Majalah Berita Indonesia

Friday, Jul 30th

Last update04:15:44 PM GMT

Majalah Berita Indonesia RSS Feed
You are here Edisi Cetak Berita Utama Ekonomi Kelabu 2009

Ekonomi Kelabu 2009

E-mail Print PDF
User Rating: / 1
PoorBest 
Article Index
Ekonomi Kelabu 2009
Dulu Berpesta Kini Menangis
Pukulan yang Lebih Hebat
Menyiasati Pemasukan Negara
Dunia Melawan Krisis
Mengapa Rupiah Lemas
All Pages

GELAP: Seorang karyawan di Jepang sedang berjalan dalam keremangan malam. Jepang sudah terkena imbas krisis keuangan globalDengan solidaritas sesama bangsa, terhembus nafas optimisme bahwa 2010 ekonomi dunia akan kembali pulih.

Ekonomi global pada 2009 diperkirakan masih akan semakin suram. Krisis atau kekacauan sektor keuangan yang berepisentrum di Amerika Serikat (mesin ekonomi dunia) telah mengacaukan dan memerosotkan aktivitas ekonomi dunia. Semua negara kini sedang masuk ke dalam krisis yang menakutkan.

Semua media seakan ‘sepakat’ memberitakan kabar buruk kalau tahun 2009 menjadi tahun dimana PHK besar-besaran akan meningkatkan jumlah pengangguran dan kemiskinan.

Meski demikian, dari sekian banyak kabar buruk itu, masih ada yang menghembuskan sedikit harapan bahwa 2010 ekonomi dunia akan kembali pulih. Bukan hanya para ekonom atau kalangan eksekutif di bidang ekonomi dan keuangan yang membicarakan hal ini, para pemuka agama pun tak ketinggalan mengangkat masalah ini sebagai tema khotbah mereka dari atas mimbar.

Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang dalam khutbah Idul Kurban 1429 H (8 Desember 2008 M) di Kampus Al-Zaytun, Gantar, Indramayu, Jawa Barat, mengajak segenap lapisan dan komponen bangsa untuk menggalang solidaritas mengatasi krisis ekonomi global saat ini. Menurutnya, untuk mengatasi tantangan ini, umat manusia mesti kembali kepada hakekat kehidupannya yakni saling bergandeng tangan menggalang solidaritas, yang kuat menolong yang lemah (Baca Lentera).

Syaykh al-Zaytun AS Panji Gumilang dalam khutbah bertajuk Menggalang Solidaritas Sesama Bangsa, menguraikan bahwa kini bumi yang dihuni berbagai bangsa yang tersebar dalam berbagai negara, secara serentak merasakan kesulitan. “Semua menyatakan bahwa negara-negara yang ada masuk dalam krisis yang menakutkan,” katanya.

Ternyata, ujar Syaykh al-Zaytun, kesusahan, kesulitan, maupun krisis ini terjadi justru pada saat zaman semakin modern, sains teknologi semakin tinggi, dimana krisis yang dihadapi umat manusia ini bukan semakin tertanggulangi, namun justru semakin meluas dan mendalam.

Apa yang disampaikan oleh Syaykh al-Zaytun memang berdasarkan studi empiris. The Institute of International Finance (IIF), misalnya, yang beranggotakan 375 lembaga keuangan dunia dan berbasis di Washington, Kamis (18/12/2008) menyatakan ekonomi global akan mengalami kontraksi 0,4 persen pada tahun 2009 dengan pola resesi yang lebih sinkron sepanjang sejarah. Direktur Pelaksana IIF Charles Dallara menyebutnya sebagai resesi terburuk dunia. IIF menyebut resesi ini terburuk sejak 1960-an dan tak terhindarkan. Injeksi dana yang dilakukan pemerintah dan otoritas moneter untuk mencegahnya, ternyata tak bisa menolong, karena kerusakan serius sudah terlanjur terjadi.

IIF menjelaskan resesi kali ini tidak dimulai dengan penurunan permintaan swasta atau pemerintah, tidak pula diawali dengan penurunan pasokan barang. Tetapi dimulai dengan kredit macet massal dan global, kekacauan di sektor keuangan. Sementara, studi empiris menunjukkan resesi karena kekacauan sektor keuangan lebih besar potensinya menjungkalkan perekonomian.

