai provinsi paling Timur, di mana alam perawannya menjadi penanda betapa kayanya kandungan alam di dalamnya. Burung “surga” cenderawasih kuning kecil, kakaktua jambul merah, bunga keris berbatang ungu, ikan arwana bersirip jingga, anggrek hutan berkelopak hitam, dan buah merah, buaya berkulit hijau zamrud dan lain sebagainya adalah sedikit contoh yang biasa kita hafal selama ini. Namun, di dalam keindahan alam itu tersimpanlah kisah yang berbeda.

Kisah muram para penghuninya yang kadang tak secorak indahnya dengan keelokan alamnya. Dan ironisnya, tingkat kehidupan mereka yang di bawah rata-rata menjadikan kisah ini sangat tragis dan dramatik. Cerita yang muncul justru kisah manusia yang ternyata jauh dari keindahan alamnya.

Adalah Mabel perempuan tokoh utama yang punya semangat bagai gunung yang mampu mematahkan leher lelaki dewasa. Mabel lahir ketika Belanda datang ke Lembah Baliem, Timika pada tahun 1946, yang lalu diasuh oleh pasangan keluarga Belanda. Kondisi bagai langit dan bumi antara penjajah dan pribumi tergambar jelas dari tingkat kehidupan. Dapat dimengerti jika akhirnya Mabel menjadi sangat terpelajar di alam Papua yang perawan. Kendati seperti itu, Mabel (seperti juga pribumi lainnya) tetap dilarang bersekolah.

Sampai akhirnya Mabel mengakhiri perjalanan hidupnya di Timika, menikah dua kali, dan bertemu Lisbeth; seorang perempuan tangguh yang mempunyai anak perempuan bernama Leksi. Sejak dari awal sampai akhir dikisahkan bagaimana kehidupan alam Papua yang kaya akan bahan tambang, mempunyai penduduk asli (Komen) yang menabukan tanahnya untuk menjaga kelestarian alam.

Papua yang kaya akan kekayaan alam muncul dalam narasi yang jauh dari kesan yang indah-indah belaka. Kekayaan alam dieksploitasi oleh kaum pendatang, sedangkan penduduk asli tidak hanya terjajah, tapi tidak menikmati hasil kekayaan alamnya sendiri. Inilah karya novel pascakolonial pertama sejak maraknya kemunculan novel berbau ketubuhan. Sebagai karya perempuan dengan sudut pandang perempuan, Tanah Tabu sanggup mendokumentasikan persoalan domestikasi dalam bingkai lokal (Papua) menjadi persoalan yang lebih kompleks (keindonesiaan).

Sub-tema peranan militer (pascakolonialisme) dibentur-benturkan dengan tema feminisme. Untungnya, si pengarang berpegang pada standar cerita, jadi kepekaan Tanah Tabu tidak hanya bersandar pada sensasi narasi dan ironi kisahnya.

Dengan teknik penulisan yang berpindah-pindah dari ketiga narator tadi membuat nuansa magis Papua lebih kentara. Tanah Tabu mencuri perhatian bukan hanya tema (etnografis) Papua yang jarang dilirik oleh pengarang Indonesia mutakhir, namun soal-soal kehidupan yang subtil dan krusial menjadi poin tersendiri.

Sedangkan tema perempuan yang menjadi tali simpul seluruh kisah menjadi pengayaan sudut pandang berbeda. Betapa alam ini telah diruwat dan dirusak oleh kaum “lelaki”, dan begitulah kisah perempuan di daerah tanah yang ditabukan itu bermula. CHUS (Berita Indonesia 69)

Add comment


Security code
Refresh

Berita Utama

utama_1_21.jpg
Di pertengahan jalan pemerintahan SBY-JK, Golkar mengembangkan wacana untuk menilai kembali dukungannya. Banyak alasan kenapa Golkar
utama_1_43.jpg
Tiga rentetan peristiwa politik terbaru yang terjadi di Ambon, Papua, dan Aceh, sangat mustahil untuk tidak dimaknai sebagai upaya

Visi Berita

visi_1_66.jpg
Di tengah suasana relatif damai saat penyelenggaraan Pemilu Legislatif 9 April 2009 lalu,rupanya terjadi kemunduran
visi_29.jpg
Menunggu arus balik investasi asing, ibarat pameo petani yang mengharapkan jatuhnya hujan di musim panas.

Lentera

lentera_11_62.jpg
Keberhasilan tim ASSA tidak hanya milik para pesepeda namun juga milik tim-tim pendukung yang perannya sangat
lentera_5_17.jpg
Bangsa yang arif akan memilih jalan perbaikan pendidikan secara mutlak bagi bangsanya. Sebab bangsa yang terdidik pasti
Share/Save/Bookmark