| Article Index |
|---|
| Adam Muncul Dalam Serpihan |
| Drama Titanic di Senopati |
| Saatnya Membenahi Manajemen Transportasi |
| Bencana Transportasi : Menguji Kebijakan Dephub |
| All Pages |
Sepasang kekasih, Popo dan Liza, bertahan pada sebatang bambu, mengapung selama tiga hari, menanggung lapar dan dahaga. Pada hari ketiga, Liza menyerah, meninggal dalam genggaman kekasihnya.
Dalam kondisi yang lunglai, Popo tetap memegang mayat Liza. Namun ombak ganas merenggut Liza dari genggamannya. Titanic, kapal pesiar termewah Inggris tahun 1800-an, menabrak puncak gunung es dalam pelayaran ke Washington. Lambung kapal robek, kemudian tenggelam, menyimpan kenangan seorang kekasih yang berjuang sampai mati demi keselamatan pujaannya.
Malam belum larut, baru pukul 21.00 WIT. Hari Jumat (29/12), langit tertutup awan hitam, pertanda hujan akan turun. Hembusan angin buritan terasa menusuk sampai ke sunsum begitu KM Senopati Nusantara bergerak meninggalkan Pelabuhan Kumai, Kalimantan Tengah. Benar saja, dalam pelayaran dari Kumai menuju pelabuhan Pangkalan Bun, Kalimantan Selatan, turun hujan lebat disertai angin kencang yang mengguncang ombak sampai setinggi empat meter.
Di Pangkalan Bun, Senopati melempar jangkar untuk menaikkan barang dan para penumpang. Setelah semuanya beres, nakhoda dan para anak buah kapal (ABK) menyiapkan Senopati untuk pelayaran berikutnya. Malam belum begitu larut ketika sirene Senopati meraung tiga kali sebelum meninggalkan Pangkalan Bun untuk memulai pelayaran dramatis menuju Pelabuhan Tanjung Mas, Semarang.
Dua korban selamat dari KM Senopati yang tenggelam, Ananda Erlangga yang berdarah Kalimantan adalah mahasiswa semester lima jurusan tehnik sipil, UNDIP, Semarang. Orang tuanya yang berdomisili di Palangkaraya, saat itu sedang menunaikan ibadah haji. Sedangkan Popo, juga mahasiswa asal Kalsel, berencana kembali ke Yogyakarta via Semarang. Mereka menuturkan kisah tragis berikut ini kepada Berita Indonesia.
Catatan waktu yang direkam Ananda, Senopati sudah empat jam meninggalkan Pelabuhan Pangkalan Bun, mengarungi laut ganas dan cuaca buruk. Hujan lebat membawa badai, laut mengamuk, ombak setinggi enam meter menghantam lambung kapal. KM Senopati pun oleng ke kiri dan ke kanan. Tengah malam, Popo dan pacarnya Liza yang tidur di kabin ABK, merasakan kapal berhenti mendadak. Gelap. Semua lampu kapal mati. Cuaca memburuk.
Nakhoda memberitahukan lewat loud speaker (pengeras suara) bahwa lambung kapal kemasukan air laut, para penumpang diminta tenang dan berdoa. Ananda juga merasakan kapal miring ke kiri sekitar 30 derajat. Mesin kapal mati, lambung bocor.
Hanya dalam hitungan menit, KM Senopati Nusantara tenggelam, ditelan laut ganas dan arus deras. KM Senopati Nusantara tenggelam di perairan Mandalika, sekitar 30 mil atau 48 kilometer dari pelabuhan Tanjung Mas, Semarang. Bangkai kapal bersama lebih dari 400 penumpang dan muatan puluhan truk, tronton dan alat berat, hilang tanpa bekas.
Menit-menit sebelum kapal itu tenggelam, Popo tak mendengar seruan dari nakhoda agar para penumpang keluar dari kamar, menyelamatkan diri dengan pelampung, perahu karet atau sekoci. Popo sendiri bersama pacarnya Liza terjebak dalam kamar, karena pintu tertutup lemari yang tergeser lantaran hantaman ombak. Popo akhirnya berhasil memecah kaca jendela kamar, berlari keluar. Sebelum melompat ke air, mereka masih mendengar pemberitahuan dari nakhoda agar para penumpang berpindah ke sisi kanan, karena kapal miring ke kiri. ABK membagi-bagikan pelampung pada detik-detik terakhir menjelang kapal itu tenggelam.
Di laut yang ganas, Popo memegang tangan Liza, terapung tanpa pelampung, menghadapi gulungan ombak yang datang silih berganti. Untung di dekat mereka muncul sebatang bambu, bertahan memegang bambu, terus mengapung sampai hari Minggu. Namun kondisi Liza terus melemah lantaran kelelahan, menahan lapar dan haus ber hari-hari. Akhirnya, Liza meninggal dalam genggaman Popo. Meskipun, dalam kondisi yang juga sangat lemah, Popo terus memegang tangan Liza yang sudah tidak bernyawa. Namun tatkala ombak besar datang, jenazah Liza terenggut dari tangannya, hilang ditelan gelombang.
