| Article Index |
|---|
| Bencana Masih Hantui Tahun 2007 |
| Bencana Sepanjang 2006 |
| Perang Melawan Mafia Pembalak |
| All Pages |
Bencana menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan masyarakat Indonesia ketika menapak ke awal tahun 2007. Faktanya, bencana mengiringi perjalanan tahun 2006, malahan gencar terjadi di pengujung tahun. Akankah tahun ini juga diramaikan oleh bencana di pelbagai daerah? Sebelum pertanyaan itu terjawab, bangsa perlu membangkitkan kesadaran moral untuk menjaga keseimbangan ekosistem.
Sejak bencana kekeringan melanda sebagian besar wilayah negeri mulai Agustus, masyarakat tidak henti-hentinya menunaikan shalat istighosah meminta hujan. Namun, ketika hujan mulai turun di awal Desember, langsung memicu bencana banjir. Editorial Media Indonesia yang ditayangkan di Metro TV, Selasa (19/12) langsung menghunjam lewat judul: Musim Bencana Telah Tiba.
Kedatangan musim hujan di bagian dunia lainnya merupakan berkat alam karena memberikan air kehidupan bagi bumi. Namun di Indonesia, sebagian daerah menikmatinya sebagai berkat, sebagian besar lainnya menerimanya sebagai bencana.
Gempa tektonik yang mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, merupakan bencana paling mengerikan di pertengahan tahun 2006, setelah gempa bumi yang disusul tsunami meluluhlantahkan Aceh dan Nias (26/12-2004). Korban tewas dalam gempa bumi DIY sebanyak 5.000 orang, sedangkan tsunami menewaskan tak kurang dari 200.000 orang. Padahal masyarakat DIY lebih mewaspadai letusan Gunung Merapi.
Dalam waktu yang hampir bersamaan, gempa bumi mengguncang sejumlah daerah. Setiap guncangan gempa menimbulkan ketakutan lantaran masyarakat trauma dengan tsunami Aceh. Tanpa dikomando sekali pun, penduduk yang ketakutan berlarian mencari tempat-tempat yang lebih tinggi.
Masyarakat memang sudah waspada tsunami. Di saat masyarakat siap, tsunami malah tak datang. Namun begitu masyarakat lalai, tsunami malah menerjang kawasan-kawasan pantai selatan Jawa, 18 Juli 2006. Kawasan terparah diterjang tsunami adalah Pangandaran, mencatat korban 587 tewas dan 298 orang hilang.
Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Chalid Muhammad, mencatat 135 bencana ekologis sepanjang tahun 2006. Bencana ekologis diawali banjir dan tanah longsor di Jember, Jawa Timur, 1 Januari 2006. Tahun itu ditutup dengan bencana banjir di Aceh Tamiang dan tanah longsor di Madina, Sumut, dan Solok serta Padang Pariaman, Sumbar.
Manajer Program Penanggulangan Bencana WALHI, Sofyan mengatakan kepada Amron Ritonga dari Berita Indonesia, periode 2004 sampai awal Januari 2007, sangat rentan dengan bencana dan musibah. Musibah itu datang silih berganti lantaran ulah manusia sendiri yang ceroboh mengelola alam, berupa penebangan hutan secara liar, hutan menjadi gundul, sehingga mudah timbulnya banjir dan tanah longsor. Sebaliknya, di musim kemarau, Indonesia sangat rentan dengan bencana kekeringan.
Di sektor kehutanan, Walhi mencatat tiga akar masalah yang menjadi pemicu kehancuran hutan Indonesia. Pertama, keterbatasan kemampuan hutan alam dan hutan tanaman memasok kebutuhan kayu untuk industri perkayuan yang tumbuh pesat. Kedua, penyingkiran masyarakat dari kawasan hutan, dan ketiga, korupsi serta lemahnya penegakan hukum. “Seharusnya respon negara diarahkan secara maksimal pada penyelesaian ketiga akar masalah tersebut. Selain upaya serius bagi pemulihan kawasan hutan,” kata Sofyan.
