| Article Index |
|---|
| Negeri Seribu Bencana |
| Giatkan Belajar Menghadapi Bencana |
| All Pages |
Setelah gempa Padang 30 September 2009, Indonesia harus bersiap menghadapi bencana-bencana lain yang sedang mengintip ingin keluar.
Di antara keindahan dan kekayaan alam Indonesia yang memiliki kurang lebih 17.500 pulau ini, tersembul pula potensi bencana yang besar.
Berada di antara empat lempeng aktif (Lempeng Pasifik, Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Filipina) menjadikan Indonesia rawan gempa tektonik sekaligus berpeluang timbulnya gelombang tsunami. Kemudian, berada dalam jalur Cincin Api Pasifik (The Pasific Ring of Fire), juga menjadikan Indonesia termasuk salah satu negara yang memiliki gunung berapi aktif terbanyak di dunia sekaligus gempa vulkanik yang mengiringinya.
Di samping itu, posisi Indonesia yang secara astronomis berada pada 60LU – 110LS dan 950BT – 1410BT dan secara geografis teletak di antara dua benua yakni Benua Asia dan Australia serta diapit dua samudera yakni Samudera Hindia dan Samudera Pasifik, membuat negeri ini menjadi salah satu wilayah yang mengalami dampak langsung dari gejolak iklim el nino yang menyebabkan perubahan iklim ekstrim berupa kemarau panjang atau sebaliknya hujan ekstrem yang sering berakibat kekeringan atau banjir.
Mengenai gempa, meskipun sudah ada alat sistem peringatan dini (early warning system) yang memperingatkan jika sewaktu-waktu gempa datang tidak terduga. Namun untuk memperkirakan secara tepat kapan, dimana, dan besar dampak dari gempa yang akan terjadi masih belum dapat dilakukan. Terkait dengan hal tersebut, pengetahuan akan gempa dan segala upaya meminimalisasi dampaknya adalah hal yang mutlak untuk diketahui.
Secara histografi, Indonesia merupakan wilayah langganan gempa bumi dan tsunami. Tsunami misalnya, dalam sejarahnya sudah sering terjadi di Indonesia. Tsunami tertua di Indonesia tercatat terjadi di Laut Banda 17 Februari 1674. Selama kurun waktu 200 tahun (1801-2000) tidak kurang 161 tsunami terjadi di Indonesia ditambah yang terakhir tsunami Aceh 2004.
Demikian juga dengan gempa bumi. Negeri ini telah mencatatkan puluhan bahkan ratusan gempa sepanjang ingatan manusia. Di antaranya, negeri ini mencatatkan gempa besar akibat meletusnya Gunung Krakatau pada tahun 1883, gempa yang mengakibatkan tsunami di Aceh 26 Desember 2004, hingga yang teranyar, gempa berkekuatan 7,6 skala richter yang terjadi di Padang, Sumatera Barat.
Gempa yang terjadi di Padang merupakan gempa tektonik akibat pergeseran lempeng bumi di dalam perut bumi yang melintang dari Pulau Sumatera, Jawa, Bali, NTT, dan Maluku yang sangat rawan mengakibatkan gempa. Keadaan geologi akibat pertemuan lempeng-lempeng tektonik menjadikan Indonesia memiliki kondisi geologi yang sangat kompleks.
Selain dikepung empat lempeng dunia, Indonesia masuk dalam jalur rangkaian gunung api aktif di dunia (The Pasific Ring of Fire). Sekitar 90 persen gempa bumi terjadi di bawah air pada daerah cincin api yang terletak di lingkaran Lautan Pasifik.
Cincin Api Pasifik ini membentang di antara subduksi maupun pemisahan lempeng Pasifik dengan lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, lempeng Amerika Utara dan lempeng Nazca yang bertabrakan dengan lempeng Amerika Selatan. Ia membentang dari mulai pantai barat Amerika Selatan, berlanjut ke pantai barat Amerika Utara, melingkar ke Kanada, semenanjung Kamsatschka, Jepang, Indonesia, Selandia Baru dan kepulauan di Pasifik Selatan.
Indonesia sendiri sekarang memiliki 500 gunung berapi yang 128 di antaranya masih aktif. Zona kegempaan dan gunung api aktif Cincin Api Pasifik ini sangat terkenal, karena dalam sejarahnya, setiap gempa hebat dan tsunami dahsyat dari kawasan itu, menelan korban jiwa manusia yang amat banyak. Konsekuensi logis kekompleksan kondisi geologi inilah yang menjadikan banyak daerah di Indonesia memiliki tingkat kerawanan bencana alam yang tinggi.
