Orang yang sudah meninggal mendapat tempat khusus dalam budaya Toraja.
Dunia sudah mengakui bahwa budaya Toraja termasuk salah satu budaya terunik di dunia yang masih bertahan hingga era modern ini. Namun, bicara soal budaya Toraja, kebanyakan orang menganggap bahwa keunikan budaya dari suku yang terletak di Provinsi Sulawesi Selatan ini terdapat pada upacara kematian atau prosesi penguburan orang meninggal. Padahal, kalau hanya tingkat keunikan upacara kematian yang tinggi saja mungkin banyak di lain tempat seperti upacara pemakaman di Bali, Sumbawa dan lainnya.
Menurut pendapat beberapa ahli budaya seperti Stanislaus Sandarupa, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, keunikan budaya Toraja sesungguhnya terletak pada kepercayaan dan praktik-praktik budaya yang memperlakukan orang mati itu. Jadi bukan hanya dalam prosesi penguburan saja.
Dalam sistem kepercayaan orang Toraja yang disebut Alukta (Aluk Tolodo), kehidupan dipercayai sebagai suatu hal yang berputar, dimana manusia berasal dari langit, turun ke bumi (menjalani kehidupan di bumi), kemudian kembali lagi ke langit. Disebut Aluk Todolo, untuk menggambarkan bahwa kepercayaan ini asli ciptaan leluhur orang Toraja.
Pandangan ini tampak dalam semua aspek budaya Toraja. Misalnya, dalam lagu-lagu duka (badong). Narasi bergerak dalam tema ini: manusia lahir di langit, turun ke bumi dan kembali lagi ke langit. Pandangan itu juga tampak dalam arsitektur bangunan rumah tongkonan dan lumbung alang dimana bangunan didirikan mengikuti gerakan dari selatan ke utara sampai titik zenit tertinggi atau sebaliknya, dari utara ke selatan, kembali ke langit tertinggi.
Dari sudut pandang budaya Toraja, orang yang sudah mati secara biologis dipandang sebagai orang yang hanya 'sakit' sebelum upacara adat dilakukan. Menurut mereka, orang mati tidak pernah mati. Hal tersebut diberlakukan tidak hanya sebagai suatu pandangan hidup, melainkan dipraktikkan dalam keseharian. Si 'sakit' tetap diberikan makan tiga kali sehari. Mereka juga sangat akrab dengan si 'sakit'. Mereka tidur bersama si 'sakit'. Bahkan di Toraja Utara, kalau pasangan hidup meninggal, sang istri atau sang suami yang ditinggalkan, tidur bersama jenazah di ranjang dan kelambu yang sama.
Misalnya, jika suatu saat seorang kakek meninggal. Sebagai orang 'sakit', jasad dimasukkan ke dalam 'peti sementara' dan ditidurkan di kamar tidur ruang selatan rumah tongkonan. Jasad ditidurkan dengan kepala mengarah ke matahari terbenam dan kaki ke arah matahari terbit, layaknya seperti cara orang hidup tidur menurut budaya Toraja. Dan karena si kakek dianggap masih berada di alam kehidupan, ia tetap diberikan makan tiga kali sehari (pagi, siang, dan malam). Yang membawa makanan selalu berkata, "bangunlah kakek, makanan dan minumanmu sudah ada." Pada siang hari dan terutama pada malam hari, anggota keluarga dan para tetangga berkumpul di dalam rumah, bercerita sambil bermain domino dan minum kopi agar tahan begadang. Kalau sudah lelah mereka tidur di sekitar si 'sakit'.
Selama menunggu pelaksanaan upacara, jasad dibaringkan di rumah tersebut selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, tergantung pada kesediaan keluarga untuk melaksanakan upacara. Bahkan kabarnya, ada yang pernah lebih dari dua puluh tahun. Maka bagi orang luar suku Toraja, sepintas akan sulit membedakan mana rumah yang ada orang 'sakit'-nya dan mana yang tidak.
Tapi, bila diperhatikan secara seksama, sebenarnya ada pertanda yang membedakan hal tersebut. Di depan jalan dekat sebagian rumah tongkonan akan dijumpai adanya bendera putih. Bendera putih inilah yang menandakan bahwa di tongkonan tersebut ada yang 'sakit' yakni orang meninggal yang belum diupacarai. Dalam budaya Toraja sendiri, kuburan asli disebut banua tang merambu (rumah tanpa asap). Disebut rumah tanpa asap, karena di dalamnya tidak ada dapur yang merupakan simbol kehidupan.
Orang 'sakit' itu sering disebut 'to masaki uluna' yang artinya, orang yang kepalanya sakit. Atau 'to makula' yang berarti, orang yang panas. Ungkapan-ungkapan metaforis dan bendera putih tersebut, menurut Stanislaus Sandarupa, dalam tulisannya di Harian Kompas, bersifat ambigu. Artinya, ungkapan itu mengandung makna ketakutan akan kekuatan alam gaib, tetapi pada saat yang sama juga berisi keinginan untuk menguasainya. Sementara alasan menyimpan si 'sakit' berlama-lama, menurut komentar keluarga si 'sakit' sebagaimana ditulis Stanislaus, adalah agar keluarga dapat melakukan upacara dengan tepat dan baik sesuai dengan strata sosialnya. Selain itu, agar semua anggota keluarga terutama yang di perantauan bisa menghadiri upacara.
Sedangkan upacara penguburan dalam budaya Toraja biasanya dilakukan sesuai dengan strata sosial keluarga yang meninggal. Pada keluarga yang strata sosialnya tinggi, upacara dilakukan dua kali. Upacara pertama yakni upacara yang disebut aluk pia, biasanya berlangsung selama lima malam. Kemudian upacara yang kedua yang disebut aluk dio rante biasanya dilangsungkan selama dua malam atau lebih.
Tenggang waktu antara upacara pertama dan kedua bisa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, tergantung kesiapan keluarga. Selama menunggu penyelenggaraan upacara kedua, si 'sakit' ditidurkan di atas rumah dan tetap diperlakukan sebagai orang hidup. Yakni, memberinya makan tiga kali sehari.
Pada upacara yang kedua, ritus pertama yang dilakukan adalah ma'tundan, yang berarti membangunkan dari tidur. Posisinya lalu diubah ke posisi orang mati. Setelah melakukan beberapa ritus lainnya, ritus terakhir adalah memutus hubungan dengan rumah tongkonan dan lumbung. Secara simbolis ia diputuskan dari rumpun keluarga dan kampung halamannya. Tetapi, ia diputuskan bukan untuk pergi selamanya. Ia tetap diharapkan menjadi nenek moyang mereka yang aktif membangun hubungan kembali dengan orang hidup, terutama diharapkan akan kembali melipatgandakan apa yang sudah dikorbankan kepadanya.
Karena keunikan budaya Toraja ini, The History Channel dari TV Fox Amerika Serikat sebagaimana dituturkan Stanislaus Sandarupa, telah memilih budaya Toraja ini bersama budaya Minangkabau dari Indonesia untuk ditayangkan dalam 12 episode rites of passage dari bebagai penjuru dunia pada Mei mendatang. MJ (BI 56)
| < Prev |
|---|



