Majalah Berita Indonesia

Sunday, May 28th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Buku Menakar Lennon dan Gates
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Menakar Lennon dan Gates

E-mail Print PDF

Kerja keras adalah kata kunci yang ingin ia sampaikan dalam puluhan halaman pertama buku baru yang ditulisnya OutliersUntuk menjadi sukses, tidak cukup dengan ketekunan. Seperti karya-karya sebelumnya, kepiawaian Gladwell selalu menyertai ketajaman analisa dalam menyampaikan gagasan. Kerja keras adalah kata kunci yang ingin ia sampaikan dalam puluhan halaman pertama buku baru yang ditulisnya Outliers. Dalam buku itu ia menyebutkan beberapa orang atau kelompok yang berhasil di antaranya The Beatles dan Bill Gates.

Nama The Beatles sudah menjadi bagian dari sejarah yang tak akan terlupakan. Tapi jauh jadi history maker, musik mereka telah diasah melalui intensitas dan kerja keras yang terbilang tidak biasa. The Beatles adalah salah satu sejatinya sang-”outliers”.

Kendati rumah mereka di Liverpool, mereka memutuskan untuk lengser ke Hamburg untuk meraih kesempatan yang lebih besar. Jika The Beatles merasa nyaman dalam zona aman di Liverpool dengan pola aktif bermain musik hanya sejam setiap main, maka di Hamburg mereka bisa bermain delapan jam selama tujuh hari. Dalam konteks intensitas, The Beatles menyublimkan definisi seni menjadi proses kerja kreatif.

Sedangkan Bill Gates dipaparkan telah berlumut di dalam laboratorium sekolahnya mengendapkan passion -nya terhadap komputer, (di mana teman sebayanya saat itu masih terlalu asing menyebutkan nama benda tersebut). Gates menghabiskan delapan jam setiap hari saban sepekan, mirip The Beatles yang telah melampaui 10.000 jam dalam kerja kreatifnya.

Sekilas ada perbedaan yang mencolok dari buku sebelumnya, Blink di mana thesis Gladwell tentang kecakapan intuisi (intuitive thinking) yang dinyatakan sebagai sejatinya endapan pengalaman yang tersembunyi dalam otak. Sedangkan dalam Outliers dituangkan bagaimana kesuksesan dari orang-orang yang “berani beda” itu bukanlah lahir begitu saja. Ada citraan yang sistemik di dalamnya, lingkungan dan kesempatan yang juga sangat berpengaruh besar.

Sebagai buku yang mengantarkan motivasi, Outliers bukan yang pertama mencantumkan kerja keras sebagai quotes kesuksesan. Hanya Gladwell secara mendasar mencantumkan kuantifikasi kaidah 10.000 jam. Gladwell sengaja menggarisbawahi angka segitu, seakan ingin menjadikan hukum ketekunan 10.000 jam akan membuahkan kesuksesan besar. Dalam narasinya, Gladwell mempolakan kesusksesan dalam 10.000 jam ketekunan. The Beatles dan Gates dipersatukan dalam locus yang sama, kemiripan kasus sebelum kesuksesan mereka dulang.

Sepuluh ribu jam adalah angka ajaib untuk menghantar sebuah kesuksesan, tandas Gladwell. Dalam kasus Lennon untuk The Beatles, dan Gates untuk Microsoft, adalah pencapaian terukur dari fakta kesuksesan dan menjadi berbeda dari yang lain (outlier).

Selain kerja keras, Gladwell juga mengendus sisi lain pembangkit daya beda untuk meraih kesuksesan. Salah satu contoh yang disodorkan adalah studi kasus hubungan antara faktor kesehatan dan umur panjang dalam sebuah komunal.

Adalah Roseto, sebuah perkampungan imigran Italia di sudut Pensylvania yang warganya rata-rata bisa mencapai umur panjang. Dugaan pertama karena sedikitnya kasus serangan jantung dari usia matang dan manula. Gladwell kemudian meneliti lebih lanjut, bahwa fakta umur panjang para warga Roseto bukanlah disebabkan karena habit berolahraga.

Daya telisik yang dituangkan Gladwell sungguhlah unik. Ternyata warga Roseto bukanlah seperti kebanyakan warga Amerika yang hidup dalam pola individualis dan serba selfish. Mereka masih memegang nilai tradisi keguyuban khas moyang mereka di Italia. Kehidupan bertetangga dengan hidup kesederhanaan. Harmonis dan saling kenal satu dengan yang lain menyebabkan hidup mereka jauh dari stres. Dalam pembahasan ini, Outliers terkesan lebih empuk dari pembahasan sebelumnya. Studi kasus warga Roseto ini menjadi gambaran sebuah alasan kalau kesuksesan tidak serta-merta dinilai dari angka-angka. Banyaknya warga Roseto dengan standar umur di atas rata-rata, bahkan terdapatnya tiga generasi yang hidup nyaman dalam satu keluarga menjadi acuan pembeda yang sengaja ditampilkan secara gamblang.