Menurut hasil riset WALHI, meskipun tak bisa diprediksi, bencana tsunami akan muncul kembali mengingat tingkat kerawanan bencana di Indonesia mencapai 83 persen. Kata Sofyan, tidak berarti masyarakat harus pindah mencari tempat yang lebih aman, melainkan meningkatkan kemampuan mereka di dalam menghadapi bencana. Bila bencana itu tiba, masyarakat tidak lagi menganggapnya sebagai bencana karena sistem sosialnya tidak terganggu, tidak ada korban, bahkan masyarakat menganggapnya sebagai hal biasa.
Korban Jiwa
Kepungan banjir dan tanah longsor menimpa sejumlah daerah, sehingga korban jiwa dan harta benda terus berjatuhan. Daerah-daerah yang rawan longsor adalah kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, Solok dan Padang Pariaman, Sumatera Barat. Bencana longsor di tiga daerah mencatat korban secara keseluruhan hampir 100 orang. Selain longsor, gempa bumi menggeser patahan, sehingga 17 desa terisolasi beberapa hari. Tahun 2006 juga ditandai bencana kabut asap, akibat pembakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan, menyerbu Singapura dan Malaysia. Juga semburan lumpur panas PT. Lapindo Brantas selama berbulan-bulan sejak Agustus 2006, menyengsarakan ribuan warga Sidoarjo, karena rusaknya sawah dan rumah mereka.
Tahun 2006 ditutup dengan tragedi yang memilukan, tenggelamnya KM Senopati Nusantara (29/12) di perairan Mandalika dalam pelayaran dari Pangkalan Bun, Kalimantan Selatan ke Tanjung Mas, Semarang. Selain puluhan korban yang meninggal lantaran ganasnya laut, KM Senopati, sampai sekarang lenyap bersama lebih dari 400 penumpang. Sedangkan tahun 2007 disongsong oleh kecelakaan pesawat Boeing 737-400 milik Adam Air (1/1). Pesawat itu, diperkirakan meledak berkeping-keping bersama 102 orang di dalamnya.
Reruntuhan pesawat tersebut tidak diketemukan selama 10 hari. Operasi pencarian melibatkan pesawat, helikopter dan kapal laut serta ribuan tenaga pencari di darat dan di laut. Namun penemuan ekor pesawat oleh seorang nelayan di Desa Bojo, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, menguak penemuan serpihan-serpihan berikutnya.
Kecelakaan Adam Air, ternyata merupakan pembuka tabir sejumlah musibah di udara sepanjang pekan-pekan awal tahun 2007. Hampir bersamaan kecelakaan terjadi pada alat transportasi darat, laut dan udara. Misalnya, pesawat Lion Air yang gagal lepas landas karena as belakangnya patah, pesawat tergelincir, mendarat darurat dan mendarat lagi tidak lama setelah lepas landas.
Laut Menebar Teror
Wilayah perairan laut di tahun 2007, tampaknya belum berhenti menebar teror, seperti halnya di tahun 2006. Seminggu setelah memasuki tahun 2007, puluhan jiwa melayang saat berlayar di berbagai wilayah perairan di Indonesia. MI, Rabu (3/1) melaporkan sejumlah peristiwa naas yang menimpa berbagai jenis transportasi laut. Di antaranya, sebuah speed boad tenggelam diterjang ombak di Muara Sampit, Kalimantan Tengah. Speed boad itu bertolak dari Kecamatan Pagatan, Kabupaten Katingan, menuju Sampit dengan muatan 24 orang, 10 orang di antaranya dinyatakan hilang. Pada hari yang sama juga dilaporkan, dua kapal nelayan asal Pati, Jawa Tengah, tenggelam diterjang ombak di perairan Indramayu, Jawa Barat. Namun, kelima anak buah kapal selamat.
