| Article Index |
|---|
| Mimpi Ikut Piala Dunia |
| Sepakbola Gajah Ala Indonesia |
| Judi Merusak Sportivitas Sepakbola |
| Sang Antagonis Bergeming |
| Pernah Ikut Piala Dunia |
| Salah Satu Model |
| All Pages |
Banyak pencapaian spektakuler dimulai dengan mimpi. Jadi mimpi Indonesia mengikuti, bahkan jadi tuan rumah turnamen sepakbola Piala Dunia jangan dilecehkan. Boleh jadi mimpi tersebut sebagai penggerak untuk membenahi total persepakbolaan Indonesia.
Harapan pernah menggunung. Belakangan ini berubah jadi kekecewaan yang sangat dalam. Kecewa, sedih dan prihatin, itulah perasaan-perasaan yang dipendam jutaan penggemar sepakbola begitu mendapatkan kenyataan dunia sepakbola Indonesia yang carut-marut.
Awal mula rusaknya persepakbolaan Indonesia digulung oleh skandal perjudian. Pemilik klub, wasit dan pemain, disuap oleh bandar judi. Hampir tidak ada turnamen liga yang lolos dari tangan jahat judi. Tidak ada pertandingan liga yang bisa dipercaya. Pembinaan pemain hancur lebur, wibawa wasit ambruk dan sistem pengawasan berantakan.
Sekarang yang dipanen hanyalah badai. Pemain berkelahi di lapangan, wasit dikejar atau dikeroyok pemain, penonton menyerbu ke dalam lapangan atau merusak dan membakar di luar lapangan. Sungguh realita persepakbolaan yang sangat memalukan.
Dampaknya, tim nasional Indonesia tidak pernah menang di laga internasional, bahkan di arena ASEAN sekali pun. Selalu terpuruk di nomor sepatu. Bahkan tim sepakbola belakangan tidak dimasukkan ke dalam kontingen Indonesia ke SEA Games.
Padahal, tahun 1950-an sampai 1970-an, Timnas disegani di Asia, bahkan pernah masuk per empat final Olympiade, Melbourne, Australia, tahun 1950-an. Nama Ramang, Saelan dan Mangindaan, pernah berkibar di seantero negeri. Demikian juga di era 1960-an, nama Sutjipto Suntoro dan kawan-kawan, dan di era 1970-an nama Rony Paslah, Rony Pattinasarany, Jacob Sihasale dan Abdul Kadir, dielu-elukan bagai dewa oleh para pencinta sepakbola Tanah Air.
Sebenarnya, Indonesia ketika masih bernama Hindia Belanda pernah mengirim tim sepakbola ke Piala Dunia, tahun 1938. Tim Nederlandsh Indich Voetbal Unie (NIVU) mewakili Indonesia, semestinya bersama Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) yang sudah didirikan tahun 1930. Namun demikian, di dalam tim tersebut, terdapat 9 pemain pribumi dan keturunan China.
Sekarang mimpi ikut di Piala Dunia dibangun kembali. Lantas muncul keinginan pemerintah yang diamini oleh pengurus PSSI untuk membenahi semua carut-marut tersebut. Maka pemerintah menggelar Kongres Sepakbola Nasional (KSN) di Malang, akhir Maret 2010.
KSN melahirkan 7 rekomendasi, diharapkan dapat dilakukan oleh seluruh pemangku kepentingan sepakbola nasional - pemerintah, KONI dan PSSI - untuk meraih kembali kejayaan sepakbola nasional. Kongres yang digagas oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk meredakan badai yang tak kunjung berlalu, supaya persepakbolaan nasional dapat mengukir prestasi.
SBY mengedepankan lima tujuan mulia dari KSN. Intinya, bangkitnya kembali prestasi dan kejayaan sepakbola Indonesia, tak hanya di Asia, tetapi juga dunia, sehingga mengharumkan nama Indonesia. Para pihak yang dilibatkan dalam pembangunan kembali persepakbolaan nasional, yaitu KONI, PSSI, PWI dan Kementerian Pemuda dan Olahraga.
KSN yang dipimpin oleh mantan Ketua Umum PSSI, Agum Gumelar itu cukup spektakuler. Hadir di GOR Ken Arok, Malang, Presiden SBY, 5.000 suporter, 15 menteri, pejabat KONI, PWI, Ketua Umum PSSI Nurdin Halid dan wakil-wakil PSSI dari seluruh daerah.
SBY menginginkan, pertama, sepakbola Indonesia berprestasi, bangkit kembali di Asia dan dunia. Kedua, bangun persatuan, jangan bertengkar. Ketiga, KSN harus mengevaluasi secara menyeluruh persepakbolaan Indonesia. Keempat, bantu PSSI agar lebih berhasil di waktu yang akan datang. Kelima, 5 tahun lagi Indonesia dapat menjadi macan Asia Tenggara, dan 10 tahun ke depan bisa menjadi macan Asia, dan akhirnya macan dunia.
