Majalah Berita Indonesia

Thursday, Apr 27th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Budaya Birau Setelah 218 Tahun
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Birau Setelah 218 Tahun

E-mail Print PDF

Pesta birau diharapkan mampu melestarikan budaya daerah. Berbagai kesenian dari beberapa daerah di seluruh Indonesia ikut ambil bagian. Bukti keterbukaan masyarakat asli Bulungan menerima para pendatang.

Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur memang ibarat gadis desa cantik yang belum tersentuh tangan tukang rias. Wilayah Bulungan memiliki banyak potensi pariwisata. Selain alamnya yang indah dan mempesona, seni dan budaya masyarakatnya pun memiliki daya tarik yang mampu menawan turis manca negara. Namun, hingga sekarang masih belum ada objek wisata yang dapat dibanggakan sebagai pariwisata andalan.

Pesta ‘Birau’ kembali untuk mengembangkan produk wisataOleh sebab itu, pesta ‘Birau’ kembali dilaksanakan untuk mengembangkan produk wisata. Selain itu, untuk melestarikan adat, seni dan budaya masyarakat Bulungan. Memberi hiburan kepada masyarakat, sekaligus penyampaian informasi pembangunan. Demikian disampaikan Bupati Bulungan Drs H Budiman Arifin, MSi dalam acara pembukaan Birau 2008 yang dirangkai dengan Hari Ulang Tahun (HUT) ke 218 Kota Tanjung Selor dan HUT ke 48 Kabupaten Bulungan.

Birau, sebuah kata dalam bahasa suku Bulungan yang artinya, pesta besar (agung). Sebuah tradisi (pesta adat) yang dulunya biasa dilakukan oleh Sultan Bulungan secara turun-temurun.

Birau diselenggarakan pada saat perkawinan putera-puteri Sultan, khatam Al Qur’an, sunatan, naik ayun/injak tanah, dan teristimewa saat penobatan sultan. Birau sudah menjadi salah satu upacara adat di kalangan Kesultanan Bulungan, sekaligus sebagai sarana partisipasi dan hiburan bagi rakyat.

Menurut data/arsip yang tersimpan di museum Kesultanan Bulungan di Tanjung Palas, Birau secara intensif diselenggarakan di masa pemerintahan Ali Kahar. Sultan Bulungan ke V yang bergelar Sultan Kaharuddin II atau Puen Tua memerintah dari tahun 1875-1889. Pesta akbar ini seakan jadi pesta syukur dan kegembiraan bagi masyarakat Bulungan yang terdiri dari berbagai etnik dan suku hingga terakhir kali diselenggarakan tahun 1955 pada saat khatam dan khitanan Datuk Ali putera Sultan Maulana Djalaluddin.

Lagi, menurut data tersebut, penyelenggaraan Birau yang paling meriah dan besar yang berlangsung selama 40 hari 40 malam terjadi pada tahun 1946. Saat itu - Sultan Bulungan Ke X yang bernama Sultan Maulana Djalaluddin dianugerahi pangkat “Letnan Kolonel Tituler” oleh Ratu Belanda Wihelmina. Ini sebuah penghargaan tentunya.

Namun, sejak Sultan Maulana Djalaluddin pada 12 Desember 1958 meninggal dunia, tidak ada lagi ditemukan catatan penyelenggaraan Birau di Bulungan, atau bekas Kesultanan Bulungan yang meliputi wilayah Tarakan, Nunukan, Malinau, dan Tanah Tidung, yang sekarang dimekarkan jadi kota dan kabupaten. Tapi, setelah H Jusuf Dali terpilih sebagai Bupati pada tahun 1991, ia menetapkan penyelenggaraan birau setiap dua tahun, yang kemudian oleh Bupati RA Bessing (almarhum) menjadikannya setiap tahun untuk mengembangkan produk wisata di Wilayah Utara Provinsi Kalimantan Timur yang berbatasan langsung dengan Negara bagian Sabah dan Serawak Malaysia Timur.

Penyelenggaraan birau ini menjadi melembaga karena dipadukan dengan perayaan hari jadi Kota Tanjung Selor, bulan Oktober tahun 1790, dan hari jadi Kabupaten Bulungan yang jatuh pada 12 Oktober 1960. “Birau ditetapkan pada setiap 12 Oktober, dan ketetapan tersebut dikukuhkan dalam Perda Tk II Bulungan Nomor 02 Tahun 1991. Setelah itu disahkan lagi dalam SK Gubernur Kepala Daerah (KDH) Tk I Kaltim No 003.3-IV.2-144,” kata Kabag Humas dan Protokol Sekretariat Kabupaten Bulungan, Drs Yahdian Noor, MSi kepada SL Pohan, wartawan Berita Indonesia di Tarakan.

Secara tradisional, Birau bukanlah semata-mata sebuah pesta besar, tapi juga sebagai refleksi kegembiraan atas suatu keberhasilan pencapaian sesuatu. Ia punya estetika dan norma-norma adat yang kharismatik, sakral serta sarat dengan nilai-nilai seni budaya yang khas Kesultanan Bulungan. “Birau yang dikemas untuk kebutuhan masa kini, selain menampilkan perpaduan budaya tradisional juga konvensional,” tutur Yahdian Noor.

Aspek tradisional misalnya, upacara biduk bebandung, lomba perahu atau yang disebut “Alut pasa pabeka tawai uyan” di Sungai Kayan, dan tarian masing masing daerah, serta kesenian dari suku yang bermukim di Bulungan dari berbagai daerah di Indonesia. Sementara yang konvensional meliputi pameran hasil pembangunan dari segala bentuk instrumen.

Itulah sebabnya, Pejabat (Pj) Gubernur Kaltim H Tarmizi A.Karim, dalam acara penutupan yang berlangsung selama seminggu, berharap - pesta seni dan budaya Birau itu mampu melestarikan adat budaya serta menjalin persatuan dan kesatuan sesuai motto pesta Birau 2008 itu sendiri. “Dengan Semangat Kadandiyu Dandiyu Lai Kadandiyu Kadanding Tingkatkan, Merudung Pebatun De Banuanta” yang artinya, Dengan semangat keprihatinan namun penuh kesungguhan dan optimis, bekerja keras memeras keringat, kita tingkatkan rasa kebersamaan, senasib sepenanggungan dalam membangun di daerah kita. SLP (Berita Indonesia 62)


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com