Majalah Berita Indonesia

Friday, Jul 30th

Last update04:15:44 PM GMT

Majalah Berita Indonesia RSS Feed
You are here Edisi Cetak Budaya Menyusuri Lorong Masa Lampau

Menyusuri Lorong Masa Lampau

E-mail Print PDF
User Rating: / 0
PoorBest 

Gempa bumi besar telah menghancurkan beberapa bangunan dan mengeringkan kolam-kolam serta danau buatannya.

Kolam pemandian untuk Selir dan Puteri Raja. Kolam untuk permaisuri di balik tembok

Berdirilah di atas puing-puing pesanggrahan Komplek Taman Sari yang menandai kemegahan masa lampau, berpayung langit biru. Begitu terasa ceceran sejarah di sini. Di antara dinding-dindingnya yang nyaris runtuh.

Terletak di Kampung Taman, 500 m sebelah selatan kompleks Keraton Yogyakarta, dibangun pada 1578, dengan luas total 12,6 hektar. Area antara tenggara taman sampai perempatan kota disebut Kampung Segaran yang merupakan danau buatan. Area ini sekarang dinamakan Suryoputran. Setiap Sultan mengunjungi taman, beliau mendayung perahu melewati jembatan gantung yang disebut Kreteg Gantung yang terletak di depan gerbang istana, wilayah utara atau selatan Kemandungan.

Selain dibangun sebagai tempat bercengkerama dan menenangkan diri Sultan sekeluarga, Taman Sari juga dilengkapi lorong rahasia untuk berlindung dan menyelamatkan diri.

Komplek ini mulanya memiliki 57 bangunan, seperti kebun, gapura, danau buatan, kolam pemandian, kanal air, juga masjid dan lorong bawah tanah. Namun sudah tidak lagi berfungsi sejak paruh kedua abad XIX dan semakin merana sejak terjadi gempa bumi besar yang melanda Yogyakarta pada 10 Juni 1867.

Gempa itu turut menghancurkan beberapa bangunan dan mengeringkan kolam-kolam serta danau buatannya. Seiring dengan berjalannya waktu, atas seizin Sultan, para abdi dalem mulai mendirikan pemukiman di gedung-gedung yang telah kosong dan area bekas danau yang telah mengering.

Upaya untuk mengembalikan pesona bangunan dengan perpaduan gaya Portugal, Jawa, Islam, dan Cina itu pun ditempuh. Pada tahun 1977, pemerintah DIY hanya merestorasi lima bangunan.

Taman itu kini mulai menampakkan bentuk aslinya sejak direservasi September 2003, oleh Tim Jogja Heritage Society (JHS) yang terdiri dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) serta Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Pendanaan rehab Taman Sari berasal dari tiga sumber utama, yaitu Pemerintah DI Yogyakarta, Colouste Golbenkian Foundation (CGF) Portugal dan World Monument Savana Found Georgia USA yang bekerja sama dengan Yogyakarta Heritage Society. 

Menyusuri Taman
Beberapa bagian dari pesanggrahan Taman Sari yang sampai saat ini masih berdiri antara lain Kolam Pemandian. Terdiri dari tiga kolam yang dihiasi pot-pot besar. Umbul Muncar untuk putra-putri Sultan, Umbul Binangun bagi para selir, dan Umbul Pamungkas khusus untuk permaisuri—letaknya paling selatan dan dipisahkan oleh bangunan bertingkat, tempat Sultan melempar bunga ke selir pilihannya. Air mengalir dari pancuran berbentuk kepala naga dan dari bunga teratai yang tersebar di tengah kolam.

Raja memasuki taman sari dari gerbang ini

Selain itu ada Sumur Gumuling. Bangunan tingkat dua yang bentuknya melingkar. Tengahnya berupa ruang terbuka dengan lima tangga yang melambangkan rukun Islam. Selain terdapat masjid, selusur bangunan ini, konon, terhubung dengan lorong-lorong bawah tanah. Kabarnya, ini adalah jalan rahasia menuju komplek Keraton dan Pantai Selatan.

Pulau Cemeti atau nama lainnya Pulau Kenanga. Ini merupakan tempat peristirahatan, pengintaian, sekaligus balai pertemuan. Ketika kanal dibuka dan air menggenangi sekelilingnya, bangunan ini tampak seperti bunga teratai bila dilihat dari atas. Bangunan yang pernah menjadi bangunan tertinggi di Yogyakarta itu kini hanya menyisakan puing-puing tembok yang semakin rapuh akibat gempa bumi di Yogya, 2006 lalu.

Ruangan Sakral adalah bagian yang agak terpisah. Pengunjung harus melewati reruntuhan ruang makan dan dapur Sultan yang disebut Gedong Madaran. Fungsinya Ruang Sakral adalah sebagai peristirahatan dan pertapaan Sultan sekeluarga. Salah satu biliknya adalah tempat semadi Sultan yang dikelilingi 6 bak mandi selirnya. Bila mampu melewati godaan, Sultan akan bertemu dengan Kanjeng Ratu Kidul, Ratu Pantai Selatan yang konon menjadi istri raja-raja di Tanah Jawa. Semua bagian bangunan itu sudah selesai direnovasi, kecuali Pulau Cemeti.

