Majalah Berita Indonesia

Thursday, Apr 27th

Last update01:43:53 AM GMT

You are here Berita Budaya Karuhun di Kampung Naga
Jual Buku Al-Zaytun Sumber Inspirasi
Kuis Tokoh Indonesia - TokohIndonesia.com

Karuhun di Kampung Naga

E-mail Print PDF

Kampung Naga dengan jajaran rumah panggung dari bambu dan kayu serta beratap ijuk, daun nipah atau alang-alangMenjadi obyek riset, penelitian dan wisata karena kekhasan budayanya. Sayangnya,sementara ditutup untuk umum karena konflik antara tetua adat dengan pemerintah.

Kampung di pinggir Sungai Ciwulan itu memang unik.Jajaran rumah panggung dari bambu dan kayu serta beratap ijuk, daun nipah atau alang-alang, menambah kental atmosfir tradisional di desa itu. Kampung Naga, namanya.

Tak ada naga di desa itu. Nama itu diambil dari kata ‘nagawir’ dalam bahasa Sunda, yang artinya lereng bukit. Menuju kampung itu memang harus menuruni anak tangga di lereng yang kemiringannya hampir 45 derajat.

Dengan luas areal kurang lebih empat hektar, lokasinya terletak pada ruas jalan raya yang menghubungkan Tasikmalaya - Bandung melalui Garut, yaitu kurang lebih pada kilometer ke-30, ke arah Barat kota Tasikmalaya. Secara administratif, Kampung Naga termasuk kampung Legok Dage, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya.

Rumah-rumah yang berjajar itu berjumlah sekitar 108, ditambah sebuah mesjid, sebuah balai pertemuan, dan sebuah lumbung padi. Rumah tinggal harus menghadap selatan atau utara. Bahan bangunan tidak boleh tembok, melainkan kayu atau bambu. Cat tembok juga dilarang, kecuali kapur atau cat meni.

Penduduk tidak punya perabot seperti kursi, meja dan tempat tidur. Selain itu, tidak boleh ada pintu yang berlawanan arah, karena dipercaya akan menyebabkan rezeki yang masuk ke pintu depan akan keluar lewat pintu belakang.

Islam merupakan agama yang dianut penduduk Kampung Naga. Namun, pelaksanaan ibadahnya agak berbeda dengan pemeluk Islam lainnya. Seperti ditulis harian Indo Pos, 15 Februari 2006, penduduk Kampung Naga hanya sholat lima waktu di hari Jumat saja. Kegiatan mengaji anak-anak dilakukan Minggu dan Rabu malam. Untuk orang dewasa pada Kamis malam.

Kepatuhan pada adat leluhur menjadi daya tarik wisatawan. Mereka melakukan berbagai upacara adat dan upacara hari-hari besar Islam, misalnya Upacara Bulan Mulud atau Alif dengan melaksanakan ‘Pedaran’ (pembacaan sejarah leluhur). Proses ini dimulai dengan mandi di Sungai Ciwulan dan wisatawan boleh mengikuti acara tersebut dengan syarat harus patuh pada aturan yang ada.

Upacara menyepi dilakukan oleh masyarakat Kampung Naga pada hari Selasa, Rabu, dan hari Sabtu. Upacara ini dianggap sangat penting dan wajib dilaksanakan, tanpa kecuali baik laki-laki maupun perempuan.

Upacara yang paling menarik perhatian wisatawan adalah Hajat Sasih yang diselenggarakan bertepatan dengan hari-hari besar Islam. Upacara ini merupakan upacara ziarah dan membersihkan makam. Sebelumnya, para peserta upacara harus melaksanakan beberapa tahap upacara. Mereka harus mandi dan membersihkan diri dari segala kotoran di sungai Ciwulan.

Pendapatan Tambahan
Wisatawan lokal maupun asing yang datang, biasanya akan disambut dengan ramah. Kampung ini memang menjadi salah satu obyek wisata andalan Pemda Tasikmalaya. Ada penduduk setempat yang akan mengantar berkeliling kampung dan menjelaskan adat istiadat mereka.

Ketika berkeliling kampung, akan terlihat kehidupan khas pedesaan berjalan seperti di tempat-tempat lain. Petani bekerja di sawah, para pengrajin sibuk menenun dan menganyam, sama sekali tak terusik dengan kedatangan wisatawan.

Penduduk mendapatkan tambahan penghasilan dari menjual kerajinan tangan kepada wisatawan. Mereka biasanya membuat tas, sandal maupun tempat makanan kecil dari anyaman.

Sayang sekali, saat ini para tetua adat di kampung itu sepakat untuk sementara menutup kampungnya sejak 6 Februari lalu. Konflik itu, seperti dilaporkan, dipicu oleh kebijakan Pemda Tasikmalaya yang dengan sepihak menaikkan tarif retribusi parkir hingga 100 persen sejak November 2005. Pasalnya, tidak sesen pun uang retribusi itu masuk ke kas Kampung Naga maupun warga. Padahal, wargalah yang membersihkan areal parkir.

Akibat penutupan itu, selain turis, sejumlah lembaga penelitian, sekolah dan universitas tidak dapat melakukan penelitian di kampung tersebut. Saat ini, DPRD Tasikmalaya tengah membentuk Pansus untuk mencari jalan keluar yang terbaik.RH (Berita Indonesia 10)***


Related Articles:

Beri Komentar


Kode keamanan Refresh

Biografi Bismar Siregar di TokohIndonesia.com
Biografi Haryono Suyono di TokohIndonesia.com
Biografi Kak Seto di TokohIndonesia.com
Biografi Jusuf Kalla di TokohIndonesia.com
Biografi Hatta Rajasa di TokohIndonesia.com