Lempeng-lempeng bumi ini memiliki ketebalan berbeda-beda satu sama lain, antara 10 Km dan 50 Km. Lempeng-lempeng itu bergerak mengambang di atas magma, cairan kental dan panas di perut bumi, sehingga selalu berinteraksi satu sama lain. Pertemuan antarlempeng ini bisa berupa subduksi (penunjaman) seperti antara Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke Lempeng Eurasia, atau saling tarik-menarik (divergensi), atau saling geser. Daerah penunjaman antardua lempeng inilah yang disebut sebagai zona subduksi.
Seperti diuraikan dalam beberapa penelitian ahli, kecepatan gerak lempeng-lempeng ini antara 1 cm dan 13 cm per tahun dengan arah tertentu untuk setiap lempeng. Pada saat terjadi pertemuan antarlempeng, akan terjadi penumpukan energi akibat tekanan antarlempeng yang mengakibatkan ketidakstabilan. Dan, bila batuan pada daerah tersebut tidak mampu lagi menahan tekanan, batuan tersebut akan patah sambil melepaskan energi. Energi inilah yang merembat ke permukaan bumi dengan gelombang longitudinal, gelombang transversal dan gelombang panjang atau gelombang permukaan, yang menggoyangkan semua yang ada di permukaan bumi.
Gelombang longitudinal bergerak dengan kecepatan 7-14 km per detik yang merambat dari sumber gempa ke segala arah. Gelombang inilah yang pertama sekali dirasakan di daerah gempa atau disebut juga gelombang primer. Sedangkan gelombang transversal kecepatannya bisa mencapai 4-7 km per detik yang terjadi bersamaan dengan gelombang primer atau disebut juga gelombang sekunder. Dan gelombang panjang atau gelombang permukaan, yaitu gelombang gempa yang merambat di permukaan bumi dengan kecepatan sekitar 3,5 - 3,9 km per detik yang menimbulkan paling banyak kerusakan.
Peristiwa inilah yang terjadi dan bakal terjadi berulang-ulang di Indonesia, sejalan dengan posisi daerahnya yang dekat dengan zona subduksi. Artinya, tumbukan antarlempeng atau kerak bumi inilah yang menyebabkan gempa terus terjadi silih berganti.
Ketika satu lokasi lapisan bebatuan di batas kerak bumi runtuh karena merapuh menahan desakan lempeng, bebatuan itu akan mencari posisi baru yang stabil. Selama proses ini berlangsung, akan terjadi serangkaian gempa susulan (aftershock), pascagempa utama. Hal ini dapat mengakibatkan bangunan yang retak dan rapuh menjadi roboh. Kejadian ini juga bukan hanya meruntuhkan bangunan, melainkan juga membuat tanah longsor, merekah, dan ambles.
Keadaan ini sangat mustahil untuk dihindari, sebab rangkaian pergerakan lempeng-lempeng bumi yang menutupi dan mengapung di atas magma tak akan pernah berhenti. Sementara Indonesia, seperti disebut di atas, terletak di antara empat lempeng bumi yang aktif, yaitu Lempeng Pasifik, Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Filipina yang selalu bergerak dan saling berinteraksi.
Pergerakan Lempeng Pasifik relatif ke arah barat, Lempeng Indo-Australia bergerak relatif ke utara, dan Lempeng Eurasia bergerak relatif ke tenggara. Jika terjadi tumbukan antarlempeng itu, disitulah dapat menghasilkan tsunami seperti yang terjadi di Aceh dan Nias, Sumatera Utara.
Data Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG) Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukan bahwa ada 28 wilayah di Indonesia yang dinyatakan rawan gempa dan tsunami. Di antaranya NAD, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Banten, Jateng dan DIY bagian Selatan, Jawa Timur bagian Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Kemudian Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku Selatan, Biak, Yapen dan Fak-Fak di Papua, serta Balikpapan di Kalimantan Timur. Namun secara umum, Pulau Kalimantan relatif aman karena jaraknya yang agak jauh dari daerah pertemuan antarlempeng, sedangkan daerah yang paling rawan adalah pantai barat Sumatera, selatan Jawa, selatan Nusa Tenggara Timur, utara Papua, dan Sulawesi.
Gempa berkekuatan 7,6 SR (menurut BMKG-Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) yang memorakporandakan Kota Padang dan Pariaman yang getarannya terasa hingga Kuala Lumpur dan Singapura, Rabu 30 September 2009 lalu, menurut para ahli adalah akibat gempa tektonik dari pergerakan lempeng dan tumbukan antara lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia.