Adanya pesimisme soal tahun 2009, tidak lepas dari krisis ekonomi yang mulai intens melanda dunia sejak pertengahan 2008. Bahkan Majalah Time pada edisi 27 Oktober 2008, dalam salah satu rubriknya yang bertajuk Now the Real Pain Begins melaporkan bagaimana pesimisme bisnis begitu meluas dari Hongkong, New Delhi, Reykjavick, (Iceland), Hitachi (Jepang), Paris sampai ke La Sagra (Spanyol).

TURUN: Rendahnya permintaan akan BBM akibat pengurangan produksi industri, menyebabkan harga minyak mentah dunia turunMajalah ini melaporkan, bagaimana krisis keuangan global menekan bisnis garmen di Hongkong, baik dari sisi tekanan penjualan maupun kesulitan untuk memperoleh kredit. Kemerosotan harga-harga saham di New Delhi pada pusaran 45 persen telah menguras kekayaan para pelaku pasar, mengoreksi pertumbuhan perekonomian India yang tadinya diperkirakan bertumbuh 9 persen menjadi 8 persen.

Jet Airways perusahaan penerbangan domestik terbesar India telah merumahkan ratusan karyawannya. Time juga melaporkan riset industri di Prancis menunjukkan penurunan daya beli dan kekhawatiran konsumen akan merosotnya ekonomi, telah menyebabkan penerimaan kafe dan restoran di Paris turun sekitar 20 persen tahun 2008. Hampir 3.000 restoran tutup dan atau menuju kebangkrutan di Perancis dalam waktu 6 bulan tahun 2008.

Pada sisinya yang lain, Time dalam edisinya yang sama, menurunkan ulasan lengkap tentang krisis keuangan global oleh ekonom pemenang hadiah Nobel tahun 2001 - Joseph Stighliz. Dalam tulisannya bertajuk The Way Out: How the financial crisis happened, and how it must be fixed (Jalan Keluar: Bagaimana krisis keuangan terjadi dan apa cara untuk mengatasinya), ekonom ini mengemukakan perekonomian AS dihadapkan kepada persoalan serius: likuiditas, solvabilitas dan persoalan ekonomi makro. Persoalan ini telah diekspor oleh AS ke seluruh dunia dalam jaringan keuangan global yang nyaris tanpa batas.

Sementara itu, dalam beberapa segi, krisis keuangan AS yang semula diyakini tidak akan berdampak pada Indonesia, berkembang cepat dan menularkan dampak melalui berbagai saluran transmisi: perdagangan, pasar modal, pasar uang, investasi, dan sektor riil.

Para investor yang menanamkan modalnya pada sektor non-riil di Indonesia mulai menarik kembali dana-dana mereka yang tertanam di lantai bursa. Penarikan dana dengan denominasi mata uang asing oleh investor tujuannya adalah menutupi kerugian keuangan yang tengah melanda negara-negara investor tersebut. Kebijakan penarikan dana semakin agresif seiring dengan keringnya likuiditas negara-negara investor. Perilaku ini bisa dicermati dengan meroketnya bunga pasar uang antar bank.

Di Indonesia, kejatuhan IHSG yang pada penutupan 27/10/2008 mencapai 6,96% atau turun sebesar 48,96 poin dengan total IHSG sebesar 1,166 poin merupakan nilai yang sama di tahun 2000. Merosotnya IHSG yang mencapai angka 6,96% adalah penurunan tertinggi untuk kawasan Asia. Otoritas Bursa terpaksa mensuspensi perdagangan saham pada sesi pertama. Selain itu bursa regional seperti Han Seng, Nikkei, Kospi, Seoul, dan Strait Times Singapore turun rata-rata sekitar 3%-5%.

Derasnya penarikan dana oleh investor berimbas kepada pelemahan nilai tukar rupiah terhadap beberapa mata uang asing. Sejak Juli 2008, rupiah telah mengalami pelemahan. Pada akhir Juli, berdasarkan data BI, nilai kurs beli dolar Rp 9.072, sementara jual Rp 9.164. Pada 31 Oktober 2008, kurs jual Rp 11.050 dan kurs beli Rp 10.940. Rupiah terus melemah hingga menembus Rp 12.000 per dolar AS pada 12 November 2008. Walaupun akhirnya mengalami sedikit penguatan pada kisaran Rp 11.000 per dolar AS pada 18 Desember 2008, nilai rupiah terhadap dolar AS diperkirakan akan sulit kembali ke posisi semula.