KM Loyan Jaya 9 dilaporkan hilang di perairan Ujung Genteng, Sukabumi, Jawa Barat. Dalam peristiwa naas itu lima nelayan dinyatakan hilang. Juga kapal motor cepat Ayu Lestari yang memuat 14 penumpang, tenggelam, 9 orang dinyatakan tewas. KMC Ayu Lestari diterjang ombak, tenggelam di perairan Sitirok, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Senin (1/1).
Harian Kompas melaporkan dua kapal motor cepat tenggelam di Laut Ambon, menewaskan 5 penumpang. Satu dari dua kapal cepat itu tenggelam dihantam ombak di perairan Seram bagian barat dalam perjalanan dari Latu, Kecamatan Kairatu ke Kulur, Kecamatan Saparua (1/1). Kapal cepat lainnya, Timahu 01, tenggelam di perairan Desa Wailelu.
Ombak besar yang bergemuruh di berbagai wilayah perairan Nusantara, tidak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga membawa kesengsaraan bagi nelayan dan keluarganya, karena mereka tidak bisa melaut sehingga tidak mampu menyediakan kebutuhan sehari-hari. Kesulitan para nelayan ini diungkapkan oleh Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) DKI Jakarta, Yan Winatasasmita. Misalnya, ribuan nelayan di Cilincing dan Muara Angke berhenti melaut karena besarnya gelombang laut. Kini mereka mulai kesulitan untuk membeli kebutuhan makan sehari-hari.
Di Darat Juga Bencana
Bencana tidak pernah memilih tempat untuk beraksi. Karena itu, tidak ada tempat yang aman bagi siapa pun ketika bencana menebar teror. Situasi ini menghantui masyarakat ketika memasuki tahun 2007. Jika wilayah udara diterjang angin kencang dan laut digoncang gelombang ganas, maka daratan juga diterjang banjir dan tanah longsor.
Sejak memasuki tahun 2007, berbagai wilayah secara beruntun diterjang banjir, tanah longsor dan angin ribut. Masyarakat di banyak daerah tidak sempat merayakan pergantian tahun lantaran bencana banjir. Masyarakat di delapan kabupaten dan kota di Riau tidak dapat merayakan tahun baru karena terjebak banjir.
Daerah-daerah yang diterjang banjir; Kota Pekanbaru, Kabupaten Rokan Hilir, Rokan Hulu, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, Rokan, Kuantan Singingi, dan Kabupaten Palalawan. Ketika masyarakat lainnya bergembira di pergantian tahun, warga Riau yang tertimpa banjir, menderita berbagai penyakit, seperti ISPA, demam berdarah, dan penyakit kulit.
Hal yang sama juga dialami masyarakat Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat. Sebanyak 8 dari 11 kecamatan tidak bisa merayakan pergantian tahun karena terperangkap banjir dengan ketinggian hampir dua meter. Kecamatan-kecamatan tersebut; Sambas, Selakau, Tebas, Sejangkung, Teluk Keramat, Galing, Sajingan, dan Kecamatan Subah.
Masyarakat kota Bandung, Jawa Barat (2/1), diterpa hujan deras yang disertai angin kencang. Seorang penduduk tewas, empat lainnya menderita luka-luka karena tertimpa pohon di kawasan wisata Cimanggu, Desa Rancabali, Kecamatan Ciwidey. Bencana serupa juga menimpa wilayah Lampung Barat. Tidak ada korban jiwa dalam bencana itu, namun sedikitnya 287 bangunan rumah, sekolah, dan tempat ibadah, rusak diterjang angin puting beliung yang beraksi sejak 31 Desember 2006 sampai 1 Januari 2007.
Angin puting beliung juga beraksi sepanjang Kamis (4/1), menerjang berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Kabupaten Buleleng, Bangli, dan Gianyar, Bali sampai Kabupaten Bantul di DIY dan Kota Ambon, Maluku. Boleh dibilang, dilihat dari pertanda awal, tahun 2007 juga dihantui bencana dan musibah yang datang silih berganti. MH/AM/SH (Berita Indonesia 30)
| < Prev | Next > |
|---|