Namun menurut pakar gempa dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr Danny Hilman Natawidjaya, gempa itu tidak berpusat di zona subduksi lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia. Kemungkinan, menurut Danny seperti diuraikan di harian Kompas (1/10/09), pusat gempa di Padang terjadi di ujung patahan jauh di bawah dasar laut. Hal itu dikatakannya karena gempa yang terjadi tidak sampai memicu tsunami. Hal itu menurutnya karena pergerakannya dominan horisontal, tidak vertikal, dan lepasnya lebih dalam. Kalaupun ada, seperti dilaporkan, tsunami-nya kecil, yakni sekitar 20 centimeter, yang terukur di pantai barat Padang.
Ancaman Lain
Setelah gempa Padang 30 September 2009, pertanyaan yang masih mengganjal berikutnya adalah bagaimana dengan zona subduksi di kawasan Mentawai yang sampai sekarang belum juga pecah. Para ahli geologi memberi aba-aba, ketika Padang diguncang bencana, sebenarnya yang harus dibaca adalah ancaman gempa yang lebih besar, yaitu ancaman gempa dari zona subduksi di kawasan Mentawai. Segmen Mentawai merupakan bagian dari sistem kegempaan di barat Sumatera yang terbagi dalam empat segmen utama (Simelue, Nias, Mentawai, Enggano).
Menurut guru besar dan ahli gempa dari ITB Sri Widiyantoro, gempa Padang berpotensi memicu potensi gempa besar yang ada di jalur tersebut. Tetapi, dia mengaku tidak tahu apakah itu sudah cukup besar untuk membuat zona di Mentawai bergerak. Jangka waktunya pun menurutnya tidak diketahui. Bisa beberapa bulan atau beberapa tahun.
Lebih lanjut mengenai zona ini, menurut ahli lainnya, panjang jalur kawasan Mentawai yang belum melepaskan energi itu sekitar 300-400 kilometer, mulai dari Pulau Siberut, Pulau Sipora, sampai ke Pulau Bagai Utara dan Bagai Selatan.
Masih terkait dengan hal itu, beberapa peneliti mengakui terus fokus mengantisipasi dampak kegempaan di zona subduksi segmen Mentawai yang sudah mengumpulkan energi sangat besar untuk dilepaskan dan paling rawan menimbulkan tsunami itu. Danny Hilman dari LIPI misalnya mengatakan, segmen kegempaan Mentawai perlu mendapat perhatian setelah gempa Padang. Sebab, sumber gempa tersebut berada di tepi barat segmen Mentawai atau yang disebut megathrust yang terbentang dari Pulau Siberut hingga Pulau Pagai.
Penelitian LIPI di Kepulauan Mentawai menunjukkan, tahun 1650 pernah terjadi gempa di atas 8 SR di Pulau Siberut. Tahun 1797 dan 1883 gempa berskala sama kembali muncul di daerah itu. Sejak 10 tahun terakhir, gempa di segmen Mentawai bertalu-talu. “Munculnya gempa terakhir di Padang, bisa mengusik segmen Mentawai yang tidur, hingga menimbulkan tsunami,” kata Danny.
Dia juga menambahkan, gempa-gempa di kepulauan di barat Sumatera itu periode pengulangannya sekitar 200-300 tahun. Hal ini akibat efek penunjaman dari lempeng Indo-Australia yang menekan ujung lempeng Eurasia di bawah bagian barat sesar Semangko hingga ke kepulauan di pesisir Sumatera.
Bebatuan di ujung lempeng pada suatu waktu akan melenting karena tidak mampu lagi menahan tekanan itu. Hal ini ditandai dengan gempa besar, pergeseran posisi daratan di segmen itu, dan menjauhnya pulau dari daratan beberapa meter dari posisi semula.
Beberapa pantai yang tidak memiliki karakateristik zona kegempaan tinggi, kini mengalami gejala-gejala gerakan tanah yang semakin intensif akibat resonansi dan responsif energi seismik gempa semakin menekan daerah yang tadinya stabil, yaitu di sekitar pantai Timur Sumatera, daerah Selatan dan Utara Laut Jawa, serta Pantai Timur Kalimantan Barat.