Pemerintah lewat Bank Indonesia mencoba untuk menahan laju pelemahan rupiah lewat intervensi pasar. Cadangan devisa yang salah satunya digunakan untuk intervensi rupiah agar tidak anjlok, terus menurun. Sejak Juli 2008, cadangan devisa terus merosot sekitar US$ 10 miliar. Akhir Juli 2008, cadangan devisa mencapai 60,563 miliar dolar tertinggi selama 2008. Agustus, cadangan devisa turun menjadi 58,358 miliar dolar. Akhir September, kembali merosot US$ 1,15 miliar menjadi US$ 57,108 miliar. Akhir Oktober 2008 turun sekitar US$ 7 miliar menjadi sekitar US$ 51 miliar.

Anjloknya beberapa mata uang asing terhadap dolar Amerika juga melanda negara-negara Asia lainnya. Pelemahan yang terasa terjadi atas mata uang dolar Australia yang terdepresiasi lebih dari 10% atas dolar Amerika.

Sejauh ini, akibat menciutnya permintaan global, ratusan perusahaan padat karya tumbang dan puluhan atau ratusan ribu buruh harus kehilangan pekerjaan, dirumahkan, atau terancam dirumahkan. Ditambah keluarga dan orang lain yang menjadi tanggungan mereka, korban krisis bisa lebih banyak lagi. Menurut data Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) per 12 Desember 2008, pekerja yang terkena PHK sudah 17.488 orang. Dan, yang berpotensi akan di PHK masih ada sebanyak 23.927 orang. Sementara itu, pekerja yang dirumahkan sudah sebanyak 19.091 orang dan yang berpotensi akan dirumahkan ada sekitar 6.597 orang.

Sementara itu, para petani dan pengusaha yang menggarap komoditas-komoditas seperti kelapa sawit, karet, dan kopra kini cuma bisa gigit jari. Ketiga komoditas khususnya sawit yang sempat ‘berpesta’ karena harga jualnya yang sangat tinggi di pasar dunia, anjlok hingga mencapai 60%-70%. Kini, hasil penjualan ketiga komoditas tersebut tidak bisa menutupi biaya produksi secara keseluruhan.

Sektor properti juga tidak luput terkena imbasan krisis keuangan global. Pertumbuhan industri properti dalam negeri yang lamban ditandai dengan adanya penjadwalan kembali atas rencana proyek yang sudah ditetapkan. Lesunya sektor properti membuat perbankan enggan memberi kredit. Padahal, bagi industri properti, pendanaan dari perbankan merupakan kebutuhan dana yang vital di samping mereka mengalokasikan dana internal.

Di tengah krisis keuangan yang mendera seluruh dunia, memang masih ada berita baik dengan semakin turunnya harga minyak dunia hingga di bawah 34 dollar AS per barrel pada perdagangan Jumat (19/12) - harga terendah dalam empat setengah tahun terakhir. Penurunan harga ini membawa sesuatu yang positif bagi APBN. Khususnya penurunan bagi pos tarif subsidi. Harga premium yang tadinya Rp 6.000 diturunkan pemerintah secara bertahap menjadi Rp 5.000 per liter dan solar dari Rp 5.500 menjadi Rp 4.800.

Penurunan harga BBM ini jelas dapat membantu mengurangi beban usaha industri dan meningkatkan daya tahan industri sehingga membantu pengusaha mengurangi jumlah PHK.

Pertumbuhan Ekonomi Melambat
Bank Dunia (WB) dalam laporannya pertengahan November 2008 memproyeksikan bahwa ekonomi global pada 2009 akan semakin suram. Ini ditandai dengan pertumbuhan yang terus melemah dan volume perdagangan anjlok untuk pertama kali dalam 26 tahun terakhir.

KAS SERET: Kaum ibu rela antri berjam-jam untuk mendapatkan sembako murahDalam laporan bertajuk Global Economic Prospects, institusi multilateral itu memprediksi, pada 2009 ekonomi global hanya akan tumbuh 0,9%, sedangkan volume aktivitas perdagangan dunia akan melorot 2,1%.

Laporan terakhir mengenai pertumbuhan ekonomi global pada 2009 itu jauh lebih pesimistis dibanding prediksi pada bulan Juli 2008, yakni 3,0%, sedangkan pertumbuhan negara-negara berkembang sebesar 6,4%. Laporan itu juga lebih suram dibanding prediksi institusi sekandung, Dana Moneter Internasional (IMF), yang memprediksi bahwa ekonomi dunia hanya akan tumbuh sebesar 2,2% sedangkan ekonomi negara maju sebesar 5,1%.

