Majalah Berita Indonesia

Saturday, Apr 29th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Buku Indonesia on The Move
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Indonesia on The Move

E-mail Print PDF

Buku Indonesia on The MoveBuku ini dikritik karena ditulis dalam bahasa Inggris. Sebuah kritik yang sebenarnya kemunduran.

Hujan rintik-rintik di Jalan Matraman Jakarta Timur membuat sebagian orang memilih berteduh di bawah jembatan penyeberangan. Tidak jauh dari situ, sebuah toko buku yang luasnya 7.097 meter persegi sedang mengadakan hajatan. Puluhan karangan bunga ‘ucapan selamat’ berdiri gagah di sepanjang pintu masuk. Para petugas keamanan berjejer mengamankan arus kendaraan agar tertib dan tidak berhenti di depan gedung. Di samping kanan gedung, pelataran parkir disulap menjadi sebuah tempat penyelenggaraan acara yang dihadiri sejumlah tokoh. Diantaranya Menko Kesra Aburizal Bakrie, Mensesneg Hatta Rajasa, Menneg Pemberdayaan Perempuan Meuthia Hatta, Mendiknas Bambang Sudibyo dan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo.

Selain mengadakan acara syukuran atas perluasan dan peresmian toko buku Gramedia sebagai yang terbesar se-Asia Tenggara, acara ini menjadi tambah menarik karena dihadiri orang nomor satu di Indonesia. Pada kesempatan itu, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meluncurkan buku karyanya berjudul Indonesia On The Move, Jumat sore (28/12/2007).

Buku yang ditulis dalam bahasa Inggris ini merupakan buku kedua, buku pertamanya berjudul Transforming Indonesia. Kedua buku ini pada prinsipnya sama, berisi kumpulan tulisan dan pidato SBY sebagai Kepala Negara di hadapan berbagai forum nasional dan internasional. Sebagaimana karya pertamanya, buku kedua ini juga diterbitkan oleh Bhuana Ilmu Populer, salah satu penerbit buku yang tergabung dalam Kelompok Kompas Gramedia (KKG).

Presiden SBY berharap melalui buku Indonesia On The Move, dunia luas dapat lebih mengenal Indonesia yang sedang bergerak menuju kemajuan. Selama ini, kata SBY, banyak orang salah mengerti tentang Indonesia, dan kita dihakimi oleh persepsi, bukan realitas. “Melalui buku ini saya ingin menyampaikan arah pembangunan pasca krisis, ideologi kita sebagai bangsa, dan karakter kita harus dimengerti dunia,” jelasnya. Itulah mengapa ia setuju artikel dan pidatonya dibukukan, dan mengapa di setiap kesempatan selalu ia gunakan untuk menyampaikan sesuatu.

Kedua buku SBY yang diterbitkan dalam bahasa Inggris ini tidak luput dari kritikan dari sebagian kalangan. Mereka menilai buku SBY itu tidak bisa dibaca rakyat di seluruh pelosok tanah air karena berbahasa Inggris. Kritikan ini dijawab SBY dengan menjanjikan timnya di bawah pimpinan Juru Bicara Presiden Dino Patti Djalal sebagai editor, akan bekerja keras untuk menerbitkan buku ini dalam bahasa Indonesia.

Kritikan dan respon SBY atas kritikan itu sebenarnya menunjukkan wajah bangsa kita yang masih jauh tertinggal dari bangsa lain. Buku berbahasa Inggris yang diluncurkan SBY itu seharusnya bisa mengawali langkah bersama dalam “membaca” segala sesuatu yang menggunakan bahasa Inggris. Coba tengok India yang memiliki puluhan dialek dan bahasa ibu mampu menjadi penerbit buku berbahasa Inggris terbesar ketiga di dunia setelah Inggris dan Amerika Serikat. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Kita cuma dikenal ‘pintar’ dalam hal mengisi perut dan mencuci mata, namun kalau sudah urusan membaca apalagi bacaan berbahasa Inggris, tidak usah ditanya. Soalnya, menulis dalam bahasa Indonesia (yang baik dan benar) saja masih ogah-ogahan, apalagi menulis (membaca) dalam bahasa Inggris.

Kenyataan ini diperkuat oleh data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2006. Masyarakat Indonesia dinilai belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Orang lebih memilih menonton TV (85,9%) dan/atau mendengarkan radio (40,3%) ketimbang membaca koran (23,5%). Bank Dunia di dalam salah satu laporan pendidikannya, “Education in Indonesia - From Crisis to Recovery” (1998) juga melukiskan begitu rendahnya kemampuan membaca, dalam hal ini anak-anak Indonesia. Dengan mengutip hasil studi dari Vincent Greanary, siswa-siswa kelas enam SD Indonesia diberi nilai 51,7 berada di urutan paling akhir setelah Filipina (52,6), Thailand (65,1), Singapura (74,0) dan Hongkong (75,5). Artinya, kemampuan membaca siswa kita paling buruk dibandingkan siswa dari negara-negara lainnya.

Presiden SBY juga menyadari kalau budaya membaca di Indonesia masih sangat rendah. “Bila tidak kita ubah budaya itu maka masa depan kita tidak cerah. Saya ingin menjadi bagian dari perubahan ini. Saya mengajak seluruh rakyat, marilah kita membangun diri menjadi masyarakat membaca dan belajar. Teruslah menghidupkan kegemaran untuk membaca karena membaca adalah investasi, solusi, dan bisa mengubah nasib bangsa,” ajak SBY. Boleh dibilang, melalui buku keduanya, Presiden Yudhoyono mencoba membuktikan betapa kegemarannya pada buku telah ikut mengantarnya menjadi pemimpin negara yang memiliki pengetahuan luas dan empati pada berbagai persoalan berbangsa dan bernegara, serta hubungan antar-negara. MLP (BI 53)

DATA BUKU
Judul
: Indonesia on The Move
Beredar : 28 Desember 2007
Editor : Dino Patti Djalal
Penerbit : Buana Ilmu Populer, 2007
Tebal : 335 Halaman
Review : Buku Edisi Bahasa Inggris ini merupakan kumpulan pidato penting Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada forum internasional. Hanya sayangnya cuma satu pidato bertopik ekonomi.


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com