Semakin ke timur, seperti dirilis harian Sindo (5/12/2007), potensi gempa semakin besar. Di Pulau Jawa, diperkirakan terletak mulai Majalengka, Kuningan, Bandung, hingga Pelabuhan Ratu. Kemudian, Cianjur, wilayah selatan Semarang, membujur hingga ke Tegal. Sedangkan di Indonesia Timur, beberapa wilayah yang rawan gempa dan tsunami antara lain adalah Irian dan Maluku. Dimana potensi bahaya gempa dan tsunaminya dua kali lebih tinggi dibandingkan Sumatera.
Pascagempa Padang, ancaman lain yang mengintai sebagai efek dari gempa itu adalah tanah longsor dan ambles. Hal ini terjadi di daerah perbukitan karena berkurangnya tutupan lahan yang diakibatkan berkurangnya areal hutan di kawasan lereng. Daerah-daerah seperti itu akan mudah tererosi dan longsor bila hujan terjadi. Longsor terjadi apalagi saat peralihan dari musim kemarau ke musim hujan, terutama di daerah berjenis tanah yang mudah lepas. Ketika terguyur hujan terus-menerus, ikatan yang melemah itu akan putus karena menanggung beban air di pori-porinya. Putusnya ikatan itulah yang membuat longsor.
Ancaman longsor menjadi makin besar ketika di lereng yang rapuh itu bertengger bangunan, apalagi ketika diguncang gempa. Selain longsor, amblesnya permukaan juga dapat terjadi di daerah yang diterjang gempa. Teorinya, akibat gempa, sumber air di bawah tanah akan teraduk hingga terjadi likuifaksi atau pelembekan tanah. Tanah yang mengalami pembebanan tinggi dan berongga pun akan mudah ambles.
Selain itu, ancaman lain yang paling membahayakan adalah Patahan Lembang yang berada di Kota Bandung. Seperti dikutip Kompas.com (6/10/09) Patahan Lembang yang berada di utara Kota Bandung akhir-akhir ini menjadi pusat perhatian dan kajian sains, baik oleh LIPI maupun BMKG Bandung karena sesar yang diyakini masih aktif ini menyimpan ancaman besar akan gempa.
Menurut Eko Yulianto, peneliti Paleoseismologi dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, berdasarkan hasil penelitian lembaganya, dengan panjang bentang Patahan Lembang 22 kilometer, potensi kekuatan gempa bisa mencapai 6,7 SR. Dampaknya diperkirakan mampu menyamai kejadian gempa di Yogya, Mei 2006, yang menewaskan ribuan warga. Disebut demikian, karena struktur tanahnya memiliki kesamaan, yakni tanah endapan muda bekas danau purba. “Lapisan tanah ini belum terkonsolidasi betul sehingga efeknya mirip bubur di mangkuk ketika digoyangkan. Guncangannya berhenti, tetapi goyangan masih terjadi,” kata Eko. Bahkan menurut Brian Atwater, peneliti paleotsunami ternama dari United States Geological Survey (USGS), ancaman bencana Patahan Lembang termasuk kategori kelas dunia. Sebab, patahan berada di dekat kawasan kota yang sangat padat, yang sangat jarang terjadi di dunia.
Lebih lanjut menurut Eko, masih banyak lagi di daerah Bandung yang rawan akan gempa seperti Sesar Cimandiri yang membentang dari Kabupaten Sukabumi hingga ke Lembang di Bandung bagian utara dan Sesar Baribis di sekitar Kabupaten Majalengka yang juga menyimpan ancaman lain karena juga mengakumulasi energi. Sedangkan daerah Tasikmalaya, Garut, Cianjur, dan Bandung Selatan termasuk daerah yang terdekat dengan pusat gempa dan zona subduksi lempeng.
Sementara Ibukota DKI Jakarta, walau tidak mempunyai potensi menjadi episentrum atau pusat gempa, tapi harus tetap waspada akan pengaruh gempa di daerah sekitarnya. Deputi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sugeng Triutomo juga mengingatkan, selain faktor keamanan itu, harus diperhatikan ancaman amblesnya bangunan. Karena, ketika terjadi guncangan gempa, likuifaksi atau pelembekan tanah dapat terjadi. Tanah yang mengalami pembebanan tinggi akan ambles, apalagi jika di bawahnya berongga. Untuk mencegah ancaman tersebut, menurutnya, di Jakarta harus ada pengendalian penyedotan air tanah, bahkan harus ada upaya pengisian kembali air tanah dalam.