Di beberapa tempat yang belum terjamah renovasi pun sebenarnya menarik untuk dikunjungi. Sebaiknya, seperti yang dilakukan Berita Indonesia, pengunjung menyewa pemandu wisata yang memahami setiap detail ornamen bangunan.

Kamar tidur Sultan, misalnya, cukup menarik karena tempat tidurnya terbuat dari tembok bata dan semen. Dan ada semacam kolong di bagian bawahnya untuk perapian jika dipakai di musim dingin. Konon dahulu kala, di dinding kamar seberang tempat tidur, dipasang cermin-cermin besar.
Di belakang kamar tidur, ada saluran air yang ditembok. Ada rongga-rongga kecil di sepanjang dindingnya untuk menyetem nada laiknya gitar. Sehingga suara gemericik air yang mengalir itu terdengar merdu.

Dapur yang dipakai memasak makanan untuk Sultan juga menunjukkan teknologi kearifan lokal yang mengagumkan. Tak ada unsur kayu sama sekali untuk menghindari bahaya kebakaran. Selain itu sistem pembuangan limbahnya dibuat sedemikian rupa sehingga dapur tidak kotor atau berbau. Kompor yang dipakai hampir mirip dengan tempat tidur Sultan, yakni berupa meja tembok yang dibawahnya ada rongga untuk perapian. Jika meja tembok sudah panas, panci-panci akan diletakkan diatasnya untuk mematangkan makanan. Sehingga, peralatan memasak tidak hitam oleh jelaga.
Ada banyak teknologi bangunan tradisional yang bisa dipelajari saat mengunjungi situs sejarah ini. Misalnya cara mengawetkan kayu kusen pintu dan jendela dengan mengoleskan air campuran tembakau, batang pohon pisang, dan cengkeh pada kusen dan daun pintu atau jendela.

Reruntuhan keraton yang pernah menjadi bangunan tertinggi di Yogyakarta

Tembok asli Taman Sari juga terbuat dari campuran bahan yang bernama bligon. Bligon merupakan materi traditional coating yang terdiri dari campuran pasir, kapur, dan semen merah. Semen merah di sini merupakan hasil tumbukan bata merah, sedangkan kapur yang digunakan adalah gamping. Bligon yang dipakai pada dinding bangunan-bangunan di Taman Sari itu memunculkan warna coklat muda.

Selain itu, bisa dilihat bahwa dinding luar yang memagari kolam pemandian dibangun agak condong ke luar. Alasannya agar tidak mudah runtuh oleh gempa.

Sejarahnya
Pesanggrahan Taman Sari merupakan tempat pemandian yang sudah dikenal sejak masa pemerintahan Panembahan Senopati. Lokasi Taman Sari yang sekarang ini lebih dikenal dengan nama Umbul (mata air) Pacethokan, yang dulu terkenal dengan debit airnya yang besar dan jernih. Pacethokan menjadi salah satu pertimbangan penting bagi penentuan letak calon Keraton Yogyakarta.

Menurut salah satu versi cerita mengenai pembangunan Pesanggrahan Taman Sari, di masa pemerintah Sultan Hamengku Buwono II, seorang Portugis terdampar di daerah pantai Mancingan, selatan Yogyakarta. Karena berbahasa asing, dia dihadapkan kepada Sultan.

Sultan Hamengku Buwono II pun memerintahkan orang itu agar membuat benteng. Karena Sultan berkenan atas hasil kerjanya, maka ia kemudian diberi kedudukan sebagai demang. Orang itulah yang dikenal dengan nama Demang Portegis atau Demang Tegis. Dialah konon yang diperintahkan untuk membangun Pesanggrahan Taman Sari. Itu sebabnya Pesanggrahan Taman Sari menunjukkan unsur seni bangunan yang berasal dari Eropa. RH (BI 53)

Add comment


Security code
Refresh

Berita Utama

utama_1_21.jpg
Di pertengahan jalan pemerintahan SBY-JK, Golkar mengembangkan wacana untuk menilai kembali dukungannya. Banyak alasan kenapa Golkar
utama_1_43.jpg
Tiga rentetan peristiwa politik terbaru yang terjadi di Ambon, Papua, dan Aceh, sangat mustahil untuk tidak dimaknai sebagai upaya

Visi Berita

visi_1_66.jpg
Di tengah suasana relatif damai saat penyelenggaraan Pemilu Legislatif 9 April 2009 lalu,rupanya terjadi kemunduran
visi_29.jpg
Menunggu arus balik investasi asing, ibarat pameo petani yang mengharapkan jatuhnya hujan di musim panas.

Lentera

lentera_11_62.jpg
Keberhasilan tim ASSA tidak hanya milik para pesepeda namun juga milik tim-tim pendukung yang perannya sangat
lentera_5_17.jpg
Bangsa yang arif akan memilih jalan perbaikan pendidikan secara mutlak bagi bangsanya. Sebab bangsa yang terdidik pasti
Share/Save/Bookmark