Majalah Berita Indonesia

Friday, Jul 30th

Last update04:15:44 PM GMT

Majalah Berita Indonesia RSS Feed
You are here Edisi Cetak Berita Utama Bush Maju Kabotan Mundur Kewirangan

Bush Maju Kabotan Mundur Kewirangan

E-mail Print PDF
User Rating: / 0
PoorBest 
Article Index
Bush Maju Kabotan Mundur Kewirangan
Kritik Atas Gagasan SBY:
Bush: RI Punya Posisi Kuat di PBB
Syaykh Dr. AS Panji Gumilang: Maknai Kunjungan Bush Demi Kesetaraan
All Pages

Apakah hubungan Indonesia dan Amerika Serikat kini tengah memasuki era bulan madu? Dalam kunjungannya ke Indonesia, Presiden Bush menawarkan berbagai bentuk kerja sama bidang pembangunan ekonomi dan teknologi. Presiden SBY juga menawarkan kepada Bush tiga solusi penyelesaian konflik Irak. Bush sendiri terkesan galau soal posisi AS di Irak, maju kabotan mundur kewirangan (maju keberatan mundur malu).

Presiden George W Bush bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Bogor (20/11)Percaya diri dan santai menghadapi tekanan protes dan penolakan puluhan ribu demonstran di luar kompleks Istana Bogor, Presiden AS George W Bush meminta rakyat Indonesia menghargai pemimpin yang mereka pilih. Bush memuji rekannya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang dinilainya sangat dihormati di forum internasional. Mereka baru saja bersama-sama menghadiri konferensi tingkat tinggi APEC di Hanoi, Vietnam, ketika melanjutkan pertemuan mereka di Istana Bogor (20/11).

“Ketika dia berbicara, para pemimpin lain mendengarkannya, demikian juga saya,” kata Bush dalam konferensi pers bersama Presiden Susilo, usai pertemuan bilateral, dan pertemuan dengan sembilan tokoh sipil. Bush sangat menghargai perspektif Presiden Susilo, akrab dipanggil SBY, tentang masalah-masalah internasional. Karenanya, Bush berterima kasih kepada SBY yang telah membagi perspektif tersebut kepadanya di dalam pertemuan empat mata mereka.

Pemimpin negara adidaya itu juga menyinggung reformasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Menurut Bush, badan dunia itu memerlukan reformasi agar menjadi sebuah lembaga yang lebih efektif. “Dan saya memahami bahwa Indonesia akan punya suara yang kuat bagi perubahan positif di PBB. Kami akan memilih negeri Anda di Dewan Keamanan,” kata Bush sembari memandang ke SBY yang berdiri di sebelah kirinya.

Bush juga mengingatkan SBY tentang kekejaman aksi kaum teroris. Rakyat Amerika dan Indonesia, kata Bush sama-sama menderita akibat tindakan kekerasan para ekstremis. Karenanya, kedua negara bertekad mengambil tindakan efektif melawan jaringan teroris yang merencanakan serangan-serangan baru terhadap rakyat yang tidak berdosa.

“Indonesia adalah sebuah contoh bagaimana demokrasi dan modernisasi dapat menjadi alternatif selain ekstremisme. Dan kami menghargai kepemimpinan Tuan Presiden,” kata Bush. Bush berasumsi bahwa demokrasi membuat Indonesia kuat dan lebih baik untuk memainkan peranan positif di Asia Tenggara dan di dunia. Bush menggambarkan pembicaraannya dengan SBY sangat bersahabat, dan menghargai semua pelayanan yang diberikan SBY, termasuk pengamanan bernilai Rp 6 miliar yang dikritik beberapa kalangan sebagai sangat berlebihan.

MENJALIN KESEPAKATAN: Pernyataan SBY soal konflik Irak disesali banyak pihak.Bush juga memberi komitmen bantuan 157 juta dolar AS untuk memajukan pendidikan pada 1.000 sekolah dasar di delapan provinsi, dan program imunisasi flu burung serta penyakit infeksi lainnya. Selain itu, AS memberi bantuan 55 juta dolar AS lewat Millenium Challenge Account (MCA) untuk reformasi birokrasi dan pemberantasan korupsi, melestarikan hutan dan memerangi pembalakan hutan (illegal logging). Bantuan lainnya berupa dana 16,6 juta dolar AS untuk penelitian gabungan bagi deteksi dini ancaman tsunami.

