Kebijakan boleh berubah, pimpinan boleh berganti, tapi calo tak akan kemana-mana. Mungkin ungkapan ini cukup proporsional untuk menggambarkan kondisi pelayanan publik di negeri ini.
Pengurusan Surat Izin Mengemudi (SIM) tidak selalu mengalir seperti air. Paling tidak, pengalaman dua pemohon SIM yang dituturkan kepada Berita Indonesia memberi bukti yang berbeda. Mereka berniat mengurus SIM di Kantor Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (Samsat) di Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat. Seorang mengurus SIM A, seorang lainnya mengurus SIM A dan SIM C.Senin (13/11), suasana dalam kompleks Samsat terlihat lengang. Sebelum memasuki kompleks Samsat, di depan pintu masuk, beberapa calo berjalan hilir mudik menawarkan jasa mengurus SIM ‘langsung jadi hari itu’. Mereka memilih mengurus SIM langsung di dalam. Saat memasuki kompleks, terlihat sekumpulan anak muda berdiri dan duduk di lapangan parkir. Tidak jauh dari mereka, diparkir beberapa mobil dengan stempel ‘Belajar Mengemudi’.
Mereka melangkah ke dalam, di pintu masuk disambut tiga orang polisi. Dua petugas duduk di belakang meja di samping detektor logam, sementara satu lagi berdiri tidak jauh dari meja tersebut. Setelah menunjukkan KTP, melewati detektor logam, mereka melihat sederetan petugas di bagian informasi. Untuk mendapatkan informasi yang lebih jelas, mereka menanyakan prosedur mengurus SIM baru pada seorang petugas yang berdiri di dekat loket Pembayaran Asuransi. Tanpa basa-basi, petugas itu langsung menawarkan jasanya. “Kalau Bapak mau cepat, jadi hari ini, paling lama tiga jam, bisa urus lewat saya. Tarifnya 420.000 rupiah,” kata petugas itu dengan nada meyakinkan.
Keduanya berusaha menawar dengan harga yang lebih murah, namun petugas itu tetap bersikeras, lalu pergi melayani para pemohon lain yang sebagian besar sedang gelisah. Ada beberapa petugas yang berdiri di situ, dan sepertinya mereka sudah sepakat memasang tarif antara Rp 420.000 - Rp 450.000 untuk pengurusan satu SIM baru (SIM A atau SIM C). Alih-alih ingin mendapat pelayanan yang lebih baik, keduanya mengeluarkan kartu pers. Setelah itu, semuanya berubah. Petugas-petugas itu kemudian berkata, “Silakan Bapak beli formulir dulu lalu diisi, nanti akan kami bantu.”
Melihat tarif calo dalam (calo resmi?) yang lumayan mahal untuk satu SIM, di samping keengganan mendukung praktek percaloan, mereka memutuskan untuk mengurus SIM sendiri. Dalam pengurusan SIM, pemohon harus membayar biaya formulir administrasi Rp 75.000 ditambah asuransi Rp 15.000, biaya pemeriksaan kesehatan Rp 10.000, dan formulir ujian praktek Rp 10.000 (SIM A), Rp 5.000 (SIM C). Jadi total biaya yang harus dikeluarkan untuk satu SIM A, Rp 110.000. Bila belum memiliki fotokopi KTP, pensil 2B, biaya tambahan sekitar Rp 10.000.
Setelah semua berkas yang diperlukan lengkap, mereka diarahkan ke lantai dua untuk mengikuti ujian teori dan praktek. Saat mereka menyerahkan berkas-berkas tersebut ke loket ujian teori, petugas di situ meminta Rp 10.000.- untuk satu berkas. Ada tiga berkas yang mereka bawa (dua SIM A, satu SIM C), jadi mereka harus mengeluarkan uang lagi Rp 30.000. Petugas tersebut kemudian mempersilakan mereka mengikuti ujian teori di lantai dua.
Suasana di lantai dua, pagi itu, tidak terlalu ramai. Mereka melihat ada dua ruangan ujian teori. Ruang pertama, merupakan ruangan ujian teori yang menggunakan komputer. Pintunya setengah terbuka. Di sampingnya terdapat ruangan ujian teori yang hanya diisi oleh kursi-kursi kayu khas ruang belajar mahasiswa.