Sementara itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Departemen ESDM memberikan peringatan pada sejumlah wilayah rawan bencana akibat gerakan tanah sepanjang Oktober 2009. Lembaga itu menyebutkan, sejumlah wilayah yang berpotensi terjadi gerakan tanah sehingga bisa menimbulkan bencana adalah, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Nanggroe Aceh Darussalam dan Kalimantan Barat.
Selain besarnya kekuatan gempa, struktur tanah ikut memperparah dampak gempa. Gempa tektonik berkekuatan 5,9 SR yang mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah 27 Mei 2006 yang menewaskan 6.223 orang, dan menimbulkan kerusakan yang parah pada bangunan-bangunan lainnya misalnya. Kerusakan parah terjadi akibat gempa dangkal, struktur tanah Yogya, dan cekungan berisi pasir dari pegunungan api yang dikelilingi batuan keras dengan patahan (sesar) Opak. Cekungan pasir membuat gempa dangkal tersebut memantul-mantul secara horisontal, membuat gempa berlangsung lebih lama dan memperparah kerusakan bangunan yang ada di atasnya. Sehingga walau hanya berkekuatan 5,9 SR, tapi efeknya sangat menghancurkan.
Demikian juga gempa berkekuatan 7,3 SR di Tasikmalaya, Jawa Barat, 2 September 2009 lalu. Menurut para pakar, banyaknya korban dan kerusakan dalam peristiwa itu akibat struktur tanah. Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Surono mengatakan, struktur tanah di wilayah Jawa Barat bagian Selatan dan struktur bangunan yang dibuat masyarakat menjadi penyebab banyaknya korban jiwa.
Struktur tanah di Kota Padang, Sumatera Barat juga menurut pakar geologi yang juga Koordinator Dewan Pakar IAGI Sumut dan NAD Jonathan I Tarigan tergolong lentur, makanya dalam peristiwa gempa pada 30 September 2009 lalu, banyak bangunan atau gedung yang mudah roboh. Sementara di Jambi, karena struktur tanahnya lebih keras di samping gempa yang terjadi di bawah daratan sehingga tidak begitu banyak korban dalam gempa berkekuatan 7,0 SR di provinsi itu, tepatnya di Kota Sungai Penuh pada 1 oktober 2009 lalu.
Surono mengatakan, di Jambi relatif tak ditemukan aluvial (endapan muda) gunung api, sementara di Padang lapisan aluvialnya tebal. Jadi, di Jambi dampak guncangan tidak separah di Padang. Ia juga menggambarkan kondisi di Padang, seperti halnya kondisi Jawa Barat selatan yang didominasi oleh tanah urai, sedangkan karakter tanah Sungai Penuh relatif padat sehingga meredam getaran.
Sikap Masyarakat Terhadap Lingkungan
Selain bencana akibat proses alamiah seperti gunung berapi, gempa dan tsunami, sikap masyarakat yang tidak menghiraukan perilakunya dalam berinteraksi dengan alam juga sering mengundang bencana di negeri ini.
Sekadar contoh, masih segar di ingatan kita akan tragedi jebolnya Situ Gintung pada Maret 2009. Tanggul yang terletak di Ciputat, Tangerang, itu jebol sehingga air tumpah ke pemukiman di sekitarnya dan mencabut puluhan nyawa penduduk. Dalam hal ini, pemerintah dianggap bersalah karena tidak teliti memeriksa kelayakan tanggul tersebut. Sementara masyarakat juga turut dianggap bersalah karena membangun rumah di lokasi yang sudah ditetapkan sebagai jalur hijau tersebut.
Contoh lain bencana akibat ulah manusia adalah banjir bandang di Mandailing Natal beberapa bulan lalu sebagai dampak penebangan hutan tanpa melakukan penanaman ulang. Ketika itu, air hujan yang cukup panjang dan deras tidak bisa lagi ditahan hutan yang sudah gundul sehingga membuat Sungai Batang Gadis meluap dan merendam enam desa di Kecamatan Muara Batang Gadis.
Banjir akibat menyempitnya sungai oleh tumpukan sampah penduduk juga sudah menjadi masalah berulang di negeri ini. Jakarta sebagai wajah Indonesia termasuk salah satu daerah yang setiap tahun mengalami persoalan ini. Setiap tahun masyarakat ibukota negara ini selalu was-was menghadapi banjir yang salah satunya karena ulah masyarakat yang suka buang sampah di sungai. Bahkan saking banyaknya sampah, sungai-sungai yang mengalir di kota ini disindir dengan sebutan ‘supermarket’ terbesar di dunia karena hampir semua benda bisa dijumpai mulai dari yang kecil-kecil seperti plastik, kardus hingga yang besar seperti kasur, sofa dan sebagainya.