Sementara WB mengindikasikan bahwa volume perdagangan dunia akan kontraksi 2,1 % pada 2009, kemerosotan pertama sejak 1982. Selain itu, ekonomi dunia pada 2009 akan menuju resesi. Kontraksi yang tidak pernah terlihat sejak 1945, kemungkinan akan terjadi pada 2009. Diprediksikan kemerosotan volume perdagangan terutama dipicu permintaan yang turun tajam. Pasalnya, krisis keuangan global telah menyebabkan resesi bersamaan, yang jarang terjadi di negara-negara yang berpendapatan tinggi dan kemerosotan yang tajam di negara-negara berkembang. WB mengasumsikan ekonomi global baru mengalami rebound pada 2010, yakni akan mengalami pertumbuhan 3,0% sedangkan volume perdagangan akan melonjak 6,0%.

Sedangkan dalam lingkup Asia, Asia Economic Monitor yang diterbitkan Bank Pembangunan Asia (ADB) pertengahan Desember 2008 menyebutkan, pertumbuhan ekonomi Asia akan melambat. Perlambatan ekspor dan aliran modal swasta karena pengaruh krisis global dipastikan menekan pasar berkembang di Asia. Perekonomian Asia tahun 2009 akan lebih ditentukan oleh pertumbuhan permintaan domestik karena lingkungan ekonomi di luar kawasan ini diperkirakan jauh lebih melemah.

ADB merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi regional Asia pada 2009 menjadi 5,8 persen, melambat dari 6,9 persen tahun 2008 dan 9 persen pada 2007. Dalam Asian Development Outlook 2008 yang dirilis sebelum krisis merebak, ADB semula memprediksi perekonomian kawasan berkembang Asia pada 2009 akan tumbuh 7,2 persen. Meskipun tak luput dari perlambatan, China, India, dan negara-negara Asia Tengah yang didominasi pecahan Uni Soviet diproyeksikan masih tumbuh di atas 6,5 persen.

Sedangkan Indonesia, pertumbuhan ekonomi pada tahun 2009 diperkirakan bisa mencapai level terburuk di posisi 4,5 persen, jauh lebih rendah dibandingkan target APBN 2009, yakni 6 persen. Menteri Keuangan sekaligus Pelaksana Jabatan Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati saat melaporkan kondisi terakhir krisis ekonomi kepada Komisi XI DPR di Jakarta, Selasa (2/12) mengatakan bahwa nilai tengah pertumbuhan ekonomi diperkirakan ada di level 5-5,5 persen.

ADB sendiri memprediksi pada 2009 perekonomian Indonesia tumbuh 5,0 persen. Proyeksi ini lebih optimistis dibandingkan dengan proyeksi Bank Dunia yang memperhitungkan perekonomian Indonesia tumbuh 4,4 persen pada 2009.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik menyebutkan, pada tahun 2008 setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi akan menambah 702.000 lapangan kerja baru. Dengan demikian, jika pertumbuhan turun dari 6 persen ke 4,5 persen, tenaga kerja yang tidak terserap bisa mencapai 1,053 juta orang. Padahal, masih ada sekitar 9,427 juta penganggur terbuka yang menunggu pekerjaan saat ini. Mangatur L Paniroy (Berita Indonesia 63)



Add comment


Security code
Refresh

Berita Utama

utama_5_20.jpg
Dalam pandangan publik, DPR masih stempel karet pemerintah. Mereka jinak, menurut dan tidak banyak mennyalurkan aspirasi rakyat.
utama_13_71.jpg
Setelah gempa Padang 30 September 2009, Indonesia harus bersiap menghadapi bencana-bencana lain yang sedang mengintip ingin

Visi Berita

visi_42.jpg
Terorisme bukan jihad! Teroris bukan pahlawan! Dua kalimat pendek ini perlu dikedepankan untuk meluruskan makna jihad
visi_76.jpg
Capaian besar biasanya berawal dari ‘mimpi’ besar. Tapi untuk meraihnya diperlukan upaya yang kuat dan tidak mudah

Lentera

lentera_2_66.jpg
Al-Zaytun Sumber Inspirasi (4)Syaykh al-Zaytun: Indonesia harus masuk dalam zone of peace and democracy kalau ingin
lentera_1_53.jpg
Kampus Al-Zaytun selalu menempatkan dirinya sebagai bagian dari komunitas global. Hal ini juga terlihat dari semangat
Share/Save/Bookmark