Seorang petugas perempuan bertubuh tinggi besar, berdiri di luar mempersilakan mereka bersama para pemohon lainnya, masuk. Terlintas dalam pikiran mereka, mengapa mereka tidak masuk ke dalam ruangan ujian teori yang sudah memakai komputer. Hanya segelintir orang yang masuk ke ruangan itu. Sedangkan ruangan ujian teori yang kedua, penuh dengan para pemohon.
Saat di dalam ruangan, mereka melihat petugas perempuan tersebut melangkah masuk, membawa dua pemohon ke belakang ruangan. Di sisi kanan belakang ruangan, petugas dan kedua pemohon tersebut hilang. Sepertinya ada ruangan lain di situ. Setelah beberapa menit, petugas itu keluar dan dua pemohon tadi langsung duduk di kursi bagian belakang, bersiap-siap mengikuti ujian teori. Mereka tidak tahu apa yang terjadi di situ.
Tepat pukul 12.00 siang, ujian teori dimulai. Lembaran soal yang dilaminating dan kertas jawaban yang harus diisi dengan pensil 2B sudah dalam genggaman. Waktu yang diberikan hanya 30 menit untuk menjawab 30 pertanyaan yang ada dalam lembaran itu. Secara umum, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan bisa dijawab dengan mudah. Setelah memastikan lembar jawaban sudah diisi dengan benar dan menuliskan kode registrasi, nama, dan alamat, lembaran itu dikumpulkan kepada petugas kurus hitam berambut cepak yang sejak awal ujian duduk di belakang meja di bagian depan ruangan tersebut. Petugas ini pula yang memberikan briefing tentang cara menjawab soal dan mengisi formulir jawaban.
Ada sedikit optimisme saat keluar dari ruangan ujian teori bahwa mereka akan lulus. Mereka turun dari lantai dua, kemudian duduk di kursi yang disediakan untuk menunggu pengumuman hasil ujian teori. Lima menit berlalu, suara petugas perempuan membahana melalui mikrofon. Ada satu kalimat yang masih lekat dalam ingatan, “Bagi Anda yang mendapat nilai 17 ke bawah dinyatakan tidak lulus, dan harus mengulang, tanggal 24 November. Bagi Anda yang mendapat nilai 18 ke atas, dinyatakan lulus dan dipersilakan langsung mengikuti ujian praktek.”
Satu per satu pemohon dipanggil dengan menyebut nama dan alamat lengkap. Saat menerima lembaran kecil berwarna kuning berbentuk persegi, raut wajah keduanya berubah. Di atas kertas tersebut tertera angka 17. Dua hasil ujian teori untuk SIM A ditulis angka 17. Satu hasil ujian teori untuk SIM C juga ditulis angka 17. Bagaimana mungkin dua orang yang berbeda, dengan pikiran yang berbeda, dengan 30 soal yang berbeda, bisa mendapat hasil jawaban yang benar cuma 17.
Dengan hati dongkol sambil sedikit menyesal karena tidak menggunakan jasa calo dalam tadi, mereka melangkah keluar. Pintu masuk yang mereka lewati tadi pagi sudah ditutup. Petugas-petugas yang sebelumnya berdiri di depan pintu masuk sudah tidak terlihat lagi batang hidungnya. Akhirnya mereka memutuskan pulang dengan perasaan kecewa.
Saat keluar melewati gerbang kompleks Samsat, dan belok ke kiri, mereka dihadang oleh beberapa orang calo yang berdiri di pinggir jalan. Kaca mobil yang terbuka membuat mereka dengan leluasa berteriak menyodorkan jasa. “Ngurus apa Pak? Hari ini langsung foto!” kata seorang perempuan muda berbusana hitam-hitam. Terlintas dalam benak mereka, sebuah cerita yang sudah jadi pameo: “Kalau mengurus SIM tidak melalui calo tidak akan pernah lulus.” Terbayang lagi dalam pikiran mereka, menunggu dua minggu untuk mengikuti ujian teori yang kedua, dinyatakan tidak lulus lagi, dan harus menunggu tiga bulan lagi untuk mengikuti ujian ketiga. Kalau tidak lulus juga bagaimana?