Belajar dari pengalaman masa lalu, ditambah dengan masih besarnya ancaman bencana yang menghadang, kiranya bangsa ini mau belajar menghadapi bencana. Tragedi alam yang memang tidak bisa dihambat hendaknya dihadapi dengan pintar-pintar beradaptasi. Sementara bencana akibat ulah manusia sendiri hendaknya dihadapi dengan pertobatan dan kesadaran bahwa ulahnya itu bisa membunuh orang lain, anak cucunya, atau mungkin dirinya sendiri. MS,BHS,RIE (Berita Indonesia 71)
Giatkan Belajar Menghadapi Bencana
Antisipasi dampak bencana bisa dimulai dari masyarakat. Caranya beragam, baik dengan memasukkannya ke dalam kurikulum sekolah atau setidaknya melakukan simulasi menghadapi bencana secara berkala di daerah-daerah yang rawan. Di sisi lain, untuk mengoptimalkan kinerjanya, pemerintah pun perlu meningkatkan pengetahuan dalam menangani bencana dengan belajar dari negara lain terutama Jepang.
Negeri Seribu Bencana disematkan pada Indonesia. Sebutan itu barangkali tidak terlalu berlebihan mengingat Ibu Pertiwi sejak dulu paling sering dilanda bencana dan beragam pula. Gempa, tsunami, gunung berapi, banjir, longsor, bahkan kemarau dan kebakaran, silih berganti menyambangi negeri yang indah dengan 17.500-an pulau ini.
Letaknya yang berada di antara empat lempeng bumi aktif membuat Indonesia sering mengalami gempa tektonik. Sementara posisinya yang masuk dalam lintasan cincin api pasifik (pasific ring of fire) membuat negeri ini termasuk negara yang paling sering mengalami letusan gunung berapi dan gempa yang mengiringinya. Kemudian, letaknya yang berada di antara dua benua dan dua samudera, membuat negeri yang berada di garis katulistiwa ini termasuk salah satu negara yang mendapat dampak langsung dari gejala El Nino yakni kemarau panjang dan atau hujan yang ekstrem.
Hampir setiap gejala alam ini singgah menghampiri Bumi Persada ini, selalu meminta korban jiwa maupun harta benda yang tidak sedikit. Bahkan tak jarang dahsyatnya bencana yang diakibatkan proses alam itu sangat memiriskan hati. Masih segar dalam ingatan, bagaimana peristiwa gempa berkekuatan 9,3 SR yang diikuti tsunami di Aceh dan Nias tahun 2004 yang menelan korban jiwa hingga dua ratus ribu orang lebih, sehingga mengundang rasa simpati dari seluruh penghuni planet ini. Dan teranyar, 2 September 2009, gempa tektonik 7,3 Skala Richter mengguncang Tasikmalaya, dan gempa tektonik 7,6 Skala Richter di Sumatera Barat pada 30 September 2009. Semua peristiwa itu rata-rata menelan korban jiwa puluhan hingga ratusan orang, di samping harta benda yang tak terhitung jumlahnya.
Bencana kemarau juga menghinggapi bangsa ini pada tahun 1997 silam. Ketika itu, El Nino membuat Indonesia mengalami kekeringan panjang, sehingga memicu jutaan hektare lahan gambut di Sumatera dan Kalimantan terbakar. Sekitar 9,8 juta lahan hutan dan lahan gambut yang terbakar akibat kekeringan dan pembakaran hutan untuk pembukaan lahan oleh perkebunan kelapa sawit dan pengelola hutan tanaman industri, saat itu membuat Indonesia dinobatkan sebagai negara penghasil gas rumah kaca terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Cina. Setelah itu, ketika El Nino berakhir, sebaliknya ancaman banjir dan longsor pun mengancam banyak wilayah Indonesia, seperti Jakarta dan daerah lainnya.
Setelah melihat sebagian kilas balik bencana itu, kita berharap, sudah sepantasnyalah bangsa ini memakai akal, berupaya untuk mengenali lingkungannya dan terus belajar mencari solusi mengurangi kerugian dampak bencana. Kalimat bijak yang menyebut “sedia payung sebelum hujan” dan “tidak ada kata terlambat untuk belajar”, tampaknya memang perlu semakin dihayati bangsa Indonesia sekarang ini terkait kekurangsiapan bangsa ini menghadapi setiap bencana yang terjadi. Dan, karena suatu bencana tidak bisa diprediksi kapan terjadinya secara pasti, masyarakat dan pemerintah kiranya tidak mengulur-ulur waktu lagi untuk belajar menghadapi bencana, karena tatkala bencana terjadi lagi, bangsa ini telah siap, dan korban pun bisa dikurangi sesedikit mungkin.
