| Article Index |
|---|
| Adam Muncul Dalam Serpihan |
| Drama Titanic di Senopati |
| Saatnya Membenahi Manajemen Transportasi |
| Bencana Transportasi : Menguji Kebijakan Dephub |
| All Pages |
Pencarian pesawat Adam Air berhari-hari yang menelan biaya miliaran rupiah hanya menghasilkan dugaan-dugaan yang sumir. Misteri itu terkuak secara kebetulan setelah ekor pesawat tersangkut di jaring seorang nelayan. Temuan itu telah memastikan nasib pesawat naas yang membawa 6 orang awak dan 96 penumpang.
Setelah mengamati hampir dua jam, pandangan Bakri terantuk pada sepotong benda putih abu-abu berpenampang hitam yang terjerat jaringnya. Ketika melihat benda itu, pria setengah baya ini tidak berpikir apa-apa. Tetapi Bakri memutuskan untuk membawanya pulang ke rumah dengan perasaan serba bingung.
Sesampainya di rumah, Bakri masih bingung, karena tidak tahu apakah logam tersebut bermanfaat jika disimpan. Lantas dia menyimpannya begitu saja di kolong rumah panggungnya. Memang Bakri pernah menonton siaran berita di televisi tentang sebuah pesawat yang hilang. Yang dia tahu, lokasi jatuhnya pesawat bukan di kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, tetapi di Polman, Sulawesi Barat. Dia pun jadi acuh tentang benda logam tersebut.
Kendati demikian, Bakri masih penasaran sampai Rabu pagi (10/1). Bakri bergegas untuk melihatnya lagi. Belum juga diketemukan jawaban. Antara bingung dan penasaran, Bakri mengambil keputusan untuk menyimpan benda itu di gudang. Lantas dia memanggil Abdillah, tetangga dekat rumah dan masih punya hubungan keluarga.
Bakri memperlihatkan benda logam tersebut kepada Abdillah. Lantaran masih bingung, Bakri malah meminta Abdillah menyimpannya. Ketika mereka berdiskusi, para tetangga pun berdatangan. Setelah mengamati secara seksama, mereka menduga logam itu bagian dari pesawat.
Lewat tengah hari Rabu, Abdillah menelepon Kepolisian Wilayah Pare-Pare. Lantas selepas magrib polisi datang menemui Bakri dan Abdillah di Desa Bojo II, Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru, kira-kira 148 kilometer sebelah utara Makassar, ibukota Propinsi Sulawesi Selatan. Semula Bakri dan Abdillah, menurut laporan koresponden Kompas (12/1), tidak mau menyerahkan benda tersebut. Soalnya, mereka ragu.
Sebelum diserahkan ke polisi, mereka sama sekali tidak menduga bahwa benda itu kunci pembuka misteri pesawat Boeing 737-400 (KI-574) milik Adam Air yang hilang sejak 1 Januari, dalam penerbangan dari Surabaya menuju Manado. Untuk penemuannya, Bakri dijanjikan bonus Rp 50 juta oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. Kalla merasa lega sebab penemu pertama puing tersebut orang Indonesia, tidak di tangan orang asing.
Padahal perburuan selama sepuluh hari dengan mengerahkan ribuan anggota Tim SAR, helikopter, kapal TNI-AL serta pakar-pakar dari Singapura dan Amerika Serikat, tidak menemukan apa-apa. Perburuan itu tentu menelan dana miliaran rupiah. Lokasi kecelakaan meleset dari perkiraan SAR yang menduga terjadi di tiga tempat: Rantepao, perairan Majene, dan Bolang Mangondow.
Penemuan tak terduga tersebut memicu penemuan serpihan-serpihan lain dari pesawat, seperti tail stabilizer (ekor pengemudi), kursi, meja makan lipat, pelampung, fiber bagasi kabin, suar, layar monitor, KTP atas nama Yahaman Sinaga dan ban pesawat. Pihak Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) menjelaskan dalam beberapa hari terakhir angin bertiup dari utara ke selatan dengan kecepatan 30-40 kilometer per jam. “Kecepatan sebesar itu sudah mampu mengubah lokasi barang yang terapung di permukaan laut,” kata Pahri, pakar riset cuaca BMG, seperti dikutip Koran Tempo (12/1).
Padahal tak lama setelah pesawat itu menghilang muncul pengakuan palsu. Informasi sehari setelah hilangnya pesawat tersebut (1/1), menyebutkan reruntuhan pesawat ditemukan di Desa Rangoan bersama 12 orang yang masih selamat dan 90 korban tewas. (Baca juga: Informasi Palsu dari Sumber Resmi).
Serangkaian penemuan serpihan pesawat Adam Air di perairan pantai Lojie, menimbulkan pelbagai dugaan. Pakar ilmu penerbangan ITB, Hisar Pasaribu, mengajukan beberapa kemungkinan; pertama, pesawat hancur ketika menukik atau dive. Hal ini bisa terjadi jika struktur pesawat tidak mampu menahan beban tekanan akibat kecepatan tukikan yang melewati ambang batas. Kedua, pesawat hancur ketika menghantam permukaan air. Tetapi Hisar tidak berani memastikan penyebab yang sesungguhnya. Katanya, semua dugaan itu bisa dipastikan setelah mendengar hasil rekaman kotak hitam (black box) pesawat.
Menurut Hisar penyebab kecelakaan pesawat Boeing 737 yang terhitung menonjol adalah macetnya rudder atau bidang kendali yang mengatur pesawat untuk membelok. Kemacetan pada rudder saat membelok bisa membuat pesawat terbang spiral dan menghunjam. SH (Berita Indonesia 30)
| < Prev | Next > |
|---|