Perempuan muda yang pandai merayu itu berhasil membuat mereka memarkirkan mobil di sebuah halaman di pinggir jalan raya. Di situ berdiri sebuah rumah yang tidak terawat dengan halaman yang dipenuhi genteng-genteng tanah liat. Di pojok kiri halaman, ada sebuah warung dengan beberapa kursi panjang. Tempatnya adem karena dinaungi oleh sebuah pohon. Beberapa orang yang mengurus SIM, termasuk para calo duduk di situ. Rupanya itu tempat mangkalnya para calo yang berhasil menggaet ‘korbannya’.
Setelah tanya sana-sini dengan sebongkah kecurigaan terhadap ‘keaslian’ para calo ini, mereka sepakat membayar Rp 630.000 untuk dua SIM A dan satu SIM C. Mereka termakan oleh promosi para calo yang mengatakan SIM bisa selesai hari ini, dan langsung foto. Para calo itu kelihatannya mempunyai tarif tersendiri. Bagi calo yang berhasil menarik satu orang akan mendapat uang jasa Rp 100.000.
Selebihnya diterima oleh ‘perusahaan’ yang kemudian dibuatkan kuitansinya. Awalnya ‘bagian keuangan’ calo itu meminta mereka membayar penuh, namun mereka menolak, dan membayar sebagian saja, termasuk jasa calo untuk perempuan muda tadi. Di warung itu langsung terjadi transaksi.
Sambil menahan lapar, demi sedikit harapan agar bisa mendapat SIM hari itu, mereka duduk di pinggir rumah itu, menunggu hasilnya. Perempuan muda tadi meminta KTP asli dan berkas-berkas pengurusan SIM lalu melangkah pergi. Tidak lama kemudian, dia kembali, mengembalikan KTP tersebut. Perempuan itu meminta mereka menunggu, sembari berkata, “Sedang diurus di dalam. Silakan ditunggu Pak.”
Limat belas menit berlalu, seorang perempuan muda yang sudah hamil tua datang menghampiri mereka. “Berkas-berkas Bapak sudah kami urus. Bapak datang lagi ke sini hari Kamis, 16 November, pukul 10.00 pagi untuk mengurus SIM-nya,” katanya penuh alasan. Mereka kemudian menanyakan perihal janji calo yang mengatakan langsung jadi hari itu. “Bapak sudah mengurus sendiri. Mau tidak mau, berkas-berkasnya harus diputihkan dulu, lalu dibuat yang baru. Sedang prosesnya memakan waktu tiga hari. Jadi, Bapak datang saja hari Kamis, semua pasti beres,” katanya sambil berniat melangkah pergi.
Merasa sedikit tertipu dan tidak puas dengan jawaban perempuan itu, mereka mencari Ibu Syariah, katanya ‘pimpinan’ para calo tersebut. Ibu Syariah menanyakan kepada perempuan tadi, kenapa tidak bisa jadi hari ini, dan kemudian memberikan jawaban yang sama kepada mereka. Sepertinya, para calo itu sudah menyusun skenario sandiwara untuk berkelit seakan-akan hal yang dihadapi saat itu di luar rencana mereka. Daripada masalah bertambah panjang, hari pun mulai sore, mereka memutuskan datang lagi Kamis. Bayangan kalau para calo itu kabur membawa uang mereka, terlintas juga. Tetapi itulah risiko menggunakan jasa calo. Mereka pulang dengan tangan hampa.
Kamis (16/11). Pagi itu, bayangan calo-calo itu kabur menggelayut dalam pikiran mereka dalam perjalanan menuju Kantor Samsat Daan Mogot. Tetapi semuanya sirna setelah mendapati calo-calo yang mangkal beberapa hari lalu masih ada di situ.