Mengingat bencana tidak pernah membedakan korbannya, maka pembelajaran mengenali dan cara menghadapi bencana sebaiknya dilakukan terhadap semua lapisan masyarakat dari segala usia, bahkan kepada anak-anak sejak usia taman kanak-kanak. Dalam hal ini, mungkin perlu ditiru langkah yang telah dilakukan oleh Taman Kanak-kanak Muslimat Bae, Kudus, Jawa Tengah, sebagaimana dilaporkan Liputan6 SCTV beberapa saat yang lalu, dimana anak-anak di TK itu diajari dengan simulasi, bagaimana cara menyelamatkan diri bila terjadi gempa, misalnya dengan berlindung di bawah meja.
Pembelajaran atau sosialisasi kepada masyarakat umum bisa dilakukan melalui penyuluhan, ceramah, pemutaran film, atau lewat pameran. Sementara kepada anak-anak sekolah, pelajaran tentang bencana dan cara menghadapinya barangkali sudah selayaknya dimasukkan sebagai salah satu materi kurikulum yang harus dipelajari di sekolah. Selain itu, agar lebih menarik minat anak-anak, pembelajaran juga bisa dilakukan melalui buku komik seperti buku ‘Komik Gempa Bumi’ yang telah diterbitkan Bhuana Ilmu Populer (Kelompok Kompas-Gramedia) bersama Max Axom baru-baru ini. Kemasan buku yang lebih tepat disebut novel grafis itu begitu lucu dan menarik sehingga bisa menarik minat anak-anak untuk membacanya. Melalui komik yang mengulas pengalaman mengatasi bencana gempa itu, kepada pembaca juga diterangkan bagaimana pergeseran tiba-tiba dari lapisan tanah di bawah permukaan bumi, sehingga menimbulkan getaran yang disebut gelombang seismik.
Pembelajaran tentang bencana sendiri perlu dibagi dalam tiga pokok bahasan, yaitu pertama, mengenai pengenalan dasar tentang bencana, termasuk wilayah-wilayah rawan bencana dan jenisnya. Kedua, tentang cara menghadapi bencana, baik sebelum dan saat terjadi. Dan ketiga, penanganan korban bencana atau tata cara evakuasi.
Mengingat ancaman bencana yang mungkin masih terjadi, kini harus diakui bahwa ilmu-ilmu alam, iklim, vulkanologi, dan ilmu kebumian semakin penting. Karena itu, pemerintah sendiri perlu memikirkan peningkatan pengetahuan dan kemampuan aparatnya mengenai bidang ini. Termasuk membuat cara meningkatkan minat publik mendalami bidang ini. Diharapkan, melalui cinta ilmu-ilmu tersebut, pemahaman dan kearifan akan sifat dan perilaku bumi meningkat. Berikutnya, risiko bencana pun dapat dikurangi, korban dapat diminimalkan, dan kerugian harta benda dapat ditekan.
Untuk meningkatkan pengetahuan aparat soal penanggulangan bencana, pemerintah bila perlu harus belajar pada negara yang lebih berpengalaman tentang penanganan bencana. Seperti ke Taiwan misalnya. Dari negara ini mungkin perlu dipelajari sistem penanggulangan bencana, karena negara itu telah memiliki sistem penanggulangan bencana yang cukup bagus yang dinamai TELES, yaitu suatu sistem untuk memberikan informasi yang sangat cepat kepada pemerintah dalam memetakan daerah bencana, sekaligus untuk mendapatkan gambaran awal berapa kerugian ekonomi yang terjadi.
Soal penanganan bencana di Indonesia, para ahli seismik, struktur, geologi, gempa, ekonomi dan lainnya harus mau berpikir secara terpadu, tidak lagi parsial dan hanya sebatas institusional sendiri semata, bersatu atau bersama-sama menjalin jaringan kerja nasional. Dan kalau memungkinkan, Bakornas BP atau Pusat Studi Bencana milik LIPI, atau instansi pemerintah lainnya untuk menjadi koordinator riset nasional yang bersifat terbuka (mengundang untuk bergabung) masyarakat profesi dan akademik terkait. Dan, tentunya berkelanjutan, tidak hanya ketika ada bencana saja jadi isu hangat tapi selanjutnya berhenti, untuk mengkontribusikan ilmunya bagi bangsa Indonesia dalam menghadapi bencana kegempaan di Indonesia.
