Majalah Berita Indonesia

Sunday, May 28th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Buku Penghangat Isu Basi
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Penghangat Isu Basi

E-mail Print PDF

Keterangan buku dari kiri ke kanan: Judul : The World Without Us Penulis : Alan Weisman dan Hot, Flat, and Crowed Penulis : Thomas L. FriedmanSaat bumi panas, datar, dan berjejalan,kita membayangkannya hampa tanpa manusia.

Benarkah Amerika selalu aktual? Amerika menenggak kopi dan meninggalkan habit minum susu, lalu Starbuck mendunia. Begitu juga hembusan isu pemanasan global hingga membuat Thomas L. Friedman berironi dalam bukunya, Hot, Flat and Crowded. Sedangkan Alan Weisman dalam bukunya The World Without Us, membayangkan hijauan “dunia” dalam ceruk Amerika (Dunia lain di luar Amerika mungkin cuma dianggap ngontrak?).

Sekilas dua buku tersebut saling bergenggam tema satu dengan yang lain. Selain isu ketahanan lingkungan, titik jangkar pemikiran buku ini bertendens global dengan “poros” yang Amerika. Dus, kedua buku ini memberikan output yang mengkilap di jajaran buku pemikiran bertema lingkungan.

Meruwat Bumi
Sengkarut emisi gas rumah kaca menjadi pemacu idea buku Hot, Flat and Crowded gubahan Thomas L. Friedman. Bumi menjadi panas (hot) lantaran industri dan gaya hidup manusia semakin tak terkendali. Dari pabrik sampai laptop di pangkuan, semua menghasilkan panas. Dari cerobong menara sampai selongsong knalpot yang terus menabung asap.

Isu pemanasan global seperti aransemen baru dari tembang lawas. Bahkan, menurut Friedman, isu ketahanan lingkungan sudah tersiar sejak manusia berbangga hati dengan era Revolusi Industri. Yang sekarang dibutuhkan bukan lagi jargon lama, tapi bagaimana Revolusi Hijau dibutuhkan bumi agar bisa keluar dari sengatan panas karena ulahnya sendiri.

Bumi menjadi datar (flat) lantaran derasnya arus globalisasi di semua sektor. Terutama sektor industri komunikasi dan transportasi yang telah membuat segalanya jadi lebih mudah, serba terdeteksi dan fragmentis. Friedman membayangkan hidup manusia yang satu dengan yang lain tidak bisa saling sembunyi. Datar. Terlacak, dan terus meng-update hal apapun tanpa kendala. Riak milyaran manusia seperti hidup dalam hamparan garis lurus.

Kemudian bumi berjejal-jejalan (crowded) sebab laju pertumbuhan penduduk yang berlipat tak terkendali. Angka kematian disorot akibat kemajuan higinitas. Tentu peran kemajuan iptek, kesadaran industri, piranti kehidupan formal semacam sarana dan prasarana menjadi penyebab utama (Friedman tidak menyasar soal program penekanan angka kelahiran semacam Keluarga Berencana di sini).

Friedman mengerucutkan tiga tema besar tadi dengan gaya Amerikana. Misalnya, negara industri baru semacam China, India dan Korea dianggap terlalu jor-joran dalam mengkonsumsi energi minyak dunia. Harga minyak dunia meroket, efek krisis yang tak terelakan, dari segi imbangan suply-demand, moneter sampai ke kultur global. Laju industri baru ini menghasilkan gaya hidup kaum menengah yang berpola Amerika.

Friedman punya nyali untuk mengkritik Amerika sebagai bangsa terdepan yang terus dikuntit perkembangan iptek dan kulturnya. Friedman terlalu menjadikan isu pemanasan global dengan locus Amerika. Misalnya saja bagaimana jargon “Code Red” (yang dipakai saat Perang Dingin dengan Rusia tahun 50-an) menjadi “Code Green” (sebagai simbolik Revolusi Hijau dunia) di sini sebagai peran Amerika yang punya “agen budaya” agar lebih arif.

Bumi Kopong
Tak bedanya dengan Friedman, esai kompulsif Alan Weisman juga mengangkat isu pemanasan global dari sisi yang berbeda. Maksudnya berbeda di sini adalah bagaimana isu yang sudah mendunia itu dalam kacamata Amerika.

Wiesman mengajak kita berandai-andai dengan bumi kita. Membayangkan bumi yang kita pijak tak lagi berpenghuni, Weisman seperti sedang bertamsil seluruh manusia lenyap dalam seketika. Boleh jadi ada alien, atau semisal lain ada virus ganas mematikan milyaran manusia dalam hitungan jam (Ya, mungkin mirip film sains fiksi ala Hollywood gitu deh!). Jangan berharap ada sebab ilmiah yang bisa menjelaskan secara tuntas thesis Weisman tadi. Namanya juga berandai-andai).

Setelah bumi hampa manusia, sebuah pompa pengatur kanal di Manhattan mengalami kekacauan dan air meluap menggulung New York. Di sinilah muasal mengapa Weisman berambisi mengosongkan bumi. Kelak setelah kopong, bumi dikuasai jagat hijau. Akhirnya perdu, rumputan, ganggang, lumut dan pepohonan liar menguasai Texas. Keteguhan pencakar langit New York hilang. Setelah lenyapnya manusia di bumi, Weisman menyusupi kasus baru. Sejumlah jasad renik pemakan polimer bermutasi dan menjadi penguasa lain di bumi yang kopong.

Sebenarnya, ide yang disodorkan Weisman begitu sangat menjanjikan. Inspiratif, provokatif sekaligus kompulsif. Di luar begitu banyak keganjilan cerita, Weisman ingin mengajak kita berpikir ulang, untuk tidak lagi menunda aksi dan menyelamatkan bumi tanpa henti.

Kedua buku terjemahan ini masih anget di bursa buku kita. Tepat di saat isu ketahanan lingkungan mulai dianggap basi oleh kaum skeptis. Kedua buku terjemahan hadir tepat saat di tahun 2009, di mana pemanasan global mulai terabrasi isu politis yang lain yang lebih krusial.

Tiap negara di belahan dunia bergegas merayakannya bersama walau luput dari pantauan jaringan MTV atau tak terlacak radar milik negara adidaya itu. Sebenarnya dari cara Friedman dan Weisman mengulas isu lingkungan dalam bukunya seperti sedang menjelaskan masalah yang dihadapi semua negara di dunia, bukan aktualisasi gaya Amerika. Sama miripnya saat kita semua di dunia menganggap pemanasan global bukan lagi sebagai isu, tapi sudah menjadi pekerjaan rumah bersama. Chus (Berita Indonesia 64)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com