Bank Century kini sudah jadi Bank Mutiara. Dituntut kemampuan manajemen baru untuk menjadikan bank ini mampu mengembalikan dana talangan Rp.6,7 triliun yang dikucurkan pemerintah melalui Lembaga Penjamin Simpanan dalam waktu tiga tahun.
Laksana seekor anak kerang yang akibat ulahnya kemasukan pasir dalam tubuhnya yang lemah, terasa amat sakit. Namun, si anak kerang pun dibantu sang induk berjuang membalut pasir dalam perut dengan lendir tubuhnya. Berproses sedemikian rupa, sehingga jadilah dia anak kerang yang lebih bernilai dari kerang lainnya. Kerang yang mengubah pasir jadi mutiara.
Analogi (filosofi) anak kerang yang menghasilkan mutiara itu, diharapkan dapat menggambarkan metamorfosa Bank Mutiara dari Bank Century. Bermula dari ’sakitnya’ Bank Century (Bank Gagal yang berdampak sistemik) di tengah gelombang krisis keuangan global akibat adanya mismanajemen, laksana kerang kemasukan pasir dalam perutnya. Kemudian ditolong pemerintah melalui Lembaga Penjamin Simpanan (induknya, membantu anak kerang membalut pasir dalam tubuhnya) berdasarkan keputusan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dengan menguncurkan dana Rp.6,7 triliun, hingga bermetamorfosa menjadi mutiara (Mutiara Bank). Sebuah bank yang mudah-mudahan mengubah pasir jadi mutiara.
Grand launching (peresmian) perubahan PT Bank Century, Tbk menjadi PT Bank Mutiara, Tbk. (Mutiara Bank) berlangsung pada 3 Oktober 2009, setelah mendapatkan persetujuan Bank Indonesia melalui Surat Keputusan Gubernur Bank Indonesia No.11/47/KEP.GBI/2009 tertanggal 16 September 2009. Filosofi mutiara digunakan untuk memberikan pesan bermakna kepada masyarakat.
Menurut Maryono, Direktur Utama Mutiara Bank, nama Mutiara Bank diputuskan setelah melalui rangkaian riset dan evaluasi stakeholder, karyawan, dan nasabah yang dalam atas proses pembentukan sebuah mutiara di dalam cangkang kerang. Bisa bertahan melewati rintangan di dasar laut dan akhirnya menghasilkan sesuatu yang sangat indah dan bernilai. Menurutnya, kajian ini memberikan suatu pelajaran yang sangat berharga, bahwa sesuatu yang indah dan bernilai selalu lahir dari proses perjuangan yang keras, panjang, berliku dan membutuhkan kesabaran.
Selain perubahan nama, juga dilakukan perubahan logo. Bila sebelumnya tulisan nama dan logo Bank Century didominasi warna merah keunguan, maka nama dan logo Bank Mutiara didominasi warna merah dan biru. “Warna merah sebagai cakra dasar dari segala bentuk. Warna biru memberikan ketenangan, mutiara biru sebagai simbolisasi Bank Mutiara memasuki tahap baru,” urai Maryono.
Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Firdaus Djalaeni, menimpali bahwa pergantian nama itu sudah dirancang lama sebagai business plan untuk meningkatkan image pelayanan baru. Menurut Firdaus perubahan nama itu tidak hanya ditangani oleh manajemen direksi dan komisaris profesional, tetapi juga LPS serta pengawasan BI dan dukungan semua pihak.
Brand yang didasarkan atas pelajaran berharga dari proses pembentukan mutiara. Berbagai rintangan dihadapi dengan penuh kesabaran oleh kerang mutiara dalam kurun waktu tahunan yang akhirnya menghasilkan sesuatu yang sangat indah dan bernilai tinggi. “Sebagaimana mutiara, Mutiara Bank dapat dimaknai sebagai ‘persembahan paling bernilai’ bagi keluarga, kolega, nasabah, serta masyarakat,” jelas Maryono.
Mengambil filosofi mutiara, maka Mutiara Bank bercita-cita untuk menjadi sebuah bank yang bernilai, yang memiliki layanan istimewa, menghasilkan produk-produk berkualitas, investasi yang berharga, performa terpercaya, bersih, indah dan kuat, setelah melalui perjalanan panjang nan berliku beberapa waktu yang lalu.
Perubahan nama itu diawali dengan pencanangan spirit metamorfosa, perubahan Visi, Misi dan Corporate Culture (SPIRIT), dilanjutkan dengan pembuatan strategi dan rencana bisnis yang terbagi dalam 3 fase, yaitu: fase survival, fase built the foundation dan fase focusing business. “Maka kami bertekad dan yakin bahwa perubahan menyeluruh untuk mencapai kematangan atau kedewasaan Mutiara Bank secara sempurna akan dapat kami lalui dengan baik,” kata Direktur Utama Mutiara Bank, Maryono.