Di samping ke Taiwan, khusus mengenai gempa, beberapa pihak juga menganjurkan agar bangsa ini belajar dari Jepang, khususnya dari peristiwa gempa berkekuatan 7,2 skala Richter di kota Kobe, Jepang 17 Januari 1995. Sebab, Jepang adalah salah satu negara yang rentan terhadap terjadinya gempa bumi, namun berkat ilmu pengetahuan yang mereka miliki, negara itu dapat menekan jumlah korban jiwa dan risiko kerusakan yang lebih parah.
Walaupun telah lama berlalu, banyak hal penting yang dapat kita pelajari dari gempa Kobe yang telah menewaskan 4.571 orang, melukai 14.678 orang, dan menimbulkan 222.127 pengungsi, serta merusak dan meruntuhkan lebih dari 120.000 bangunan atau 30 persen dari bangunan di Kota Kobe, sebagai pengetahuan untuk merehabilitasi daerah korban gempa di Indonesia.
Setidaknya ada tiga fase pemulihan Kota Kobe, yakni tahun pertama pascagempa, fase stabilisasi, dan pemulihan sosial ekonomi. Pada fase setelah gempa, menurut Peraturan Penanggulangan Bencana Jepang, pembangunan shelter pengungsian harus dimulai segera setelah gempa dan dibuka selama tujuh bulan hingga 20 Agustus. Seminggu setelah gempa, 599 shelter pengungsian yang dibangun dapat menampung 236.899 orang. Shelter pengungsian banyak dibangun di sekolah (188 unit) yang tidak terkena dampak gempa dapat menampung lebih dari setengah jumlah pengungsi. Pembangunan shelter di sekolah juga membantu pemulihan mental anak melalui program sekolah darurat.
Pembangunan rumah temporer dengan sarana dua kamar sudah dimulai tiga hari setelah gempa dan didanai pemerintah pusat dan pemerintah perfektur. Selain itu, pemerintah membangun rumah permanen, dengan reduksi sewa bagi warga yang memiliki pendapatan rendah. Kemudian untuk merestorasi kota dan membantu korban, pemerintahan di Kobe menganggarkan ratusan miliaran yang meliputi subsidi untuk korban gempa, pinjaman pembangunan rumah, dan dana untuk memulai usaha kerja. Guna memulihkan mental penghuni, Kampanye Mengembalikan Semangat Kobe diadakan di komunitas-komunitas permukiman.
Setahun setelah gempa, Kantor Pusat Bantuan Masyarakat Pascagempa, dibangun untuk mengoordinasi rehabilitasi sosial ekonomi korban gempa. Pemeriksaan kesehatan dan keamanan di rumah temporer dilakukan secara perorangan. Sukarelawan juga disediakan untuk mendukung penghuni manula.
Tiga tahun kemudian atau pada akhir Maret 1998, seluruh runtuhan sudah dibersihkan. Pembangunan jalan, perbaikan stasiun, dan fasilitas umum diselesaikan pada tahun 1999. Pada tahun itu, seluruh fasilitas umum juga telah dapat digunakan dan tidak terlihat bahwa gempa besar telah terjadi.
Belajar dari Kobe, Jepang, pemerintah diharapkan cepat menyiapkan sarana dan prasarana, terutama lokasi atau daerah darurat tempat berkumpulnya warga bila terjadi gempa, sehingga mempermudah dalam upaya melakukan tanggap darurat.
Kini, mengingat potensi bencana alam masih mengintai nyawa anak-anak bangsa, seharusnya ancaman itu bisa mendorong pemerintah untuk bergerak cepat melakukan langkah praktis jangka pendek maupun jangka panjang guna mengurangi dampak korban jiwa maupun harta benda.
Untuk langkah awal misalnya, segera membentuk dan mengoptimalkan kerja Badan Daerah Penanggulangan Bencana di seluruh wilayah Indonesia serta mengembangkan sistem deteksi dan peringatan dini terpadu untuk mengantisipasi bencana alam. Selain itu, menyediakan peralatan evakuasi memadai pada badan ini untuk meningkatkan jumlah korban yang bisa diselamatkan dalam satu bencana. Dan yang lebih penting, memberikan sosialisasi dan pelatihan kepada masyarakat cara penyelamatan diri dari bencana. MS,BHS (Berita Indonesia 71)
| < Prev | Next > |
|---|