Sanjungan dan komitmen kerjasama pembangunan Bush sepertinya meluluhkan hati SBY untuk memberi dukungan bagi penyelesaian konflik berdarah di Irak yang dinilai para pengamat dan anggota DPR kelewat jauh. SBY mengemukakan pandangannya untuk mengakhiri konflik di Irak, menemukan solusi yang tepat dan realistis bagi Irak, dan masyarakat global harus bertanggung jawab di dalam menyelesaikan masalah tersebut. “Saya pikir bukan hanya tanggungjawab AS dan negara-negara lain yang terlibat di Irak, tetapi sudah tentu, juga peran dan tanggung jawab bangsa-bangsa lain,” kata SBY di dalam konferensi pers bersama tersebut.

Menurut SBY, Indonesia sangat percaya bahwa dengan bekerja sama—membagi dan saling tukar gagasan—akan ada solusi yang tepat dan realistis di dalam jangka panjang untuk menemukan, sekali lagi, solusi yang tepat dan baik bagi Irak, bagi negara-negara tetangga, bagi AS, bagi Indonesia, dan bagi seluruh bangsa di dunia.

Menjawab pertanyaan, SBY masih merinci gagasannya dengan mengajukan usul tiga solusi. Pertama, sungguh penting menciptakan rekonsiliasi nasional di Irak, diiringi dengan pemberdayaan pemerintah nasional yang ada, sehingga Irak bisa menangani sendiri masalah nasionalnya. Kedua, harus melibatkan pihak-pihak lain. Menempatkan pasukan keamanan bentukan baru yang sejajar untuk sementara waktu, dengan jadwal waktu secukupnya bagi penarikan pasukan AS dan pasukan-pasukan koalisi lainnya keluar dari Irak.

Kata SBY, sudah tentu, langkah (ketiga) yang tidak boleh diabaikan, bagaimana masyarakat internasional bekerja sama di dalam melaksanakan pemulihan dan pembangunan kembali Irak pasca konflik. Karenanya, kata SBY: “Kita harus memadukan ketiga solusi tersebut, sebelum AS bisa menentukan kebijakan apa yang bisa dilakukan di masa datang berkaitan dengan penarikan pasukannya dari Irak.

BERDIALOG DENGAN ANAK-ANAK: AS berkomitmen pada pendidikan.Menteri Luar Negeri Hassan Wirayuda yang berbicara pada pers dua hari setelah pemaparan gagasan SBY, mengedepankan kesiapan pemerintah menanggung segala konsekuensi yang mungkin muncul jika Indonesia memutuskan terlibat aktif dalam penyelesaian konflik di Irak. Menurut Hassan ketika pemerintah merancang sebuah konsep penyelesaian konflik di Irak, maka sudah menghitung konsekuensinya.

“Terlalu naif kalau melemparkan sebuah konsep yang masih mentah ke tingkat pemerintah,” kata Hassan. Indonesia menurut Hassan, jika diminta, akan berperan aktif di dalam penyelesaian masalah Irak.

Hassan tidak merinci konsekuensi apa yang dia maksud, tetapi Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono berbicara straight to the point (langsung ke persoalan). Kata Juwono, Indonesia siap mengirim pasukan pemelihara perdamaian ke Irak kalau tiga solusi yang ditawarkan SBY disetujui oleh pihak-pihak di Irak, PBB, Liga Arab dan OKI.

“Kalau mekanisme kehadiran internasional sudah disepakati, kita bisa masuk ke Irak,” kata Juwono. Tetapi langkah ini harus didukung oleh kesepakatan diplomatik. Menurut Juwono sejauh ini belum ada pembicaraan awal di PBB mengenai hal tersebut. Sedangkan Indonesia efektif menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, tahun 2007.

Maju Keberatan Mundur Malu
Pimpinan Lembaga Pendidikan Al-Zaytun, Syaykh Dr. AS Panji Gumilang menilai jawaban Presiden Bush--belum memutuskan untuk menambah atau menarik pasukan dari Irak--sesungguhnya memberi lampu hijau yang selama ini belum pernah dinyalakan. Itu sesungguhnya bahasa panglima tertinggi (militer) yang sedang terjebak perangkap dalam kancah maju kabotan mundur kewirangan (maju keberatan mundur malu). “Presiden Bush memerlukan pendamping penasihat agar terlepas dari perangkap yang menjebaknya, tentunya dengan muka yang tidak kewirangan,” kata Syaykh dalam wawancara dengan Berita Indonesia. Syaykh menyarankan Indonesia sebagai negara yang punya hubungan baik dengan AS maupun Presiden Bush, agar menggunakannya demi kepentingan kemanusiaan, membebaskan Irak dari lilitan kekuatan adidaya AS, yang kini porak poranda. Indonesia  juga perlu menempatkan Presiden Bush sebagai panglima tertinggi militer yang telah selamat menyelesaikan peperangan, dan pada babak selanjutnya dapat membantu membangun kembali Irak dan Afganistan dalam bentuk yang lebih manusiawi menurut pandangan umat manusia dan bangsa-bangsa di dunia.