Di tempat yang sama, di warung yang dinaungi pohon yang rindang, mereka melunasi sisa pembayaran kepada para calo tersebut. ‘Bagian keuangan’ kemudian menyelipkan sejumlah uang dalam tiga amplop putih lalu disegel. Mereka tidak tahu berapa jumlah uang di dalamnya. Sambil memberikan berkas-berkas pengurusan SIM yang sudah diputihkan dan tiga amplop yang disegel, calo itu berkata, “Silakan Bapak langsung masuk ke dalam, naik ke lantai dua. Bilang saja sama petugas yang di pintu masuk bahwa Bapak mau mengambil hasil ujian teori.” Setelah berdebat beberapa lama karena merasa hari itu tinggal diambil foto dan SIM langsung jadi, mereka mengalah juga. Rupanya, calo-calo di luar ini tidak berani dan tidak boleh lagi masuk ke dalam. Pemohon sendirilah yang mengurus segala tetek bengek yang berkaitan dengan formulir, ujian teori dan praktek. Namun bagi yang sudah ‘membayar’ diberikan kode tertentu, pertanda bahwa pemohon ini harus dinyatakan lulus.
Mereka memendam sedikit keraguan, selain karena merasa berdosa ikut terjebak dalam praktek percaloan, ketika naik ke lantai dua, menuju ruang ujian teori. Petugas perempuan bertubuh tinggi besar tempo hari, berdiri tegap mempersilakan pemohon masuk ke dalam ruangan. Agak sedikit canggung, amplop putih yang ditutupi sedemikian rupa dengan berkas-berkas, mereka sodorkan kepada petugas itu. “Tolong dibantu Bu,” kata mereka mengulang perkataan calo di warung tadi. “Ini dari mana?” kata perempuan itu. “Dari calo di depan, Ibu Syariah,” jawab mereka. “Silakan duduk paling belakang,” kata perempuan itu menyuruh mereka masuk.
Baru sebentar duduk di bangku paling belakang, perempuan itu masuk sambil melambaikan tangannya meminta mereka agar mengikutinya. Dengan sedikit penasaran mereka memasuki sebuah ruangan di belakang ruang ujian itu yang di dalamnya terdapat beberapa pemohon sedang ‘mengurus’ SIM-nya. Di situ terdapat dua orang berpakaian bebas, satu laki-laki, satu perempuan, duduk di belakang meja. Di hadapannya terdapat setumpukan map dan kertas-kertas. Perempuan yang membawa mereka menyodorkan tangannya, meminta amplop yang mereka sodorkan tadi di luar pintu.
Laki-laki berkacamata yang duduk di belakang meja, kemudian menerima amplop tersebut lalu menghitung jumlahnya. Dengan sedikit gusar dia berkata, “Kalian bayar berapa sama calo itu? Uang yang dikasih, kurang. Masak mengurus dua SIM A dan satu SIM C, segini. Kalian sudah ditipu!” katanya sambil menghentakkan selembar amplop. Perempuan yang ada di samping laki-laki itu sambil memain-mainkan pulpennya, tertawa kecil. Kelihatannya tidak ada lagi rasa berdosa di wajahnya. “Kurangnya berapa,” mereka balik bertanya, karena tidak mengetahui tarif sebenarnya untuk satu SIM.
Laki-laki itu kemudian mengembalikan amplop tersebut kepada mereka. Petugas yang mengantar, menyuruh mereka menemui seorang petugas di pintu depan agar ‘mengurus’ para calo yang sudah menipu mereka dan meminta uangnya. Mereka juga diminta menemui seorang petugas berinisial FNDI di bagian Arsdok. Setelah urusan selesai dengan dia, mereka diminta kembali ke ruang ‘belakang’ tersebut.
“Sialan, kita dikerjain sama calo luar,” kata mereka dalam hati. Mereka pun melangkah keluar, lalu turun ke lantai satu. Sambil duduk di bangku yang tidak jauh dari toilet, mereka meminta rekan mereka yang sedang menunggu di mobil menghampiri para calo itu dan meminta penjelasan mengapa jumlah uang yang ada di amplop itu kurang.
Setelah dicecar dengan berbagai pertanyaan yang penuh emosi, para calo itu akhirnya mengaku bahwa uang yang dimasukkan ke dalam amplop itu kurang jumlahnya. Mereka diminta menambah lagi sebesar Rp 370.000.- agar memenuhi ‘kuota’ tarif yang berlaku di dalam, dengan rincian, Rp 260.000 untuk satu SIM A dan Rp 250.000 untuk satu SIM C. Setelah mendapat informasi dari rekan mereka, uang sejumlah Rp 770.000, mereka masukkan ke dalam satu amplop.
