Majalah Berita Indonesia

Thursday, Apr 27th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Buku Indonesia Tanpa Glamour
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Indonesia Tanpa Glamour

E-mail Print PDF

Dari Presiden ke PresidenMelihat tingkah-polah dan karut-marut Indonesia dengan tawa.

Seorang ibu yang sedang memasak berkata pada anaknya yang masih kecil. Disaksikan seekor sapi, ia berkata, “Daripada minum susu bubuk bermelamin, mending sekarang tinggal pilih: minum air tajin atau langsung sedot dari sapinya…” (Dari Presiden ke Presiden Buku 2; hal. 81). Kartun yang diberi judul “Kembali ke Selera Asal” itu menjadi salah satu cara Benny Rachmadi menggambarkan hebohnya berita susu bermelamin yang sempat merebak sekitar September setahun silam.

Laiknya juru warta, seorang kartunis juga menampilkan “berita” yang dituangkan ke dalam medium gambar. Dengan goresannya, ia memeras sari pati “berita”, dan (memunculkan) fenomena yang kemudian membuat orang tersadar-mengerti-bahkan tertawa (meringis). Maka begitulah musabab mengapa sebuah media cetak mau merelakan (sejumlah) kolomnya untuk sebuah kartun opini. Apa yang dilakukan Benny dengan kartunnya bukan hal baru.

Bahkan sejarah mencatat sejak tahun 1843, majalah Punch di Inggris telah mempersilakan kartun masuk ke dalam dunia pewartaan. Demikian pula yang dilakukan Benny untuk (tabloid) mingguan ekonomi dan bisnis Kontan — yang nota bene sasaran pembacanya adalah kelompok menengah atas. Ia mengisi ruang di antara hiruk-pikuk berita finansial, perbankan, isu-isu hangat investasi dan dunia usaha.

Tanpa Mice
Sebelumnya, nama Benny terkait dengan nama Mice dalam kerja bareng “Benny Mice” untuk kolaborasi kartun di sebuah rubrik (rutin) mingguan di sebuah surat kabar. Di sanalah namanya begitu mengkilap. Bukan hanya sekadar intensitasnya, duo kartunis itu telah memperlebar targetnya ke pembaca kartun yang sadar gaya hidup dan urban. Bahkan jauh sebelum itu, di awal tahun 2000-an, nama Benny-Mice sudah mewarnai pembaca kota untuk sebuah majalah gaya hidup perkotaan.

Kehadiran dua kartunis Benny dan Mice dalam satu kolaborasi kerap memancing orang untuk lebih menelisik pembagian kerja kartun mingguan mereka; mana yang Benny, mana yang Mice. “Istri saya saja sering tidak bisa mengenali mana yang saya mana yang Mice,” canda Benny kepada Berita Indonesia beberapa waktu lalu saat peluncuran buku kolaborasi mereka, 100 Tokoh di Jakarta.

Kali ini Benny tampil sendirian. Bahkan sejak tahun 1998, Benny yang sudah menjadi kartunis tetap di tabloid ekonomi dan bisnis itu mempunyai jatah rutin (kala itu) setiap pekannya. Dan ketika 11 tahun proses itu berjalan, maka lahirlah dua jilid buku yang diberi judul besar Dari Presiden ke Presiden ini.

Seperti juga judul besarnya, sekitar 600 kartun yang terhimpun dalam dua jilid buku ini menjadi cermin bening 11 tahun perjalanan Indonesia yang sempat ditangkap Benny lewat goresannya. Alhasil, ketika ratusan kartun itu berjajar, tertangkap pula perjalanan dan sepak terjang dari sejumlah presiden yang pernah memimpin negeri ini dengan segala karut-marutnya, dan sekaligus “kelucuan”-nya.

“Awet Muda”
Pada kata pengantarnya, Yopie Hidayat mengungkapkan bahwa,”…yang uniknya, goresan Benny justru tidak membawa nuansa glamor orang-orang kelas atas atau anggota elite di masyarakat… Benny justru mengembuskan nafas proletar…”

Dalam jilid pertama, pembagian bab lebih terasa jelas untuk empat era kepresidenan, mulai dari Era Habibie, Era Gus Dur, Era Megawati dan Era SBY. Benny, sang kartunis memposisikan diri sebagai Si Tukang Catat yang kadang seperti berbisik. Misalnya dalam bab Era Habibie Kartun berjudul “Ketakutan Sidang Istimewa (SI)” terlihat seorang bocah yang bersembunyi di bawah meja (hal. 14), tapi sering kali kartunnya berteriak kencang seperti dalam bab Era Gus Dur yang secara jelas terlihat seekor tikus berjas dengan peci yang siap menyantap tumpukan uang dari sendok bertuliskan ‘tunjangan pejabat eselon’ dalam kartun berjudul “Sudah Sering Korupsi Dapat Tunjangan” (hal. 99).

Dalam jilid kedua, kartunisnya terlihat fokus dalam urusan karut-marut ekonomi rakyat, terutama nasib wong cilik yang buat beli minyak tanah saja sulit, dipermainkan gas, BLT, urusan beras ekspor, PHK, efek BPPN, soal UMR, tingkah-polah para koruptor, IMF, sampai soal APBN.

Menyimak dua jilid buku ini bagai sebuah perayaan ingatan mengenai apa yang telah terjadi selama empat kepresidenan kita selama ini. Bahkan ternyata banyak yang masih terus belangsung sampai saat ini. Masalah pengangguran misalnya, tak kurang dari 72 kartun masih tersebar dari era ke era. Apalagi masalah korupsi beserta efeknya untuk rakyat kecil, nyaris melebihi dari separuh isi (dua jilid) bukunya.

Artinya masalah yang “awet muda” negeri ini telah terekam dalam goresan Benny, dan kita terus disajikan hal itu dalam keadaan yang senyatanya, dan terus menertawakannya, dan seterusnya membuat kita “awet muda”.

Buku ini sangat layak disimak semua kalangan. Bukan hanya “menghibur”, tapi rekaman situasi yang dituangkan kartunisnya bisa menjadi “suara”, meminjam istilah Yasuo Yoshitomi (professor kartun Universitas Seka, Kyoto Jepang) bahwa “Dengan kartun kita bisa berteriak dalam bisikan, yang menyampaikan bahwa kita belum terlambat untuk memperbaiki…” Dan dua jilid buku ini sedang menjalankan prosesnya; tentu saja sambil menertawakannya. CHUS (Berita Indonesia 71)

JUDUL BUKU:
Dari Presiden ke Presiden Buku 1: Tingkah-polah Elite Politik
Tebal: 333 halaman
Cetakan Pertama: Juni, 2009

Dari Presiden ke Presiden Buku 2: Karut-marut Ekonomi
Tebal: 267 halaman
Cetakan: September 2009
Penulis: Beny Rachmadi
Penerbit: Penerbit KPG, Jakarta

 


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com