“Saat itu saya sudah pasrah,” kata Popo kepada Berita Indonesia. Tetapi takdir berbicara lain. Tiba-tiba dia merasakan benturan dari jenazah korban lainnya. Jenazah itu mengenakan pelampung. Popo membuka pelampung dari jenazah tersebut dan dikenakan pada dirinya. Dia merasa sedikit terbantu oleh pelampung tersebut. Setidaknya, dia tidak lagi terlalu lelah agar tetap mengambang.
Namun Popo masih pasrah, merasa maut sudah menjemputnya. Sekadar menghibur diri, dia membayangkan kekasihnya masih hidup dan selamat, sudah dievakuasi dan dirawat di rumah sakit. Untuk melenyapkan rasa haus, ketika hujan turun dia menengadahkan kepala, membuka mulut, menangkap air hujan. Sedangkan rasa lapar diatasinya dengan menangkap kantong-kantong berisi makanan, meskipun sudah banyak yang tidak layak dimakan.
Popo kemudian masih sempat berjubel di atas perahu karet bersama korban-korban lain. Tetapi karena kelebihan penumpang, perahu itu pecah, mereka terjun ke laut. Hari Senin, mereka melihat sebuah pesawat melintas di atasnya. Tak lama kemudian, KRI Fatahillah mendekat dan menyelamatkan Popo bersama korban-korban lainnya. Lantas dia dibawa ke Surabaya, dirawat di RSAL Surabaya, sebelum pulang ke rumah kostnya di Yogyakarta.
Prahara Mandalika
Ananda yang biasa berlayar antara Kumai dan Tanjung Mas, merasa terbiasa dengan gelombang besar, olengan kapal ke kiri dan ke kanan, ke atas dan ke bawah mengikuti alunan gelombang. Namun kejadian yang dialami KM Senopati sangat berbeda. Lambung kapal sobek, air masuk ke ruang mesin. Mesin mati, lampu pun mati. Kapal miring ke kiri. Dalam prahara itu, menurut Ananda, para penumpang berteriak histeris, terus mengumandangkan, “Allahu Akbar” sampai kapal tenggelam, dan suara mereka tidak terdengar lagi karena ditelan deru ombak dan badai.
Ananda sempat melihat bahwa kapal itu memuat puluhan truk besar, termasuk tronton (truk peti kemas), dan alat-alat berat, seperti buldozer. Soal muatan ini juga dibenarkan oleh Popo. Ananda menduga lantaran kapal terguncang keras oleh olengan dan hantaman ombak, tali baja pengikat buldozer putus. Dan buldozer menghantam dinding kapal yang berdekatan dengan ruangan mesin. Dinding kapal robek, air laut masuk sampai ke dalam ruangan mesin. Mesin mati karena terendam air. Kapal pun mulai oleng ke kiri, akhirnya tenggelam.
Ketika prahara itu terjadi, bertiup badai menciptakan gelombang setinggi enam sampai tujuh meter. Gelombang itulah yang merobek, menerjang dan menelan KM Senopati. Ananda memang terbiasa dengan gelombang besar, tetapi prahara yang menenggelamkan KM Senopati dianggapnya sangat luar biasa. Pengalaman pahit yang sulit dia lupakan seumur hidupnya.
Ananda masih tidur ketika kapal mulai miring ke kiri. Seorang ABK yang membagikan pelampung, tidak sengaja menginjaknya, dia pun terbangun. Kemudian, dia memperoleh pembagian pelampung. Memang ada pemberitahuan lewat intercom, meminta agar para penumpang tidak panik. Banyak penumpang sengaja tidur dan mengurung diri dalam kamar menjelang prahara tersebut. Juga Popo mendengar bahwa sebagian besar penumpang masih terjebak di dalam kapal, karena pintu menuju kabin-kabin penumpang—kelas satu sampai tiga—dikunci oleh ABK. Semula tujuannya agar mereka tidak panik dan berhamburan keluar.
Rupanya, sebelum ABK sempat membuka kunci kamar, kapal keburu tenggelam.
Ananda menyelamatkan diri, berenang untuk mencapai sekoci yang sudah berpenumpang 18 orang. Mereka empat sekawan, punya tujuan sama, ke Semarang. Tetapi empat berteman itu hanya dua yang selamat, termasuk Ananda. Sekoci yang ditumpangi Ananda dan 18 penumpang lainnya, berlayar tanpa arah dari tengah malam (Jumat) sampai Sabtu sore. Sekoci tersebut hanya mengikuti arus gelombang. Mereka terombang-ambing di tengah gelombang selama 15 jam, tanpa makan dan minum.
Sekitar pukul 4.00 sore muncul sebuah kapal nelayan bermesin, tetapi tidak terlalu besar. Para awak kapal nelayan harus bersusah payah melawan ombak yang ganas agar bisa menolong mereka. Namun mereka akhirnya tertolong juga. Ombak belum juga bersahabat. Setelah 12 jam berlayar melawan ombak, kapal nelayan tersebut merapat di pelabuhan Rembang, Jawa Tengah, pada dinihari. RH,RI (Berita Indonesia 30)
| < Prev | Next > |
|---|