Mereka beranjak dari tempat duduk menuju lantai dua, menemui petugas berinisial FNDI. Petugas yang mereka cari rupanya duduk di belakang loket, rupanya khusus mengurusi arsip dan dokumen (Arsdok). Mereka menyerahkan amplop dan berkas-berkas. Beberapa pemohon lain sebelum mereka, melakukan hal yang sama. Tidak ada yang tertutup di loket itu. Amplop yang mereka berikan dibukanya, menebar uangnya di atas meja lalu menghitung jumlahnya. Petugas di sebelahnya menghitung ulang jumlah uang tersebut, lalu mengambil dua lembar Rp 10.000 dimasukkan ke dalam saku celananya.
Petugas berinisial FNDI ini kemudian menyuruh mereka menemui petugas yang ada di ruang belakang ujian teori sembari berkata, “Bilang, ini dari Pak FNDI.” Mungkin ini semacam kode agar urusan sudah beres. Mereka kembali ke ruangan ‘belakang’ itu menyerahkan berkas-berkas, dan amplop berisi uang. Setelah menghitung dan memastikan jumlahnya benar, laki-laki itu mencatat sesuatu di atas selembar kertas berukuran folio. Kelihatannya di situ tertera sederetan nama yang diurut dengan nomor. Berkas-berkas dikembalikan kepada mereka lalu mempersilakan mereka mengikuti ujian teori yang menggunakan komputer.
Ada dua petugas dalam ruangan ujian teori. Mereka dipersilakan mengikuti ujian dan menjawab pertanyaan dengan menggunakan sebuah kotak tombol. Tidak ada briefing di ruang itu. Berbeda dengan suasana ujian teori tertulis di ruang sebelahnya. Begitu menyelesaikan semua soal, hasil ujian langsung muncul di layar monitor. Dua ujian untuk SIM A dinyatakan lulus sedangkan satu ujian untuk SIM C dinyatakan tidak lulus. Berkas-berkas mereka kemudian dilampirkan dengan cetakan hasil ujian oleh petugas tersebut.
Mereka diminta turun ke lantai satu, menunggu pengumuman hasil ujian (padahal sudah tahu hasilnya). Nama mereka dipanggil dan dinyatakan lulus. Apa yang terjadi dengan hasil ujian untuk SIM C yang dinyatakan tidak lulus? Itu menjadi misteri. Di atas ketiga lembar kertas tanda lulus ujian yang mereka terima tertera angka 18. Pertanyaan yang sama muncul dalam benak mereka, bagaimana mungkin dua orang yang berbeda, dengan pikiran yang berbeda, dengan 30 soal yang berbeda, bisa mendapat hasil jawaban yang benar 18. Kemungkinannya sangatlah kecil.
Meski sudah menggunakan jasa calo, pemohon rupanya tetap harus mengikuti prosedur pengurusan SIM yang berlaku, sekadar formalitas. Ujian praktek tidaklah sulit. Satu mobil polisi diisi hingga penuh lalu berjalan mengitari lahan ujian praktek. Setiap pemohon diminta mengendarai mobil secara bergantian setiap jarak 20-30 meter. Formulir ujian praktek diterima oleh petugas sambil menyatakan bahwa mereka tinggal foto biar cepat pulang. Bahkan ujian praktek untuk SIM C tidak lagi dilakukan.
Sorenya, mereka pulang membawa dua SIM A dan satu SIM C dengan menggunakan jasa calo yang sempat menipu mereka. Kalau dihitung-hitung, setelah mereka menggunakan jasa calo ‘resmi’, biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 1.260.000.- untuk ketiga SIM tersebut. Padahal sesuai peraturan yang berlaku biaya yang seharusnya dikeluarkan sebesar Rp 110.000 per SIM atau Rp 330.000 untuk ketiga SIM tersebut. Berarti, uang siluman yang masuk kantong sindikat calo ‘resmi’ ini sekitar Rp 930.000.MLP,SH (Berita Indonesia 28)
| < Prev | Next > |
|---|