Guna mendukung sosialisi, Miss Indonesia 2008 Sandra Angelia diangkat menjadi Brand Ambassador Mutiara Bank. Sandra akan menjadi representasi dari image MutiaraBank yang senantiasa mengedepankan kualitas dan inovasi dalam menciptakan berbagai produk baru yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia. Menurut Direktur Bank Mutiara Benny Purnomo, biaya pergantian nama dan logo itu mencapai Rp.1,8 miliar.
Bank Fokus dan Terbaik
Mutiara Bank (d/h CenturyBank) merupakan hasil penggabungan usaha (merger) dari tiga bank yaitu PT Bank CIC Internasional, Tbk, PT Bank Danpac, Tbk, dan PT Bank Pikko, Tbk melalui hasil keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 22 Oktober 2004 dan berdasarkan persetujuan Bank Indonesia melalui keputusan Gubernur Bank Indonesia No.6/87/KEP.GBI/2004 tanggal 6 Desember 2004. Disusul persetujuan dari Bank Indonesia atas perubahan izin usaha dari PT Bank CIC Internasional, Tbk menjadi PT Bank Century, Tbk melalui keputusan Gubernur Bank Indonesia No. 6/92/KEP/GBI/2004 tanggal 28 Desember 2004.
Pengambilalihan Mutiara Bank (d/h CenturyBank) oleh Pemerintah dilakukan sebagai langkah penyelamatan untuk kesehatan ekonomi nasional. Pengambilalihan itu dilakukan melalui Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) berdasarkan keputusan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) No.04/KSSK.03/2008 tanggal 21 November 2008 setelah menetapkannya sebagai Bank Gagal yang berdampak sistemik.
Seiring dengan itu, pada hari yang sama, juga dilakukan pengangkatan Direksi baru CenturyBank berdasarkan Rapat Dewan Komisioner LPS No. 042/RDK-LPS/2008 tanggal 21 November 2008 (sebagai Rapat Umum Pemegang Saham).
Menurut Direktur Utama Mutiara Bank, Maryono, perubahan nama CenturyBank menjadi Mutiara Bank merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari rebranding (perubahan menyeluruh) yang dilakukan setelah pengambilalihan bank ini oleh pemerintah. Berawal dari perubahan manajemen, dilanjutkan pencanangan spirit metamorfosa, perubahan visi-misi, perubahan corporate culture, pencanangan business plan dan strategi baru. “Semuanya itu merupakan upaya untuk pemulihan dan penyehatan Mutiara Bank,” jelas Maryono.
Di bawah kendali manajemen baru, Mutiara Bank (d/h CenturyBank) mencoba memantapkan visi “Menjadi Bank Fokus Terbaik Pilihan Masyarakat.” Sebuah bank yang kegiatan usahanya fokus pada segmen retail tanpa mengabaikan segmen lainnya. Berobsesi menjadi bank terbaik yang mampu memberikan standar pelayanan yang berkualitas dan mampu memberikan jasa perbankan yang menguntungkan. Sehingga diharapkan bank ini menjadi pilihan masyarakat karena dapat menjadi tempat berinvestasi yang aman dan terpercaya bagi nasabah dan investor. Serta menjadi pilihan tempat kerja yang terbaik bagi karyawan untuk berkarya.
“Ke depannya berbagai strategi dan program telah disiapkan oleh manajemen baru untuk dapat menjadikan Mutiara Bank (d/h CenturyBank) sebagai bank fokus terbaik pilihan masyarakat dan menjadi salah satu bank terkemuka di Indonesia yang aman, terpercaya memiliki layanan istimewa, menghasilkan produk-produk berkualitas, investasi yang berharga dengan performa terpercaya, bersih dan kuat sesuai dengan filosofi mutiara,” jelas Maryono.
Seiring dengan perubahan nama menjadi Mutiara Bank, selain pemantapan visi dan misi, telah dilakukan pula perubahan fisik yang kasat mata seperti seragam karyawan, hingga perubahan layanan seperti: perubahan proses pemberian kredit, pengembangan teknologi IT, inovasi berbagai produk baru perbankan serta service excellent untuk nasabah seperti: call center, fasilitas ATM Bersama yang memiliki 17.000 anjungan, dan sebagainya.
Dalam tata kelola perusahaan, manajemen berusaha melakukan perubahan kewenangan, pengelolaan bank dengan prinsip Good Corporate Governance (GCG), penerapan manajemen risiko yang baik, dan sebagainya. Berbagai peningkatan infrastruktur, program dan produk tersebut akan dilakukan untuk mewujudkan visi menjadi bank terbaik pilihan masyarakat.