Tidak hanya SBY yang optimis, tetapi juga PSSI. Di tengah kemandegan persepakbolaan, PSSI melangkah dengan rencana yang sangat ambisius. Dengan segala dana dan upaya, PSSI mempersiapkan pemain-pemain muda dari sekarang untuk meloloskan Timnas ke Piala Dunia 2018, Olimpiade 2020, Piala Konfederasi 2021 dan Piala Dunia 2022.
Namun faktanya, persepakbolaan nasional sedang berada di titik nadir. Prestasi sepakbola nasional seperti membentur tembok. Buntu. Tak banyak pilihan jalan keluar yang bisa dilakukan. Perlu waktu yang panjang dan dana yang besar untuk benar-benar melahirkan tim nasional yang andal, di tingkat ASEAN, Asia dan dunia.
Banyak ketidakberesan di dalam tubuh PSSI harus dibenah. Misalnya, pemilihan pemain Timnas, pelatih dan manajer, masih diwarnai faktor like and dislike (suka dan tidak suka). Pembinaan yang tidak paripurna, dalam waktu singkat dan serba tergesa-gesa. Memilih pemain yang belum matang, baik secara fisik, mental maupun teknis. Imbalan dan asupan gizi pemain yang terabaikan. Latihan fisik yang tidak disiplin. Pola pencarian bibit berbakat yang tidak konsisten. Maka PSSI perlu introspeksi total ke dalam dirinya.
Menegpora Andi Mallarangeng menjanjikan pemerintah akan menjalankan rekomendasi yang dihasilkan KSN. Sikap yang sama diharapkan dari KONI, PSSI dan masyarakat sepakbola. Andi menambahkan akan mempelajari dan mengkaji ketujuh butir rekomendasi, kemudian menetapkan langkah-langkah konkrit yang bisa dilaksanakan untuk mengangkat persepakbolaan nasional.
Dana dan Prasarana
Tampaknya pengembangan sepakbola di daerah-daerah masih sangat tergantung pada pendanaan yang bersumber dari APBD. Alokasi dana untuk sepakbola cukup besar, tetapi penggunaannya tidak terarah. Konsep pembinaan bermuara pada peningkatan prestasi, belum menunjukkan adanya kesepadanan antara biaya dan hasil yang didapat. PSSI memang telah berupaya membina Timnas dengan baik, menghabiskan dana miliaran rupiah, walaupun hasilnya tidak menggembirakan.
Selain itu, untuk mengangkat prestasi sepakbola, tidak cukup hanya membina Timnas, melainkan juga termasuk dua sektor penting lainnya, yaitu kompetisi dan organisasi. Tak disadari kompetisi nasional pun tertatih-tatih.
Di sisi lain, keterbatasan prasarana, misalnya stadion bertaraf nasional dan internasional, belum memadai dibandingkan dengan luas wiayah dan jumlah penduduk. Terutama sekali, keterbatasan tempat-tempat untuk pemusatan latihan untuk para pemain. Demikian juga lapangan sepakbola di tingkat desa, kota kecamatan, kota dan kota kabupaten.
Tentang lapangan yang memadai, FIFA menetapkan lapangan sepakbola internasional yang berkapasitas minimal 80.000 kursi, dan 12 lapangan lainnya (juga bertaraf internasional) dengan kapasitas minimal 40.000 kursi. SY (Berita Indonesia 76)
Tujuh Butir Rekomendasi
Berikut tujuh butir rekomendasi KSN yang dibacakan oleh Agum Gumelar:
1.PSSI perlu segera melakukan reformasi dan restrukturisasi atas dasar usul, saran dan kritik serta harapan masyarakat, dan mengambil langkah-langkah konkret sesuai aturan yang berlaku untuk mencapai prestasi yang diharapkan masyarakat.
2.Perlu adanya pembangunan dan peningkatan infrastruktur olahraga khususnya sepakbola.
3.PSSI perlu meningkatkan komunikasi, koordinasi dan sinkronisasi dengan seluruh stake holder terutama KONI dan pemerintah.
4.Dilakukan pembinaan sejak usia dini melalui penanganan secara khusus melalui pendekatan IPTEK, dengan melibatkan tim yang terdiri dari dokter, psikolog, pemandu bakat, dan pakar olahraga, dan perlu segera disusun kurikulum standar nasional untuk penyelenggaraan Sekolah Sepakbola, PPLP dan PPLM sepakbola.
5.Metode pembinaan atlet pelajar/muda agar juga memperhatikan pendidikan formalnya.
6.Pemerintah menyediakan anggaran dari APBN dan APBD untuk mendukung dan menunjang target dan pencapaian sasaran untuk menuju prestasi (karena dana APBD masih diperlukan untuk stimulan).
7.Perlu segera disusun dan dilaksanakan program pembinaan prestasi yang fokus kepada pembentukan tim nasional untuk menjadi juara dalam SEA Games 2011.
Butir kedelapan tidak jadi ditetapkan sebagai bagian rekomendasi. Bunyinya: “Pemerintah dan masyarakat perlu mengawal hasil rekomendasi yang konkret, dalam hal ini diminta kepada Presiden RI untuk membentuk Dewan Sepakbola Nasional yang bersifat independent. BI
| < Prev | Next > |
|---|