BERTEMU SEMBILAN TOKOH: Hasil pembicaraan akan dilanjuti tim teknis.Memberi komentar tentang konflik antara Palestina dan Israel, Syaykh mengatakan konflik tersebut sesungguhnya pangkal terjadinya keberpihakan berbagai negara kepada masing-masing pihak. Bagi yang tidak menghendaki keberpihakan AS terhadap Israel akan bertanya mengapa AS berpihak kepada Israel? Sebaliknya mungkin bagi yang lainnya juga akan bertanya mengapa Cina berpihak kepada Palestina juga mungkin Indonesia? Tumbuhnya keberpihakan, aliansi salah satu pihak yang sedang konflik dengan pihak-pihak lain, itu suatu aksioma.

Kata Syaykh, jika saja pihak-pihak yang konflik itu dapat mengurangi intensitas konfliknya, maka keberpihakan pihak-pihak lain kepada salah satu pihak akan berkurang. Semestinya pihak-pihak yang sedang konflik dapat mencari dan menemukan berbagai solusi rasional melalui perundingan dan diskusi yang dilakukan oleh kedua rakyat dan pemerintah yang sedang konflik. Syaykh melihat perlunya masing-masing pihak menghentikan tindak kekerasan dan bersungguh-sungguh mencari perdamaian. Namun Syaykh mengamati adanya pihak-pihak yang tidak ingin konflik itu segera usai, karena dalam kondisi konflik ada kepentingan riil yang dapat dicapai. “Karena konflik semakin tinggi, harga minyak semakin melonjak, negara-negara penghasil minyak menenggak keuntungan yang tiada tara,” kata Syaykh. Maka negara semacam ini mungkin berkepentingan untuk tidak serius mendorong redanya konflik di Timur Tengah tersebut. Pembelaan mereka sangat double standard. Kata Syaykh, jadi yang double standard di dunia ini dapat terjadi di mana-mana, walau biasanya alamat itu ditujukan kepada AS.

Namun Syaykh tidak terlalu berharap terjadinya perubahan sikap dan pandangan dari Presiden Bush (masalah Timur Tengah) yang telah memporak-porandakan tatanan kehidupan kemanusiaan, sebab yang bisa mengubah sikap itu adalah dirinya sendiri dan sikap politiknya sendiri. Kata Syaykh, tekanan demi tekanan yang dilancarkan umat manusia sejagad, termasuk Sri Paus, terhadap presiden Bush belum dapat mengubah sikapnya. Karena itu, Syaykh mengajak bangsa ini memandang berbagai persoalan Timur Tengah yang berkaitan dengan AS tidak hanya tertumpu pada seorang Presiden Bush yang sedang berkuasa. “Kita dapat memperhatikan angin perubahan yang sedang terjadi di AS. Berbagai hal dapat berubah dan tentunya berdampak pada kebijakan AS di Timur Tengah.

Sebagai pelaku didik, Syaykh sangat menghormati atas kesempatan yang diluangkan Bush untuk bertatap muka dan bercakap-cakap dengan siswa-siswa sekolah dasar di Bogor. “Andainya itu basa-basi, saya tetap hormat, sebab di dunia ini penuh basa-basi. Namun hanya personalitas yang terhormat sajalah yang dapat melakukan basa-basi yang penuh arti dan bergengsi,” kata Syaykh.
Duta Besar AS untuk Indonesia, Lynn Pascoe, sepaham dengan SBY bahwa krisis politik dan segala kekacauan yang sekarang terjadi di Irak juga masalah dunia, bukan hanya masalah pemerintahnya. Karena itu, kata Pascoe, AS menilai komunitas internasional harus terlibat aktif menangani konflik Irak dan kawasan Timteng lain, seperti di Israel, Palestina, atau Libanon.
“Ini bukan semata-mata membantu kami dan orang lain, tetapi memang begitu cara dalam menyelesaikan masalah dunia seperti yang seharusnya dilakukan negara-negara besar, seperti Indonesia,” kata Pascoe (22/11).

Pascoe mestinya masih ingat bahwa AS mengabaikan protes dunia, negara-negara anggota DK-PBB, dan melangkahi PBB ketika memutuskan untuk menggelar invasi militer di Irak, Maret 2003. Sekarang konflik tersebut sudah memasuki kawasan yang tidak bertepi, menewaskan lebih kurang 101 penduduk sipil Irak setiap harinya.