Pembaruan yang dilakukan mencakup berbagai aspek, antara lain aspek identitas korporasi, strategi komunikasi, arahan dan pelaksanaan bisnis, budaya perusahaan, corporate personality, karakter bisnis, pendekatan pasar dan nasabah, pengembangan strategis, sistem, business channel, solusi korporasi dan bisnis, produk kompetitif, dan relationship.
Berkaitan dengan pembaruan misi, MutiaraBank memberikan yang terbaik dengan mengutamakan pelayanan, kenyamanan, dan kepuasan nasabah secara optimal, serta akan menjadi bank fokus terdepan dengan SPIRIT sebagai core valuenya. SPIRIT merupakan perwujudan dari Service Excellence, Professionalism, Integrity, Relationship, Innovative, dan Trust.
Mutiara Bank akan fokus pada empat segmentasi bisnis. Untuk segmen Treasury & Government Funding, dimana Mutiara Bank akan menjadi bank yang dapat menyediakan kebutuhan produk treasury utama dan lengkap yang mendukung pengembangan bisnis nasabah utama dan menjadi salah satu bank penyedia layanan transaksi bagi institusi pemeritahan. Sementara untuk segmen Small & Medium Enterprise, MutiaraBank akan menjadi bank utama di segmen SME dengan fokus pada wilayah dimana cabang berada dan etnis tertentu, juga akan menjadi transaction bank untuk nasabah segmen SME.
Untuk segmen Consumer, Mutiara Bank akan menjadi bank pilihan dalam layanan pembiayaan segmen konsumtif dengan penawaran produk yang menarik dan kompetitif, serta sebagai mitra utama pilihan pembiayaan kredit konsumtif oleh perusahaan keuangan di Indonesia. Sedangkan pada Retail Funding, Mutiara Bank akan menjadi pilihan dalam memenuhi layanan kebutuhan transaksi untuk mass affluent serta menjadi bank penyedia jasa layanan prima khususnya kepada kelompok nasabah utama.
Saat ini Mutiara Bank telah memiliki 56 kantor dengan 26 Kantor cabang, 25 kantor cabang pembantu, 5 kantor kas dan 54 ATM yang tersebar diberbagai daerah. Total karyawannya berjumlah lebih dari 1.480 orang.
Direktur Utama Bank Mutiara Maryono, saat jumpa pers, di Jakarta, Kamis (26/11/2009) mengatakan, kantor cabang baru itu nantinya akan dibuka di sejumlah kota di Pulau Jawa dan Kalimantan yakni di Semarang, Bandung, dan Jakarta serta Balikpapan dan Pontianak. Sementara produk-produk yang menjadi unggulan perseroan masih tetap pada produk tabungan, giro dan deposito. “Deposito di valas atau bank note itu jadi unggulan, karena dari situ kita hasilkan fee based income yang besar yaitu Rp1 miliar per bulan dari bank note,” jelasnya.
Kembalikan Rp 6,7 Triliun
Setelah diambilalih pemerintah melalui LPS dengan mengucurkan dana talangan sebesar Rp.6,7 triliun, Bank Mutiara harus dapat bangkit menjadi bank terpercaya. Direksi baru dituntut harus berkemampuan menjamin akan mengembalikan dana suntikan LPS (pemegang saham Mutiara saat ini) sebesar Rp 6,7 triliun dalam waktu yang ditentukan. Maryono mengatakan, pihaknya memiliki tanggung jawab untuk mengembalikan dana Rp 6,7 triliun.
“Kami yakin dana senilai itu bisa kami kembalikan ke LPS,” kata Maryono di Jakarta, Kamis (26/11). Maryono memaparkan hitungan berdasar (asumsi) laba bersih Bank Mutiara mencapai Rp 231 miliar pada Oktober 2009. Diasumsikan laba bersih sampai akhir tahun 2009 mencapai Rp 250 miliar. Maka, menurut Maryono, jika diambil opsi penyehatan selama lima tahun, nilai laba sudah Rp.1,25 triliun, ditambah modal sebesar Rp 500 miliar, sehingga totalnya Rp 1,75 triliun.
“Kemudian diasumsikan Price Book Value (PBV) 4x, itu nilainya sudah di atas Rp.6 triliun,” jelas Maryono. Dia mengambil asumsi PBV 4x membandingkan dengan penjualan Bank Ekonomi Raharja beberapa waktu lalu. Bank itu, kata Maryono, relatif seukuran dengan Bank Mutiara, di mana ketika dijual PBV Bank Ekonomi Raharja sebesar 4,3x. Maka, menurut Maryono, ini adalah asumsi yang paling konservatif.
Firdaus Djaelani, Kepala Eksekutif LPS juga menimpali. Menurut Djaelani, apalagi jika aset-aset Bank Mutiara yang tengah diburu pemerintah berhasil kembali maka itu bisa meningkatkan ekuitas.