Seperti yang sudah-sudah, di penghujung buku Gladwell memberikan tendangan khasnya menyuguhkan betapa pun besarnya arti sebuah fenomena selalu dilatari fakta-fakta yang terselubung dan bahkan terhubung satu dengan yang lain. Ia mengikat sejumlah data, kejadian, dan fakta yang terkesan saling lepas dan tidak bersinggungan satu dengan yang lain. Bisa jadi, orang kebanyakan tidak melihatnya, tapi Gladwell bisa melihat sesuatu yang berbeda itu justru mempunyai “kesatuan”. CHUS


Kejernihan Malcolm Gladwell
Begitu banyak hal besar dan terlalu sedikit waktu. Pameo usang manusia urban itu malah membuat seorang lelaki ceking berpikir lain. Lalu si lelaki ceking itu, Malcolm Gladwell menuangkan kompleksitas dunia lewat Blink (2005). “Kekinian dunia menyebabkan pandangan mata jadi terarah pada fokus-fokus yang sempit,” ungkap lelaki kelahiran 3 September 1963 ini.

SEDOT PERHATIAN: Tulisannya kaya dengan riset dan survei lapanganGladwell mulai menyedot perhatian saat buku pertamanya The Tipping Point (2000). Debut yang mengesankan, 2,3 juta eksemplar ludes dalam putaran perdana promo bukunya. Tipping sendiri menangkap kompleksitas fenomena sosio-kultural yang mendedah masa kritis, ambang batas dan ambang krisis. Gladwell mengulas bagaimana krisis-krisis kecil dapat menimbulkan wabah sosial.

Contoh kasus yang diajukan adalah ketika merek sepatu Hush Puppies mulai mengalami kemunduran produksi di awal tahun 1994. Alkisah seorang perancang busana menangkap basah sepasang remaja yang mengenakan sepatu bermodel klasik itu di kawasan East Village. Informasi ini lalu berkembang dan membakar semangat Wolverine, perusahaan pembuat sepatu tersebut. Tipping menjelaskan bagaimana fenomena sosial itu mengarah pada sifat yang menular, perubahan kecil yang berefek besar, serta perubahan yang menyeluruh dan dramatis.

Nama Gladwell semakin meroket ketika buku Blink (2005) menandai debut keduanya. Di sini Gladwell bukan hanya digilai anak muda sebagai perluasan pembaca bukunya, tapi menuai sejumlah kritikan tajam. Blink sendiri mengulas bagaimana caranya mengambil keputusan secepat kedipan mata. Dari sini sejumlah kritikus mengganggap Blink sebagai petunjuk jalan pintas mengambil keputusan dan memprovokasi orang malas berpikir.

“Hanya karena saya ingin mendorong orang memanfaatkan kekuatan besar intuisi yang mereka miliki dengan serius,” sanggah Gladwell menghadapi berbagai tudingan.

Sebagai seorang jurnalis, Gladwell memegang teguh pemaknaan data dan reportase. Pengalaman menjadi juru warta membuatnya lebih peka terhadap gejala sosial yang terjadi. “Begitu banyak hal rumit dan tidak terselesaikan dalam satu tulisan reportase, itu yang kemudian mengendap dalam otak saya bertahun-tahun,” kata Gladwell.

Kekayaan data riset dan teraan lapangan, tidak membuatnya kaku dalam menuangkan gagasannya. New York Time memuji gaya penyajian Gladwell sebagai “kejernihan memandang kompleksitas dunia”.

Pengalaman mengolah berita keras (hard news) menjadi tulisan yang lembut membuatnya mahir ber-story telling. “Begitu banyak orang yang mendukung pembentukan saya yang sekarang. Ketika sadar apa yang akan saya tulis ini sangat kompleks, saya langsung mengambil jarak terdekat pada kesederhanaan…,” ujar Gladwell.

Yang paling duluan reaktif terhadap karya-karyanya justru anak muda (terutama dalam Blink). Selain tema yang disodorkan, Gladwell punya jurus ampuh gaya tuturan yang renyah dibaca. “Tak perlu membuka buku rujukan lain untuk mengerti apa yang dimaksud dalam Blink. Bahkan saya merasa Blink ditulis dengan sekejap mata dan saya membacanya juga dengan mengerdipkan mata saya,” ungkap Paris Hilton yang juga pernah menikmati karya Gladwell.  CHUS (Berita Indonesia 67)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com