Gagasan tiga solusi SBY, dinilai Pascoe sebagai bentuk keseriusan dan komitmen nyata Indonesia untuk mengambil peran lebih besar dalam komunitas internasional, apalagi Indonesia menjadi anggota tidak tetap DK-PBB. Kata Pascoe: “Ini kesempatan tepat bagi Indonesia yang menyatakan ingin ikut berperan dan menjadi pemain yang serius. Kami yakin Indonesia bisa memainkan peran yang kuat dan positif.”

Gagasan SBY tersebut dinilai sejalan dengan upaya AS yang sejak dua tahun terakhir, berusaha keras mencari dukungan dari sebanyak mungkin negara untuk membantu menangani krisis di Irak.

Bush, untuk pertama kalinya mengakui “kemungkinan adanya kesamaan” antara gejolak yang terjadi di Irak dan selama perang Vietnam. Tetapi Bush bersikeras tak akan meninjau kembali kebijakan di Irak meskipun korban tewas di pihak AS semakin bertambah. Pengakuan Bush muncul dalam wawancara dengan ABC News (18/10). Stasiun televisi AS itu mengkorfirmasi pernyataan kolumnis harian The New York Times, Tom Friedman. Kondisi gejolak kekerasan yang kini terjadi di Irak, tulis Friedman, sama persis dengan situasi di Vietnam tahun 1968, momen yang dianggap sebagai titik balik invasi militer AS di Vietnam. Peperangan berpuluh tahun di Vietnam telah menewaskan 56.000 tentara AS.

“Dia bisa jadi benar. Gejolak kekerasan jelas meningkat,” kata Bush. Menurut Bush kelompok perlawanan tengah berusaha memperparah situasi kekacauan dan kerusakan. Apalagi Al Qaeda masih sangat aktif beroperasi di Irak. Mereka jelas sangat berbahaya dan mematikan, ingin memperluas perang antara Sunni dan Syiah. Bersamaan dengan keluarnya pernyataan Bush. Menurut catatan Pentagon, sejak 2003 sampai 2006, sudah 3.000 tentara AS tewas dan 9.500 terluka.

Namun Bush dan para penguasa militer AS, bersikeras untuk tidak meninjau kembali kebijakan dan strategi perang mereka di Irak.

Hizbut Tahrir Indonesia di dalam siaran persnya (25/11) mengemukakan, pemerintah boleh saja berbusa-busa mengatakan bahwa Bush datang dengan agenda soft power, seperti pendidikan, kesehatan, sains dan teknologi. Namun hal ini bertolak belakang dengan dengan pernyataan Steve Hadley, Penasihat Keamanan AS, yang juga ikut di dalam kunjungan Bush.

Sebelum keberangkatan resmi Bush ke Asia, termasuk Indonesia, seperti dilaporkan di dalam situs resmi Gedung Putih, www.whitehouse.gov (9/10), bahwa kunjungan tersebut akan digunakan oleh Bush untuk memajukan kepentingan rakyat Amerika. Dalam kamus Hadley, kepentingan yang dimaksud, mencegah tantangan yang dihadapi AS—terorisme—dan menjamin bagaimana pebisnis AS bisa meraih keuntungan di kawasan Asia Tenggara.

Pemerintah juga boleh berulang-ulang mengucapkan terima kasih atas bantuan yang ditawarkan Bush. Namun, semua orang tahu bahwa setiap bantuan asing tentu memiliki motif politik. “Tidak ada makan siang gratis dalam sistem kapitalis,” demikian HTI. SH/Berita Indonesia 27, (Dari berbagai sumber)



Add comment


Security code
Refresh

Berita Utama

utama_5_20.jpg
Dalam pandangan publik, DPR masih stempel karet pemerintah. Mereka jinak, menurut dan tidak banyak mennyalurkan aspirasi rakyat.
utama_13_71.jpg
Setelah gempa Padang 30 September 2009, Indonesia harus bersiap menghadapi bencana-bencana lain yang sedang mengintip ingin

Visi Berita

visi_42.jpg
Terorisme bukan jihad! Teroris bukan pahlawan! Dua kalimat pendek ini perlu dikedepankan untuk meluruskan makna jihad
visi_76.jpg
Capaian besar biasanya berawal dari ‘mimpi’ besar. Tapi untuk meraihnya diperlukan upaya yang kuat dan tidak mudah

Lentera

lentera_2_66.jpg
Al-Zaytun Sumber Inspirasi (4)Syaykh al-Zaytun: Indonesia harus masuk dalam zone of peace and democracy kalau ingin
lentera_1_53.jpg
Kampus Al-Zaytun selalu menempatkan dirinya sebagai bagian dari komunitas global. Hal ini juga terlihat dari semangat
Share/Save/Bookmark