Undang-Undang mengamanatkan, LPS memiliki waktu tiga tahun untuk menyehatkan Bank Mutiara. Setelah tiga tahun, LPS harus menjualnya minimal seharga dana talangan yang sudah dikucurkan. Namun, jika opsi tiga tahun tersebut belum bisa mendapat harga yang cocok, LPS masih mendapat waktu perpanjangan lagi dua tahun.
Lalu setelah masa lima tahun tersebut, LPS belum bisa mendapatkan harga jual senilai dana talangan, maka LPS diperbolehkan menjual Bank Mutiara di bawah harga optimumnya. Hal inilah yang dikuatirkan banyak pihak, setelah mencermati hasil investigasi BPK dan pemeriksaan Pansus Angket Century DPR-RI.
Langkah Bagus
Beberapa nasabah dan pengamat menilai perubahan nama Bank Century menjadi Bank Mutiara sangat positif, sebagai langkah yang sangat bagus. Menurut Ahmad Deni Daruri, Presiden Direktur Center for Banking Crisis (CBC), selain memuluskan proses investigasi penyelewengan bailout Century, tidak ada lagi kekhawatiran risiko bleeding yang memicu aksi rush nasabah.
Selain itu, menurut Ahmad Deni Daruri, pemerintah pun akan diuntungkan. Karena proses penyehatan Century yang sudah menghabiskan Rp 6,7 triliun itu, tidak akan terganggu adanya investigasi. Sehingga, permodalan (Capital Adequacy Ratio/CAR) nya dapat terus meningkat.
Direktur Utama Bank Mutiara Maryono, saat jumpa pers di Jakarta, Kamis (26/11/2009) menjelaskan, kinerja Bank Mutiara menunjukkan perbaikan signifikan. Total aset per Oktober 2009 mencapai Rp 7,415 triliun atau meningkat dibandingkan akhir Desember 2008 yang masih Rp 5,586 triliun. Dana masyarakat juga naik Rp 692 miliar atau mencapai Rp 5, 808 triliun pada Oktober 2009 dibandingkan Desember 2008 yang mencapai Rp 5,116 triliun.
Sebagai cerminan telah meningkatnya kepercayaan nasabah, Bank Mutiara telah meraih laba bersih sebesar Rp231 miliar hingga 31 Oktober 2009. Dijelaskan, kenaikan laba ini didongkrak oleh fee based income dan pendapatan bunga dimana fee base income didominasi pendapatan transaksi jual beli bank notes dari trade finance. Manajemen juga akan mendorong peningkatan margin bunga bersih dari saat ini sekitar 1% menjadi 2% pada 2010.
“Kami akan berupaya menurunkan biaya dana dengan memperbesar porsi dana murah dan ekspansi kredit yang akan terus ditingkatkan,” tutur Maryono. Dia mengatakan bahwa rasio likuiditas dan solvabilitas semakin membaik dan memenuhi ketentuan Bank Indonesia (BI) adalah cerminan dari kepercayaan yang semakin meningkat.
Indikator semakin membaiknya bank ini juga terlihat dari rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) yang mengalami peningkatan, yakni menjadi 10,07% per Oktober 2009. Bandingkan dengan rasio kecukupan modal sebesar minus 22,29% pada akhir tahun 2008 lalu. Naklum, sudah mendapat dana talangan Rp.6,7 triliun.
Dijelaskan, risiko kredit bermasalah juga menunjukkan perbaikan, jika melihat pergerakan atau perubahan dari bulan September ke Oktober. Meski masih masuk pada risiko kredit yang tinggi, penurunan NPL (Non Performing Loan) pada bulan Oktober terjadi yakni dari NPL sebesar 6,81% pada September menjadi 6,58%. Sementara penyaluran kredit, Bank Mutiara telah menyalurkan sebesar Rp 4,467 triliun per 31 Oktober 2009 dimana total kredit baru yang telah disetujui sebesar Rp 900 miliar.
Maryono juga menegaskan meski Bank Century telah berganti nama menjadi Bank Mutiara, namun produk lama dan perjanjian lama dengan menggunakan nama Bank Century tetap berlaku hingga selesai. Demikian juga dengan buku cek, bilyet giro dan bilyet deposito dan kartu Anjungan Tunai Mandiri (ATM) memuat nama perseroan PT Bank Century Tbk masih dapat dipergunakan.
Juga ditegaskan, kendati Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) telah mengambil PT Bank Century Tbk (BCIC), namun kepemilikan saham lama dipertahankan. Menurut Kepala Eksekutif Firdaus Djalaeni, LPS masuk tidak mengambil kepemilikan saham, dikasih hak RUPS jatuh ke tangan LPS, namun pemegang saham lama masih tetap ada. BI (Berita Indonesia 73)
| < Prev | Next > |
|---|



